Kebijakan Satu Anak China dan 60 Juta Pria yang Kesepian

Selasa, 20 Januari 2026 - 07:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Diplomasi lintas selat. Pemerintah China memaparkan manfaat budaya dan ekonomi dari penyatuan kembali secara damai, sembari memperingatkan Amerika Serikat untuk menghentikan dukungan militer bagi pasukan separatis di Taiwan. Dok: Istimewa.

Diplomasi lintas selat. Pemerintah China memaparkan manfaat budaya dan ekonomi dari penyatuan kembali secara damai, sembari memperingatkan Amerika Serikat untuk menghentikan dukungan militer bagi pasukan separatis di Taiwan. Dok: Istimewa.

BEIJING, POSNEWS.CO.ID – Pada tahun 1979, pemerintah China melakukan langkah radikal yang belum pernah negara lain coba sebelumnya. Melalui kekuatan hukum, mereka membatasi setiap pasangan untuk hanya memiliki satu anak.

Kebijakan ini, yang terkenal sebagai “Kebijakan Satu Anak”, memicu kontroversi global selama puluhan tahun. Namun, Partai Komunis China mengklaim langkah drastis ini telah menyelamatkan negara dari kehancuran demografis. Menurut data pemerintah, kebijakan ini berhasil mencegah 400 juta kelahiran, menjadikan populasi China lebih berkelanjutan.

Kontrasnya terlihat jelas jika kita membandingkannya dengan negara berkembang lain seperti India dan Nigeria. Tanpa penegakan kebijakan nasional yang ketat, negara-negara tersebut terus berjuang menghadapi ledakan populasi yang membebani sumber daya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Secara statistik, China tampak sukses. Mereka berhasil meredam dampak lingkungan negatif dari industrialisasi yang pesat. Namun, aktivis hak asasi manusia mengajukan pertanyaan fundamental: Bolehkah pemerintah mengontrol ukuran keluarga, ataukah itu pelanggaran berat terhadap kebebasan individu?

Tragedi di Pedesaan: “Anak Perempuan Pembawa Sial”

Di balik grafik statistik yang rapi, tersimpan realitas pedesaan yang kelam. Di desa-desa miskin China, petani secara tradisional mengandalkan banyak anak untuk membantu pekerjaan ladang yang berat.

Baca Juga :  Uang Rp60–70 Miliar Jadi Motif Pembunuhan Kacab Bank BRI Mohamad Ilham Pradipta

Bagi mereka, anak perempuan sering kali dianggap sebagai “nasib buruk” karena keterbatasan fisik dalam kerja manual.

Pola pikir ini, dikombinasikan dengan tekanan kebijakan satu anak, memicu tragedi kemanusiaan. Kasus infantisida (pembunuhan bayi) perempuan meningkat pesat pada tahun 1980-an. Pasangan putus asa memilih melenyapkan bayi perempuan demi kesempatan mencoba lagi mendapatkan anak laki-laki.

Pemerintah merespons krisis ini dengan sedikit melonggarkan aturan. Mereka mengizinkan pasangan memiliki anak kedua jika anak pertama adalah perempuan. Namun, penegakan hukum di lapangan sering kali brutal. Dalam kasus ekstrem, aparat memaksa wanita hamil yang sudah memiliki satu anak untuk melakukan aborsi.

Krisis 60 Juta Pria

Dampak jangka panjang dari preferensi gender ini kini menghantui China. Statistik menunjukkan ketimpangan yang mengkhawatirkan: jumlah pria di China saat ini diperkirakan 60 juta lebih banyak daripada wanita.

Ketidakseimbangan ini hampir pasti merupakan akibat tidak langsung dari kebijakan satu anak dan aborsi selektif jenis kelamin—praktik yang baru pemerintah larang secara resmi pada 2005.

Namun, ada teori lain yang sedikit memberi harapan. Beberapa pengamat menduga ada jutaan wanita “hantu” di China yang tidak terdaftar secara resmi. Orang tua mereka mungkin menyembunyikan kelahiran mereka dari pemerintah daerah karena takut denda atau penyitaan anak.

