JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Di alam liar, terlihat berarti mati. Oleh karena itu, mayoritas spesies menggunakan kamuflase sebagai perisai hidup mereka. Jika penyamaran mereka meyakinkan, mereka selamat untuk mewariskan gen ke generasi berikutnya.
Setelah ribuan generasi seleksi alam, hewan mengembangkan teknik yang sangat kompleks. Mereka memanipulasi bentuk, warna, dan gerakan tubuh.
Profesor Mark Elgar dari Universitas Melbourne menjelaskan prinsip dasarnya. “Prinsip kamuflase adalah membuat predator merasa tidak untung secara ekonomi untuk mengejar mangsa tertentu,” ujarnya. Pasalnya, kamuflase meningkatkan waktu pencarian, sehingga predator memilih target lain yang lebih mudah terlihat.
Menghilang di Depan Mata
Cara termudah adalah menjadi tidak terlihat. Serangga tongkat dan daun telah berevolusi menjadi ahli dalam hal ini.
Banyak dari mereka memiliki tekstur seperti ranting kering atau daun hidup, lengkap dengan urat daunnya. Bahkan, beberapa serangga mengembangkan noda yang menyerupai bintik penyakit pada tanaman.
Namun, penampilan saja tidak cukup. Perilaku juga memegang peran kunci. Serangga ini akan diam mematung sepanjang hari atau bergoyang pelan mengikuti hembusan angin layaknya daun mati.
Fotografer satwa liar Paul Zborowski memuji serangga gurun Australia Tengah sebagai juara kamuflase. “Sebagian besar dari mereka berperilaku seperti batu dan tidak bergerak sepanjang hari,” ungkapnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Belajar Menjadi Latar Belakang
Burung Tawny Frogmouth memberikan contoh lain tentang pentingnya perilaku. Anak burung ini secara refleks bisa berpose mematung sejak minggu pertama. Akan tetapi, kemampuan memilih latar belakang yang cocok dengan warna bulu mereka baru berkembang setelah 4-6 bulan.
Oleh sebab itu, induk burung sering kali harus memberi sinyal kepada anak-anaknya yang masih ceroboh agar pindah ke lokasi yang lebih aman dan tersembunyi.
Sotong yang Adaptif dan Ikan Penipu
Bagi hewan di lingkungan yang dinamis, kamuflase statis tidaklah cukup. Maka, hewan seperti sotong (cuttlefish) berevolusi menjadi ahli penyamaran adaptif.
Mereka menggunakan sel dan otot khusus untuk mengubah warna, pola, dan tekstur kulit secara instan. Dengan begitu, mereka bisa menyatu sempurna dengan lingkungan sekitar yang berubah-ubah.
Di sisi lain, ikan bluestriped fangblenny menggunakan perubahan warna untuk tujuan licik. Ikan ini meniru warna ikan lain agar bisa berenang bersama mereka.
Penyamaran terbaiknya adalah saat meniru ikan pembersih (cleaner wrasse). Lantas, ia bisa mendekati ikan besar tanpa dicurigai, lalu menggigit mangsanya yang lengah sebelum kabur kembali ke tempat aman.
Mimikri Batesian: Serigala Berbulu Domba?
Bentuk penyamaran yang paling terkenal adalah Mimikri Batesian. Teknik ini dinamai menurut naturalis Henry Bates yang menelitinya pada kupu-kupu Amazon abad ke-19.
Konsepnya sederhana: hewan yang tidak berbahaya meniru penampilan organisme yang berbahaya atau beracun. Contohnya, belut ular harlequin yang tidak berbahaya memiliki pola belang hitam-putih yang persis dengan ular laut krait yang sangat berbisa.
Akibatnya, predator enggan menyerang karena takut keracunan. Namun, strategi ini hanya efektif jika jumlah peniru lebih sedikit daripada yang asli. Jika terlalu banyak peniru yang enak dimakan, predator akan belajar bahwa pola tersebut ternyata aman untuk dimangsa.
Trik Ekor Berisik
Trik lain datang dari ulat ngengat hawk moth. Ia memiliki tanda di perut yang menyerupai mata ular. Saat terancam, ulat ini menarik kepalanya dan memamerkan “mata palsu” tersebut untuk mengagetkan musuh.
Di Queensland, cicak chameleon gecko punya strategi yang lebih dramatis. Jika diserang, ia akan memutuskan ekornya. Uniknya, tulang ekor yang putus itu akan saling bergesekan dan mengeluarkan suara mencicit.
Predator pun teralihkan oleh ekor yang berisik dan bergerak-gerak itu. Seketika, sang cicak kabur menyelamatkan diri.
Pada akhirnya, alam adalah panggung ilusi raksasa. Hanya ilusionis terbaik yang mampu bertahan hidup untuk menceritakan kisah sukses tipu daya mereka.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















