COP30 Dibuka di Belem: Seruan Persatuan Menggema di Tengah Absennya AS dan Krisis Iklim

Rabu, 12 November 2025 - 09:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto, Konferensi Iklim PBB (COP30) dibuka di Belem, Brasil, dengan seruan mendesak untuk bersatu melawan krisis iklim. PBB memperingatkan target 1.5C terancam, sementara AS absen dari KTT. Dok: EU Climate Action.

Foto, Konferensi Iklim PBB (COP30) dibuka di Belem, Brasil, dengan seruan mendesak untuk bersatu melawan krisis iklim. PBB memperingatkan target 1.5C terancam, sementara AS absen dari KTT. Dok: EU Climate Action.

BELEM, POSNEWS.CO.ID – Konferensi Iklim PBB ke-30 (COP30) resmi dibuka di Belem, Brasil, pada Senin (10/11/2025). Sekitar 50.000 delegasi dari lebih 190 negara berkumpul di tepi Hutan Amazon. Banyak pihak menganggap pertemuan ini krusial di tengah meningkatnya bencana iklim dan perpecahan geopolitik.

Para pemimpin PBB membuka KTT selama dua minggu ini. Lebih lanjut, mereka menyerukan persatuan global secara mendesak. “Pekerjaan Anda di sini bukan untuk saling bertarung. Pekerjaan Anda adalah untuk melawan krisis iklim ini, bersama-sama,” tegas Kepala Iklim PBB, Simon Stiell, dalam pidato pembukaannya.

Ancaman Gagalnya Target 1.5C

Data yang mengkhawatirkan mendasari seruan Stiell. Laporan Kesenjangan Emisi (Emissions Gap Report) 2025 terbaru dari PBB melukiskan gambaran suram.

Hingga September, kurang dari sepertiga negara anggota Perjanjian Paris yang telah menyerahkan target Kontribusi yang Ditentukan Secara Nasional (NDCs) terbaru mereka untuk 2035. Laporan tersebut memperkirakan sebuah skenario buruk. Bahkan jika semua negara memenuhi janji saat ini, pemanasan global abad ini akan mencapai antara 2,3 dan 2,5 derajat Celsius. Tentu saja, angka ini jauh melampaui batas aman 1,5C yang telah negara-negara sepakati di Paris satu dekade lalu.

“Perubahan iklim bukan lagi ancaman di masa depan. Ini adalah tragedi di masa kini,” kata Presiden Brasil, Luiz Inacio Lula da Silva. Negaranya kini menjadi tuan rumah KTT.

Baca Juga :  Polwan Polres Metro Bekasi Kota Gelar Bakti Religi Sambut HUT ke-77

Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyerukan agar para pihak “memilih untuk menjadikan Belem sebagai titik balik.” Ia berharap ini menjadi dekade aksi iklim yang dipercepat.

Absennya AS dan Sengketa Pendanaan

Absennya delegasi tingkat tinggi dari Amerika Serikat mewarnai KTT ini. Padahal, AS adalah negara dengan emisi gas rumah kaca historis terbesar di dunia. Seorang pejabat Gedung Putih mengonfirmasi bahwa AS tidak akan mengirim pejabat tinggi. Sikap ini sejalan dengan pemerintahan Donald Trump yang kembali menarik diri dari Perjanjian Paris.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Langkah ini menuai kritik tajam. Presiden Kolombia, Gustavo Petro, mengecam absennya AS. Namun, Todd Stern, mantan utusan khusus iklim AS, justru berkomentar sinis. “Baguslah mereka tidak mengirim siapa pun. Tidak akan konstruktif jika mereka datang,” ujarnya.

Presiden COP30, Andre Correa do Lago, melihat absennya AS dari sisi lain. Ia menilai hal ini “telah membuka ruang bagi dunia untuk melihat apa yang dilakukan negara-negara berkembang.”

Selain itu, masalah pendanaan iklim menjadi fokus utama. Guterres menekankan bahwa negara-negara maju harus memimpin. Mereka harus memobilisasi $300 miliar per tahun untuk membantu negara berkembang. Ini adalah bagian dari target $1,3 triliun per tahun pada 2035 yang telah mereka sepakati di COP29 Baku.

Baca Juga :  AS Umumkan Blokade Total Pelabuhan Iran Pasca-Kegagalan Dialog

Fokus pada Kerjasama Selatan-Selatan dan Suara Adat

Dengan absennya AS, fokus beralih ke kerja sama antar negara berkembang (South-South cooperation). Presiden Lula dari Brasil menguraikan tiga pilar aksi. Bahkan, ia mengusulkan pembentukan Dewan Iklim Global yang terkait dengan Majelis Umum PBB untuk meningkatkan akuntabilitas politik.

Brasil telah mengundang banyak negara untuk bergabung melindungi Hutan Amazon. Kontribusi China juga diharapkan menarik perhatian signifikan. Beijing telah menyerahkan NDC 2035 mereka. Hebatnya, untuk pertama kalinya, target ini mencakup semua gas rumah kaca di seluruh sektor ekonomi. Paviliun China untuk acara sampingan COP30 juga telah dibuka di Belem.

Di tengah diplomasi tingkat tinggi, para pemimpin masyarakat adat menuntut aksi nyata. “Kami ingin memastikan bahwa mereka tidak terus berjanji, tetapi mereka akan mulai melindungi,” kata Pablo Inuma Flores, seorang pemimpin adat dari Peru. “Karena kami sebagai masyarakat adat adalah yang paling menderita akibat dampak perubahan iklim ini.”

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Hujan Deras Bikin 12 RT di Petogogan Jakarta Selatan Terendam Banjir
Pria di Karawang Tewas di Atas Motor, Polisi Selidiki Dugaan Benang Layangan
LPG Subsidi Disuntik ke Tabung Non Subsidi, Negara Nyaris Rugi Rp6,7 Miliar
Protes Hari Buruh Filipina 2026: Ribuan Massa Kecam Krisis Energi
Penembakan Tokoh Suku Picu Kontak Senjata Berdarah, 3 Tewas
Mojtaba Khamenei Dinyatakan Sehat Walafiat
Serangan Drone Israel Tewaskan Warga di Tengah Rencana Negosiasi Trump
101 Orang Dipulangkan, Polisi Kejar Aktor Intelektual Aksi Anarkis

Berita Terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 20:31 WIB

Hujan Deras Bikin 12 RT di Petogogan Jakarta Selatan Terendam Banjir

Sabtu, 2 Mei 2026 - 18:33 WIB

Pria di Karawang Tewas di Atas Motor, Polisi Selidiki Dugaan Benang Layangan

Sabtu, 2 Mei 2026 - 18:18 WIB

LPG Subsidi Disuntik ke Tabung Non Subsidi, Negara Nyaris Rugi Rp6,7 Miliar

Sabtu, 2 Mei 2026 - 17:13 WIB

Protes Hari Buruh Filipina 2026: Ribuan Massa Kecam Krisis Energi

Sabtu, 2 Mei 2026 - 15:07 WIB

Penembakan Tokoh Suku Picu Kontak Senjata Berdarah, 3 Tewas

Berita Terbaru

Ilustrasi, Eskalasi kekerasan di perbatasan. Pembunuhan seorang tetua suku yang anti-militan memicu baku tembak sengit antara komite perdamaian lokal dan kelompok bersenjata di wilayah Khyber Pakhtunkhwa, Pakistan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Penembakan Tokoh Suku Picu Kontak Senjata Berdarah, 3 Tewas

Sabtu, 2 Mei 2026 - 15:07 WIB