NEW YORK, POSNEWS.CO.ID – Ketegangan di Laut Karibia kini merambat ke markas besar diplomasi dunia. Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengonfirmasi akan menggelar rapat darurat pada Selasa (23/12/2025) pukul 3 sore waktu setempat.
Pertemuan ini terjadi atas desakan keras Venezuela. Pasalnya, Caracas menolak mentah-mentah blokade maritim yang Amerika Serikat (AS) terapkan terhadap pengiriman minyak mereka.
Juru bicara Misi Slovenia untuk PBB, Laura Miklic, membenarkan jadwal tersebut. Dalam surat resminya, Venezuela meminta Dewan Keamanan untuk segera membahas apa yang mereka sebut sebagai “agresi AS terhadap Venezuela”.
Mereka mendesak badan dunia itu mengambil langkah nyata untuk menegakkan hukum internasional. Menurut Caracas, tindakan Presiden Donald Trump telah melanggar kedaulatan nasional, integritas wilayah, dan kemerdekaan politik Venezuela.
Tuduhan “Pembajakan Kasar”
Kementerian Pertahanan Venezuela merespons perintah Trump dengan bahasa yang sangat tajam. Mereka melabeli tindakan dan ucapan Trump sebagai “pembajakan kasar” (crude piracy).
Sebelumnya, Trump pada hari Rabu mengumumkan blokade total terhadap “kapal minyak bersanksi”. Ia menuduh pemerintahan Nicolas Maduro menggunakan pendapatan minyak untuk membiayai “terorisme narkoba”, perdagangan manusia, hingga pembunuhan.
Bahkan, Trump mengklaim bahwa Venezuela telah mengambil minyak “milik Amerika Serikat”. Klaim ini langsung ditepis oleh Caracas sebagai tuduhan tak berdasar.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Narasi kampanye melawan ‘terorisme narkoba’ adalah palsu,” tegas pernyataan Kementerian Pertahanan. Tujuan sebenarnya, menurut mereka, adalah pergantian rezim dan penyitaan sumber daya alam Venezuela secara paksa.
Moskow Beri Peringatan Keras
Eskalasi ini memancing reaksi dari sekutu Venezuela. Kementerian Luar Negeri Rusia mengeluarkan peringatan serius kepada Washington pada Kamis.
Moskow mendesak pemerintahan Trump untuk menghindari “kesalahan fatal”. Imbasnya, tindakan gegabah AS bisa memicu konsekuensi yang tidak terduga bagi seluruh Belahan Barat.
Rusia menegaskan dukungan penuhnya terhadap upaya pemerintahan Maduro dalam membela kepentingan nasional. Tegasnya, Amerika Latin dan Karibia harus tetap menjadi zona damai, bukan medan perang proksi baru.
Militer AS di Depan Pintu
Situasi di lapangan memang semakin mencekam. AS telah memperluas pengerahan militernya di Karibia dengan dalih memerangi narkoba. Faktanya, pesawat militer AS rutin melakukan penerbangan provokatif di dekat pantai Venezuela.
Serangan terhadap kapal-kapal yang dituduh membawa narkoba telah menewaskan lebih dari 90 orang. Puncaknya, pekan lalu AS menyita sebuah tanker minyak yang berangkat dari Venezuela dan menjatuhkan sanksi pada beberapa kapal lainnya.
Kini, mata dunia tertuju pada pertemuan hari Selasa nanti. Apakah PBB mampu meredam ambisi Washington, atau justru menjadi panggung debat kusir yang tak berujung sementara tensi perang terus meninggi?
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















