Israel Bersiap Hadapi Pemilihan Umum Sela

Minggu, 14 Juni 2026 - 12:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Peta baru politik Israel. Badai perang regional dan sengketa wajib militer kaum ultra-Ortodoks memicu pembubaran parlemen serta mempercepat realisasi pemilu sela. Dok: Istimewa.

Peta baru politik Israel. Badai perang regional dan sengketa wajib militer kaum ultra-Ortodoks memicu pembubaran parlemen serta mempercepat realisasi pemilu sela. Dok: Istimewa.

TEL AVIV, POSNEWS.CO.ID – Perang regional yang berkobar kembali sejak tanggal dua puluh delapan Februari kini terus mengubah lanskap politik Israel. Meskipun begitu, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sukses mempertahankan citra kuat sebagai pemimpin masa perang yang tangguh.

Namun, pertempuran panjang melawan Iran sejak tahun lalu tetap memicu perpecahan politik yang sangat tajam. Akibatnya, pergeseran aliansi politik kini mulai mengubah peta kekuatan menjelang pemilihan umum sela mendatang.

Paradoks Kepemimpinan Netanyahu di Masa Perang

Pertempuran singkat selama dua belas hari pada Juni tahun lalu sempat mendongkrak popularitas Netanyahu secara signifikan. Sebab, para pendukung mengklaim operasi militer tersebut berhasil memulihkan pencegahan asimetris terhadap jaringan sekutu Iran.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Meskipun demikian, peningkatan popularitas tersebut hanya bertahan sementara waktu di tengah konflik regional yang terus berlarut. Bahkan, badai perang kini semakin meluas hingga mengacaukan stabilitas keamanan di wilayah Lebanon.

Konflik bersenjata ini menghadirkan dilema dan paradoks kepemimpinan yang sangat membingungkan bagi Netanyahu. Di satu sisi, situasi krisis keamanan selalu memperkuat posisinya sebagai sosok berpengalaman dalam memimpin perang.

Baca Juga :  Sekuritisasi Perubahan Iklim: Ketika Kerusakan Alam Menjadi Ancaman Militer

Sebaliknya, ketiadaan akhir pertempuran yang menentukan justru memicu keraguan publik atas strategi pertahanan pemerintah. Oleh karena itu, masyarakat kini mulai mengeluhkan kelelahan militer serta kemerosotan ekonomi nasional yang parah.

Sengketa Wajib Militer Yahudi Ultra-Ortodoks

Ketegangan internal ini akhirnya mengekspos keretakan besar di dalam tubuh koalisi partai pendukung pemerintah. Secara spesifik, sengketa mengenai kewajiban wajib militer bagi kelompok Yahudi ultra-Ortodoks (Haredi) menjadi ancaman terbesar.

Sebelumnya, Mahkamah Agung Israel secara bulat memutuskan bahwa pengecualian wajib militer bagi Haredi tidak memiliki dasar hukum. Namun, Netanyahu menghadapi kesulitan luar biasa untuk merumuskan undang-undang kompromi demi memuaskan para sekutu ultra-Ortodoksnya.

Masalah wajib militer ini kian meruncing setelah militer mengumumkan kebutuhan mendesak sebanyak dua belas ribu prajurit baru. Sebab, operasi militer paralel di Gaza dan Lebanon telah menguras habis kapasitas pasukan pertahanan Israel.

Sementara itu, mayoritas warga sekuler mendesak pembagian beban pertahanan negara secara adil dan setara bagi semua kelompok. Akibatnya, ribuan warga Haredi menggelar unjuk rasa besar yang kerap berujung pada bentrokan fisik yang brutal.

Baca Juga :  Modus Pancing ke Hotel, Pasutri di Tangerang Rampok dan Lukai Mantan Pacar

Pada akhirnya, kebuntuan politik ini memaksa koalisi menyepakati pembubaran parlemen demi menggelar pemilihan umum sela tahun ini.

Kebangkitan Aliansi Oposisi Bersama Naftali Bennett

Kebuntuan koalisi pemerintah memberikan peluang emas bagi kelompok oposisi untuk bersatu merebut kekuasaan. Sebagai contoh, mantan Perdana Menteri Naftali Bennett dan Yair Lapid resmi meluncurkan koalisi persatuan bernama aliansi Together.

Oleh sebab itu, jajak pendapat terbaru memproyeksikan aliansi baru ini sebagai rival terkuat bagi Partai Likud pimpinan Netanyahu. Menariknya, kembalinya Bennett ke panggung politik berhasil menarik minat para pemilih sayap kanan yang kecewa pada pemerintah.

Bennett menawarkan alternatif kepemimpinan baru tanpa harus mengorbankan sikap keras terhadap para musuh negara. Oleh karena itu, ia gencar mengampanyekan pembatasan masa jabatan perdana menteri serta penyelidikan kegagalan serangan tujuh Oktober.

Di sisi lain, sebagian pemilih konservatif juga mulai beralih mendukung partai baru pimpinan mantan Panglima Militer Gadi Eisenkot. Dengan demikian, publik kini fokus mencari sosok pemimpin terbaik yang mampu membawa stabilitas pascaperang bagi Israel.

Penulis : Alifa Latifa

Editor : Alifa Latifa

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Wabah Ebola Kongo Kian Mengkhawatirkan
Presiden Mongolia Ukhnaa Khurelsukh Sambut Menlu Tiongkok
Raksasa Teknologi Dunia Serap Mineral Milisi M23
Militer Amerika Serikat Tembak Mati Gembong Kriminal
BIGBANG Resmi Umumkan Jadwal Tur Dunia
PM Jepang Sanae Takaichi Mulai Kunjungan Sejarah ke Eropa
Kaisar Naruhito dan Permaisuri Masako Mulai Kunjungan
Bea Cukai Hong Kong Sita Ribuan Jersi Piala Dunia Tiruan

Berita Terkait

Minggu, 14 Juni 2026 - 14:03 WIB

Wabah Ebola Kongo Kian Mengkhawatirkan

Minggu, 14 Juni 2026 - 12:56 WIB

Israel Bersiap Hadapi Pemilihan Umum Sela

Minggu, 14 Juni 2026 - 11:52 WIB

Presiden Mongolia Ukhnaa Khurelsukh Sambut Menlu Tiongkok

Minggu, 14 Juni 2026 - 10:44 WIB

Raksasa Teknologi Dunia Serap Mineral Milisi M23

Minggu, 14 Juni 2026 - 09:34 WIB

Militer Amerika Serikat Tembak Mati Gembong Kriminal

Berita Terbaru

Krisis kesehatan di Afrika Tengah. Republik Demokratik Kongo menghadapi peningkatan tajam kasus Ebola jenis Bundibugyo di tengah hambatan konflik bersenjata. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Wabah Ebola Kongo Kian Mengkhawatirkan

Minggu, 14 Jun 2026 - 14:03 WIB

Peta baru politik Israel. Badai perang regional dan sengketa wajib militer kaum ultra-Ortodoks memicu pembubaran parlemen serta mempercepat realisasi pemilu sela. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Israel Bersiap Hadapi Pemilihan Umum Sela

Minggu, 14 Jun 2026 - 12:56 WIB

Poros baru Ulan Bator. Presiden Mongolia Ukhnaa Khurelsukh menerima kunjungan kenegaraan Menlu Tiongkok Wang Yi untuk mempererat kemitraan ekonomi dan menyelaraskan strategi pembangunan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Presiden Mongolia Ukhnaa Khurelsukh Sambut Menlu Tiongkok

Minggu, 14 Jun 2026 - 11:52 WIB