ROMA, POSNEWS.CO.ID – Saat mendengar kata “bajak laut”, pikiran kita pasti langsung melayang ke Kapten Jack Sparrow atau Blackbeard di Laut Karibia. Kapal layar tinggi dan bendera tengkorak menjadi imajinasi standar.
Namun, ribuan tahun sebelum para perompak Karibia menyebar teror, Laut Mediterania sudah menjadi sarang penyamun yang ganas. Dari milenium pertama hingga ketiga Sebelum Masehi (SM), bajak laut kuno merajarela.
Mereka menyerang kapal dagang dan mengancam jalur perdagangan vital. Meskipun kerajaan-kerajaan kuno telah berusaha keras, pembajakan terus berlanjut tanpa henti selama ribuan tahun.
Barulah ketika bajak laut mengusik kepentingan Republik Romawi, sejarah berubah. Di bawah komando Jenderal Pompey, Roma melancarkan operasi pembersihan total yang legendaris.
Geografi yang Menguntungkan Penjahat
Jejak bajak laut pertama kali tercatat di Mesir Kuno pada masa Firaun Amenhotep III (1390–1353 SM). Akan tetapi, para ahli meyakini praktik ini sudah ada jauh sebelumnya.
Geografi Mediterania memainkan peran kunci. Wilayah ini subur, tetapi memiliki garis pantai yang berbukit dan penuh teluk tersembunyi. Penduduk pesisir sangat bergantung pada laut dan memiliki keahlian navigasi yang mumpuni.
Sayangnya, keahlian itu sering mereka gunakan untuk kejahatan saat masa sulit tiba. Teluk-teluk kecil menjadi tempat persembunyian sempurna untuk menyergap kapal dagang yang lambat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Terlebih lagi, kapal kuno belum sanggup menyeberangi laut lepas. Mereka harus berlayar menyusuri pantai. Akibatnya, kapal dagang mudah terjebak di rute yang sudah bajak laut hafal di luar kepala.
Surat Firaun dan Pujian Homer
Firaun Akhenaten pernah mengeluhkan gangguan bajak laut dalam “Surat Amarna”. Ia menyebut dua kelompok perompak, Lukka dan Sherden, yang mengacaukan perdagangan regional meskipun armada Mesir sudah berusaha menghalau.
Berbeda dengan Mesir, bangsa Yunani Kuno justru memiliki pandangan yang lebih lunak. Penulis legendaris Homer bahkan memuji gaya hidup bajak laut dalam karya Iliad dan Odyssey.
Bagi orang Yunani, pembajakan adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Bahkan, pejabat tinggi negara pun tak segan terlibat. Contohnya, pada 355 SM, duta besar Athena membajak kapal dagang dari Mesir untuk memperkaya diri sendiri saat perjalanan dinas!
Pedang Bermata Dua bagi Roma
Bangkitnya kekuatan Roma mengubah dinamika. Awalnya, Roma justru diuntungkan oleh keberadaan bajak laut. Perompak menyediakan pasokan budak yang stabil untuk pertanian dan tambang Romawi.
Namun, toleransi itu menjadi bumerang. Bajak laut yang semakin berani mulai menyerang kapal gandum vital bagi warga Roma. Puncaknya, mereka menculik tokoh penting Romawi dan meminta tebusan besar.
Korban penculikan paling terkenal adalah Julius Caesar muda pada tahun 75 SM. Peristiwa ini menjadi tamparan keras bagi harga diri Republik.
Operasi Militer Pompey
Roma akhirnya sadar bahwa bajak laut sudah tidak berguna lagi. Pada 67 SM, undang-undang baru memberikan dana dan wewenang besar kepada Jenderal Pompey untuk membasmi ancaman ini.
Strategi Pompey sangat brilian. Ia membagi Mediterania menjadi 13 distrik militer. Lantas, ia menyapu bersih setiap distrik satu per satu dengan armada tempurnya.
Ribuan bajak laut tewas. Namun, Pompey juga menawarkan solusi jangka panjang yang cerdas. Ia memberikan tanah pertanian yang subur di pedalaman kepada bajak laut yang menyerah.
Hasilnya, mantan penjahat laut berubah menjadi petani produktif. Laut Mediterania pun akhirnya aman dan mendapat julukan Mare Nostrum atau “Laut Kami” oleh bangsa Romawi.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















