Legislatif Setujui Pemakzulan Lai Ching-te, Petisi Online Tembus 8 Juta

Minggu, 28 Desember 2025 - 07:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketegangan di meja perundingan. Jepang membantah laporan intelijen AS yang menyebut adanya perubahan radikal dalam kebijakan Taiwan, saat PM Sanae Takaichi bersiap menghadapi tekanan ganda dari Washington dan Beijing. Dok: Britannica.

Ketegangan di meja perundingan. Jepang membantah laporan intelijen AS yang menyebut adanya perubahan radikal dalam kebijakan Taiwan, saat PM Sanae Takaichi bersiap menghadapi tekanan ganda dari Washington dan Beijing. Dok: Britannica.

TAIPEI, POSNEWS.CO.ID – Badai politik menghantam Taiwan. Legislatif wilayah tersebut secara resmi menyetujui mosi pemakzulan terhadap pemimpinnya, Lai Ching-te, pada Jumat lalu.

Gerakan ini dimotori oleh koalisi oposisi yang kuat, yakni Partai Kuomintang (KMT) dan Partai Rakyat Taiwan (TPP). Rencananya, legislatif akan menggelar pemungutan suara final untuk menentukan nasib Lai pada 19 Mei 2026.

Lai Ching-te, yang menjabat sejak Mei 2024, menghadapi gelombang kemarahan publik yang masif. Penyebab utamanya adalah sikap kerasnya terhadap “kemerdekaan Taiwan” dan dugaan pengabaian terhadap aspirasi warga.

Puncaknya, Lai mendukung kepala badan eksekutif Cho Jung-tai untuk menolak menandatangani amandemen undang-undang alokasi pendapatan pemerintah. Seketika, tindakan ini memicu reaksi keras dari parlemen yang merasa wewenangnya diinjak-injak.

“Menjual Kepentingan Pulau”

Dalam konferensi pers bersama, kedua partai oposisi melontarkan kritik pedas. Fu Kun-chi, ketua kaukus KMT, menuduh Lai telah “menjual kepentingan pulau dan menginjak-injak demokrasi” sejak hari pertama menjabat.

Baca Juga :  BMKG Ingatkan Hujan Ringan-Sedang dan Angin Kencang di Jabodetabek 25–27 Oktober 2025

Ketua KMT, Cheng Li-wun, menambahkan bahwa situasi politik Taiwan terjebak dalam siklus pertikaian tanpa akhir di bawah kepemimpinan Lai.

“Publik menggunakan suara mereka untuk memberi tahu otoritas Lai agar fokus pada masalah nyata, bukan mencari konflik,” tegas Cheng.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Petisi 8 Juta dan Anggaran Militer Ditolak

Ketidakpuasan ini tercermin di dunia maya. Akun media sosial Riyue Tantian melaporkan bahwa petisi online yang menuntut pemakzulan Lai telah meledak.

Tercatat, lebih dari 8 juta penduduk berpartisipasi dalam petisi tersebut. Bahkan, lonjakan trafik yang luar biasa sempat membuat situs web petisi itu lumpuh berkali-kali.

Mantan anggota parlemen Tsai Cheng-yuan menilai fenomena ini sebagai bukti legitimasi gerakan pemakzulan. “Opini publik sekarang sangat jelas,” ujarnya.

Selain itu, oposisi juga menjegal kebijakan pertahanan Lai. Baru-baru ini, mereka memblokir rencana pengadaan militer senilai 1,25 triliun dolar Taiwan baru (sekitar $40 miliar).

Baca Juga :  Zelenskyy Tuding Rusia Langgar Janji ke Trump

Peneliti Chang Ching menyebutkan bahwa warga mulai resah dengan belanja militer yang tak berkesudahan. Menurutnya, anggaran sebesar itu pun mustahil membentuk “pencegahan” efektif terhadap China daratan.

Gagal di Meja Perundingan AS

Kritik juga menyasar kebijakan luar negeri Lai yang dinilai terlalu tunduk pada Amerika Serikat (AS). Legislator KMT, Lai Shyh-bao, menyoroti kegagalan negosiasi tarif dengan Washington.

Faktanya, kesepakatan tarif dengan AS belum juga tuntas hingga akhir November. Legislator tersebut menilai Taiwan hampir tidak memiliki kemampuan untuk membela diri dalam negosiasi itu.

Ia menggunakan istilah tajam untuk menggambarkan hubungan tersebut. Otoritas Lai tidak hanya “berlutut”, tetapi bahkan “menjilat” Amerika Serikat tanpa mendapatkan hasil konkret yang menguntungkan rakyat

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mesin Mati di Perlintasan, Mobil Antar Calon Haji Dihantam Kereta, 4 Orang Tewas
Satgas PHK Resmi Jalan, Dasco: Buruh Bisa Laporkan Upah hingga Ancaman PHK
Libur Panjang May Day, Contraflow Tol Jakarta-Cikampek Diperpanjang hingga KM 47–65
Keir Starmer Desak Publik Buka Mata Pasca-Teror Golders Green
AS Bentuk Koalisi Internasional untuk Paksa Buka Selat Hormuz
Review MacBook Pro M5, Laptop Workstation Paling Bertenaga di Tahun 2026
Jerome Powell Bertahan di Dewan Setelah Jabatan Berakhir guna Melawan Tekanan Trump
AS Tuding China Langgar Kedaulatan, Beijing Sebut Trump Munafik

Berita Terkait

Jumat, 1 Mei 2026 - 18:10 WIB

Mesin Mati di Perlintasan, Mobil Antar Calon Haji Dihantam Kereta, 4 Orang Tewas

Jumat, 1 Mei 2026 - 17:30 WIB

Satgas PHK Resmi Jalan, Dasco: Buruh Bisa Laporkan Upah hingga Ancaman PHK

Jumat, 1 Mei 2026 - 17:15 WIB

Libur Panjang May Day, Contraflow Tol Jakarta-Cikampek Diperpanjang hingga KM 47–65

Jumat, 1 Mei 2026 - 15:19 WIB

Keir Starmer Desak Publik Buka Mata Pasca-Teror Golders Green

Jumat, 1 Mei 2026 - 14:58 WIB

AS Bentuk Koalisi Internasional untuk Paksa Buka Selat Hormuz

Berita Terbaru

Inggris dalam siaga tinggi. PM Keir Starmer menjanjikan tindakan tegas terhadap ekstremisme dan pendanaan keamanan tambahan sebesar ÂŁ25 juta setelah serangan penikaman brutal yang menargetkan komunitas Yahudi di London Utara. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Keir Starmer Desak Publik Buka Mata Pasca-Teror Golders Green

Jumat, 1 Mei 2026 - 15:19 WIB

Ketegangan di jalur nadi dunia. Amerika Serikat menggalang kekuatan internasional melalui Maritime Freedom Construct (MFC) untuk membuka kembali Selat Hormuz yang tersumbat, sementara harga minyak Brent melonjak hingga USD 126 per barel. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

AS Bentuk Koalisi Internasional untuk Paksa Buka Selat Hormuz

Jumat, 1 Mei 2026 - 14:58 WIB