JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Di sebuah ruang pameran British Museum, London, berdiri sebuah batu hitam yang selalu dikerumuni pengunjung. Tingginya mencapai 45 inci (114 cm) dengan lebar 28,5 inci.
Batu ini bernama Batu Rosetta. Meskipun tampak sederhana, benda ini adalah salah satu penemuan terpenting dalam sejarah arkeologi dunia.
Tanpa batu ini, peradaban Mesir Kuno mungkin akan tetap bisu selamanya. Batu ini menjadi kunci yang memungkinkan kita membaca kembali hieroglif setelah ribuan tahun terkubur dalam keheningan sejarah.
Tiga Naskah, Satu Pesan
Keunikan Batu Rosetta terletak pada isinya. Batu ini memuat sebuah dekrit kerajaan yang sama, namun tertulis dalam tiga aksara berbeda.
Pertama, hieroglif Mesir yang sakral untuk dokumen keagamaan. Kedua, Demotik Mesir yang merupakan tulisan rakyat umum. Ketiga, bahasa Yunani Kuno yang menjadi bahasa pengadilan saat itu.
Dekrit tersebut dikeluarkan pada 196 SM untuk memuja Faraon Ptolemy V. Karena para sarjana abad ke-19 bisa membaca bahasa Yunani Kuno, mereka akhirnya memiliki panduan (“kunci jawaban”) untuk memecahkan kode dua aksara Mesir lainnya yang misterius.
Penemuan di Tengah Perang
Sejarah penemuan batu ini penuh drama. Pada 1798, Napoleon Bonaparte menginvasi Mesir dengan membawa pasukan ilmuwan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Insinyur Angkatan Darat Prancis, Pierre-François Bouchard, menemukan batu tersebut pada 15 Juli 1799 saat membangun benteng di kota pelabuhan Rosetta (kini Rashid).
Sayangnya, Prancis kalah perang melawan Inggris. Akibatnya, Batu Rosetta disita sebagai rampasan perang (spoils of war) dan dibawa ke Inggris pada 1802. Sejak saat itu, batu ini menjadi permata mahkota koleksi British Museum.
Champollion: Sang Pemecah Kode
Misteri hieroglif akhirnya terpecahkan pada 1822. Seorang sarjana Prancis jenius bernama Jean-François Champollion berhasil membandingkan teks Yunani dengan hieroglif.
Ia menyadari bahwa hieroglif bukan sekadar gambar simbolis, melainkan juga mewakili bunyi fonetik. Penemuan ini menjadi terobosan monumental yang membuka kembali akses dunia terhadap ribuan tahun sejarah, sastra, dan ilmu pengetahuan Mesir Kuno.
Sengketa Kepemilikan Modern
Hingga hari ini, Batu Rosetta tetap menjadi pusat sengketa diplomatik. Mesir telah lama menuntut pengembalian artefak tersebut.
Pada 2003, Dr. Zahi Hawass, sekjen Dewan Tertinggi Purbakala Mesir, mengajukan tuntutan keras. Meskipun sempat ada negosiasi untuk peminjaman sementara, British Museum enggan melepaskan klaim kepemilikannya.
Kondisi ini mirip dengan sengketa Elgin Marbles antara Inggris dan Yunani. Kini, perdebatan antara hak moral negara asal dan klaim legal museum barat terus berlanjut tanpa titik temu yang pasti.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















