HANGA ROA, POSNEWS.CO.ID – Jauh di tengah Samudra Pasifik, sekitar 3.600 kilometer dari lepas pantai Cile, berdiri Pulau Paskah. Pulau vulkanik kecil tanpa pepohonan ini adalah tempat berpenghuni paling terpencil di muka bumi. Dunia mengenalnya lewat deretan patung batu raksasa berwajah misterius, Moai, yang menatap kosong ke arah cakrawala.
Kapten laut Belanda, Jacob Roggeveen, memberi nama “Pulau Paskah” saat ia menjadi orang Eropa pertama yang menjejakkan kaki di sana pada Minggu Paskah, 5 April 1722. Namun, bagi penduduk asli, pulau ini adalah Te-Pito-O-Te-Henua (“Pusat Dunia”) atau Mata-Ki-Te-Rani (“Mata yang Menatap Surga”).
Mitos Asal Usul yang Terbantahkan
Pada awal 1950-an, penjelajah Norwegia Thor Heyerdahl mempopulerkan teori bahwa penduduk asli pulau ini berasal dari masyarakat Indian maju di Amerika Selatan. Namun, sains modern berkata lain.
Riset ekstensif arkeologi, etnografi, dan linguistik—termasuk analisis DNA kerangka—telah membuktikan secara konklusif bahwa penduduk asli adalah keturunan Polinesia. Mereka kemungkinan besar berlayar dari Kepulauan Marquesas atau Society dan tiba seawal tahun 318 Masehi.
Saat nenek moyang mereka tiba, pulau itu adalah surga yang rimbun. Hutan lebat menutupi daratan, burung darat berkeliaran bebas, dan garis pantai menjadi tempat berkembang biak burung laut paling produktif di Polinesia. Kelimpahan sumber daya ini memicu ledakan populasi dan kelahiran budaya religius serta artistik yang kaya.
Moai: Simbol Kekuasaan dan Spiritualitas
Puncak pencapaian budaya mereka terwujud dalam Moai. Setidaknya 288 patung pernah berdiri gagah di atas panggung batu raksasa bernama ahu, yang membentuk garis pertahanan spiritual mengelilingi pulau. Lebih dari 600 patung lainnya masih berserakan di sekitar kawah gunung berapi Rano Raraku, tempat para pengukir bekerja dengan batu vulkanik yang keras.
Patung rata-rata menjulang setinggi 4,5 meter dengan berat 14 ton. Bahkan, ada yang mencapai tinggi 10 meter dengan bobot lebih dari 80 ton. Bagi masyarakat pembuatnya, Moai bukan sekadar simbol otoritas politik atau garis keturunan. Patung-patung ini adalah wadah sakral bagi mana, esensi spiritual magis yang mereka percayai menghidupkan alam semesta.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Teori “Jared Diamond” vs Fakta Sejarah
Selama beberapa dekade terakhir, narasi dominan tentang kehancuran Pulau Paskah berpusat pada teori “ekosida” yang dipopulerkan oleh Jared Diamond dalam bukunya Collapse. Teori ini melukiskan gambaran suram: penduduk pulau yang rakus menebang habis hutan demi memindahkan patung, memicu erosi, kekeringan, dan kelaparan massal yang berujung pada kanibalisme dan perang saudara.
Namun, semakin banyak sejarawan dan arkeolog yang menolak narasi tersebut. Mereka menilai teori ini cacat karena mengabaikan faktor eksternal yang jauh lebih mematikan.
“Kebenaran sesungguhnya mengenai kehancuran sosial yang luar biasa di Pulau Paskah adalah konsekuensi langsung dari perilaku tidak manusiawi banyak pengunjung Eropa pertama,” tulis analisis terbaru.
Kiamat yang Datang dari Laut
Kehancuran peradaban Pulau Paskah sejatinya dimulai saat kapal-kapal asing merapat. Para pedagang budak melakukan serangan brutal, memperkosa, membunuh, dan menculik penduduk asli untuk dibawa paksa ke daratan Amerika Selatan.
Bersama para penjajah ini, datang pula pembunuh tak kasat mata: cacar dan penyakit menular lainnya. Tubuh penduduk asli yang tidak memiliki kekebalan alami tumbang seketika. Dalam waktu singkat, populasi menyusut drastis, struktur sosial hancur, dan pengetahuan leluhur hilang bersama kematian para tetua.
Alih-alih “bunuh diri ekologis”, bukti sejarah menunjuk pada genosida perlahan akibat kolonialisme. Tragedi Pulau Paskah bukan peringatan tentang kerakusan manusia terhadap alam semata, melainkan monumen kelam tentang dampak destruktif kontak peradaban yang timpang.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















