Tolak Pengusiran Paksa: 8 Negara Muslim Kecam Rencana Israel Buka Rafah Satu Arah

Sabtu, 6 Desember 2025 - 09:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Reruntuhan kota Rafah setelah dibombardir oleh tentara Israel. Dok: Istimewa.

Reruntuhan kota Rafah setelah dibombardir oleh tentara Israel. Dok: Istimewa.

KAIRO, POSNEWS.CO.ID – Rencana kontroversial Israel mengenai perbatasan Rafah memicu reaksi keras dari dunia Islam. Menteri Luar Negeri dari delapan negara Arab dan Muslim mengeluarkan pernyataan bersama yang tegas pada Jumat (05/12/2025).

Negara-negara tersebut meliputi Uni Emirat Arab, Mesir, Yordania, Indonesia, Pakistan, Turki, Arab Saudi, dan Qatar. Intinya, mereka menolak segala bentuk upaya pemindahan paksa penduduk Gaza ke wilayah Mesir.

Kecaman ini muncul sebagai respons atas pernyataan Israel pada Rabu lalu. Saat itu, Israel mengumumkan akan membuka kembali penyeberangan Rafah dalam beberapa hari mendatang. Namun, mereka menetapkan syarat berat: perbatasan hanya beroperasi satu arah untuk warga yang ingin pergi, bukan untuk kembali.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Desak Patuhi Rencana Donald Trump

Para menteri tersebut menyerukan kepatuhan penuh terhadap rencana perdamaian yang diusulkan Presiden AS Donald Trump. Menurut mereka, rencana tersebut mewajibkan Rafah tetap terbuka di kedua arah.

Baca Juga :  Proteksionisme Baru: Mengapa Negara Maju Mulai Meninggalkan Narasi Perdagangan Bebas?

“Kebebasan bergerak bagi penduduk Gaza harus terjamin,” tegas pernyataan bersama tersebut.

Rencana itu bertujuan agar warga Palestina dapat tetap tinggal di tanah mereka sendiri. Selain itu, mereka harus memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dalam membangun kembali tanah air pasca-perang.

Oleh karena itu, membuka jalan keluar tanpa jalan masuk dianggap sebagai strategi pengosongan wilayah yang sistematis. Mesir sendiri telah membantah adanya koordinasi dengan Israel terkait pembukaan satu arah tersebut.

Stabilitas dan Peran Otoritas Palestina

Pernyataan itu juga menyoroti pentingnya menjaga gencatan senjata yang rapuh. Para menteri mendesak peluncuran upaya pemulihan dini dan rekonstruksi Gaza tanpa hambatan.

“Akses kemanusiaan tidak boleh dibatasi demi meringankan penderitaan sipil,” tambah mereka.

Baca Juga :  Iran Jawab Tantangan AS: Siagakan 1.000 Drone Strategis

Lebih jauh, blok negara Muslim ini menekankan perlunya menciptakan kondisi yang kondusif bagi Otoritas Palestina. Mereka ingin otoritas tersebut kembali memegang kendali tanggung jawab di Gaza. Langkah ini dinilai sebagai kunci untuk membuka jalan bagi keamanan dan stabilitas jangka panjang di kawasan tersebut.

Rafah: Nadi Kehidupan yang Terputus

Penyeberangan Rafah telah menjadi titik mati sejak Mei 2024. Kala itu, pasukan Israel mengambil alih kendali sisi Palestina dari perbatasan tersebut.

Padahal, sebelum penutupan, Rafah adalah pintu keluar utama bagi warga Palestina dan gerbang masuk vital bagi bantuan kemanusiaan. Penutupan berkepanjangan ini telah memperparah krisis kemanusiaan di dalam kantong wilayah yang terkepung itu.

Kini, tekanan diplomatik semakin kuat. Negara-negara Muslim bersatu menuntut Israel agar tidak menggunakan perbatasan sebagai alat demografi politik untuk mengusir penduduk asli Gaza.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Samurai Blue Tahan Imbang Belanda di Piala Dunia
Israel Gempur Lebanon Selatan di Tengah Isyarat Damai
Donald Trump dan Emmanuel Macron Pererat Aliansi
Wabah Ebola Kongo Kian Mengkhawatirkan
Israel Bersiap Hadapi Pemilihan Umum Sela
Presiden Mongolia Ukhnaa Khurelsukh Sambut Menlu Tiongkok
Raksasa Teknologi Dunia Serap Mineral Milisi M23
Militer Amerika Serikat Tembak Mati Gembong Kriminal

Berita Terkait

Senin, 15 Juni 2026 - 08:35 WIB

Samurai Blue Tahan Imbang Belanda di Piala Dunia

Minggu, 14 Juni 2026 - 17:21 WIB

Israel Gempur Lebanon Selatan di Tengah Isyarat Damai

Minggu, 14 Juni 2026 - 16:14 WIB

Donald Trump dan Emmanuel Macron Pererat Aliansi

Minggu, 14 Juni 2026 - 14:03 WIB

Wabah Ebola Kongo Kian Mengkhawatirkan

Minggu, 14 Juni 2026 - 12:56 WIB

Israel Bersiap Hadapi Pemilihan Umum Sela

Berita Terbaru