JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya membongkar wajah gelap peredaran narkoba di Ibu Kota sepanjang 2025.
Total 7.426 laporan polisi tercatat, naik 1,1 persen dibanding tahun sebelumnya. Angka ini menegaskan Jakarta masih jadi pasar empuk sindikat narkoba.
Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya Kombes Pol Ahmad David mengungkapkan, dari ribuan kasus itu polisi mencokok 9.894 tersangka.
Mayoritas pelaku laki-laki, namun perempuan, anak-anak, hingga warga negara asing ikut terseret.
“Laki-laki 9.162 orang, perempuan 732 orang, anak-anak 56 orang, dan WNA 51 orang,” tegas Ahmad saat konferensi pers di Polda Metro Jaya, Rabu (31/12/2025).
Lebih lanjut, Ahmad membeberkan peran pelaku sangat beragam. Polisi menemukan jaringan dari hulu ke hilir, mulai produsen hingga pemakai.
“Sebanyak 21 tersangka produsen, satu bandar, 3.445 pengedar, dan 6.427 pengguna atau pecandu,” ungkapnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Meski tegas, polisi tetap mengedepankan pendekatan hukum yang proporsional. Sekitar 35 persen tersangka diproses hingga pengadilan, sementara 56 persen lainnya diarahkan ke rehabilitasi medis dan sosial.
“Undang-undang mengamanatkan pemakai dan pecandu sebagai korban dari kejahatan narkoba itu sendiri,” jelas Ahmad.
Yang bikin miris, data Polda Metro Jaya menunjukkan rata-rata 27 warga Jakarta terdampak narkoba setiap hari. Fakta ini menegaskan bahaya narkoba masih mengintai di tengah masyarakat.
Tak hanya menangkap pelaku, polisi juga menyita narkoba dalam jumlah fantastis. Sepanjang 2025, total barang bukti mencapai 3,291 ton.
Rinciannya, sabu 874,94 kilogram, ganja 693,86 kilogram, dan tembakau sintetis 644,95 kilogram.
Barang Sitaan Lainnya
Selain itu, aparat menyita sabu cair, lebih dari 111 ribu butir ekstasi, 1,7 juta butir obat keras, hingga zat anestesi etomidate yang belakangan marak dicampur liquid vape.
“Jika dikonversi ke harga pasar gelap, nilainya mencapai Rp 1,724 triliun dan telah menyelamatkan 10.164.673 jiwa dari kehancuran akibat narkoba,” beber Ahmad.
Sejumlah kasus besar ikut mewarnai pengungkapan 2025. Di Bekasi, polisi membongkar pabrik rumahan tembakau sintetis terbesar dengan barang bukti lebih dari 612 kilogram.
Di Tangerang, aparat menyergap 143 kilogram ganja di pool bus jaringan Sumatera Utara.
Pengungkapan paling mencengangkan terjadi di Bekasi. Polisi menggulung 516 kilogram sabu jaringan Timur Tengah, rekor terbesar di daratan Jakarta dalam lima tahun terakhir.
Jaringan Asia Tenggara pun terendus, mulai dari ribuan etomidate di Bogor hingga puluhan ribu ekstasi di vila kawasan Puncak.
Yang paling mengkhawatirkan, Polres Jakarta Pusat menggagalkan peredaran 103 kilogram sabu yang disiapkan khusus untuk pesta malam Tahun Baru 2026.
“Kondisi ini menunjukkan Jakarta dan sekitarnya sangat rentan terhadap peredaran narkoba. Karena itu, dibutuhkan perhatian serius dan sinergi lintas sektor agar angka penyalahgunaan bisa ditekan,” tandas Ahmad.
Penulis : Hadwan
Editor : Hadwan


