Dilema Lingkungan: Anak AS vs Anak Bangladesh

Sementara China bergelut dengan demografi, Barat menghadapi fenomena berbeda. Semakin banyak orang dewasa di negara maju memilih untuk tidak memiliki anak (“child-free”) semata-mata karena alasan lingkungan.

Baca Juga :  FIFA Hukum FAM dan 7 Pemain Naturalisasi Malaysia, Kena Denda Rp7,3 Miliar

Riset statistik dari Oregon State University di Amerika Serikat memberikan perspektif mengejutkan. Karena jejak karbon rata-rata orang Amerika sangat besar, memiliki satu anak di AS dapat meningkatkan output karbon jangka panjang seseorang hingga 20 kali lipat.

Untuk menempatkan ini dalam konteks: polusi jangka panjang yang dihasilkan oleh satu anak yang lahir di AS bisa mencapai 160 kali lebih tinggi daripada anak yang lahir di Bangladesh.

Akhir Sebuah Era

Pada 2015, China akhirnya melonggarkan aturan menjadi “Kebijakan Dua Anak”. Salah satu alasannya adalah karena kebijakan lama sebenarnya sudah mulai usang. Generasi yang lahir di bawah aturan satu anak diizinkan memiliki dua anak jika pasangannya juga anak tunggal.

Kini, seiring dengan pesatnya perkembangan ekonomi China, gaya hidup masyarakat pun berubah. Kekayaan pribadi dan stabilitas finansial yang meningkat membawa filosofi baru.

Seperti halnya di AS, warga China kini memiliki kemewahan untuk memilih. Ironisnya, setelah puluhan tahun dilarang punya banyak anak, kini banyak pasangan muda China yang justru memilih untuk tidak memiliki anak sama sekali demi alasan karier atau lingkungan, memicu kekhawatiran baru bagi otoritas tentang populasi yang menua.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Los Angeles Dodgers Amankan Tiket Postseason MLB
Serangan Terhadap Pipa Minyak Arab Saudi dan Kapal Teluk
Kanada Jajaki Status Anggota Asosiasi Uni Eropa
Presiden Xi Jinping Dorong Blok BRICS Jadi Juru Damai Konflik
Hakim Federal Batalkan Rencana Pemangkasan Staf FEMA 50%
Peluncuran Konsol Retro NEOGEO AES+ Ditunda
Iran Ancam Balas Setiap Serangan Baru AS terhadap Asetnya
Ekstremisme Nihilistik Online Ancam Keamanan Eropa

Berita Terkait

Selasa, 15 September 2026 - 15:24 WIB

Los Angeles Dodgers Amankan Tiket Postseason MLB

Selasa, 15 September 2026 - 07:24 WIB

Serangan Terhadap Pipa Minyak Arab Saudi dan Kapal Teluk

Selasa, 15 September 2026 - 06:19 WIB

Kanada Jajaki Status Anggota Asosiasi Uni Eropa

Minggu, 13 September 2026 - 20:57 WIB

Presiden Xi Jinping Dorong Blok BRICS Jadi Juru Damai Konflik

Minggu, 13 September 2026 - 19:56 WIB

Hakim Federal Batalkan Rencana Pemangkasan Staf FEMA 50%

Berita Terbaru

Tomokazu dan Miwa Harimoto bersiap membela Jepang di Asian Games Nagoya. Simak profil kakak beradik tenis meja. Dok: Istimewa.

SPORT

Tomokazu dan Miwa Harimoto Bintang Tenis Meja

Rabu, 16 Sep 2026 - 06:28 WIB

Ilustrasi, prakiraan cuaca Jabodetabek BMKG 16 September 2026. (Posnews/Net)

JABODETABEK

Cuaca Jabodetabek Rabu 16 September 2026, Bogor Berpotensi Hujan

Rabu, 16 Sep 2026 - 05:56 WIB

Gedung Merah Putih KPK di Jakarta. (Posnews/Ist)

NASIONAL

OTT KPK BPN Bogor: Bos Summarecon dan 7 Orang Jadi Tersangka

Selasa, 15 Sep 2026 - 19:16 WIB