LONDON, POSNEWS.CO.ID – Pola pikir (mindset) adalah segalanya. Saat menghadapi tahun yang penuh ketidakpastian ekonomi dan tekanan hidup, mempertahankan pandangan positif mungkin terdengar naif atau seperti delusi “Pollyanna”. Namun, sains justru berkata sebaliknya: optimisme adalah perangkat evolusi canggih yang menyelamatkan manusia selama ribuan tahun.
Brice Pitt, profesor psikiatri di Imperial College London, menyebut ini sebagai “paradoks optimisme”. Orang yang depresi cenderung melihat dunia secara realistis apa adanya, tetapi realisme itu justru merugikan secara evolusioner. Sebaliknya, optimis mungkin sedikit tidak realistis, namun keyakinan “halu” bahwa segalanya akan membaik itulah yang membuat mereka terus bertahan hidup.
Obat Panjang Umur Gratis
Martin Seligman, profesor psikologi dan penulis Learned Optimism, mendefinisikan optimisme sebagai kebiasaan menjelaskan kegagalan kepada diri sendiri dengan cara yang tidak permanen. Hasilnya, optimis lebih sukses di tempat kerja, lebih tahan stres, dan jarang depresi.
Lebih jauh lagi, manfaatnya merembet ke fisik. Dr. Becca Levy dari Universitas Yale menemukan fakta mengejutkan: berpikir positif menambah rata-rata 7 tahun usia harapan hidup.
Riset lain dari Harvard Medical School terhadap 670 pria mendukung hal ini. Mereka menemukan bahwa pria yang optimis memiliki fungsi paru-paru yang jauh lebih baik. Dr. Rosalind Wright, penulis utama studi tersebut, meyakini bahwa sikap mental positif memperkuat sistem kekebalan tubuh secara biologis.
Sisi Gelap: Optimisme yang Mematikan
Meskipun demikian, tidak semua optimisme itu sehat. American Psychological Association memperingatkan tentang “optimisme yang tidak realistis”. Contoh paling nyata terlihat pada perokok.
Banyak perokok meremehkan risiko mereka terkena penyakit. Mereka memegang keyakinan keliru bahwa merokok beberapa tahun saja tidak berbahaya atau kanker paru-paru hanya masalah genetik. Akibatnya, optimisme yang salah tempat ini justru membahayakan nyawa karena mengabaikan risiko objektif.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Resiliensi: Seni Bangkit dari Lantai
Jika optimisme adalah bensinnya, maka resiliensi (ketahanan) adalah mesinnya. Riset di kalangan taipan bisnis menunjukkan bahwa jalan menuju sukses sering kali penuh dengan pemecatan dan kebangkrutan. Bedanya, mereka tidak meringkuk menangis di bawah meja. Mereka bangkit, belajar dari kegagalan, dan melangkah lagi.
Sosiolog Steven Stack mengungkapkan fakta menarik dalam Journal of Social Psychology. Salah satu cara terbaik memperoleh resiliensi ternyata adalah melalui masa kecil yang sulit.
Sebagai contoh, pria bertubuh pendek memiliki tingkat bunuh diri lebih rendah dibanding pria tinggi. Mengapa? Karena sejak kecil mereka telah mengembangkan keterampilan pertahanan psikologis untuk menghadapi ejekan. Sebaliknya, mereka yang masa mudanya terlalu mulus sering kali “tergelincir” saat menghadapi masalah besar pertama di masa dewasa karena tidak pernah “diimunisasi” terhadap penderitaan.
Melatih Otot Mental
Kabar baiknya, resiliensi bisa kita latih. Universitas Yale menyarankan untuk memelihara selera humor dan kemampuan menerima nasib dengan tenang (equanimity).
Jika Anda “terhambat” oleh masa kecil yang terlalu bahagia, Anda bisa mempraktikkan optimisme proaktif. Belajarlah mengambil risiko dan berhenti takut pada kegagalan. Bersikap ramah dan tersenyum pada orang lain bukan hanya altruisme, tapi strategi cerdas untuk membangun jaring pengaman sosial. Seperti pepatah lama: masa sulitlah yang mengeluarkan potensi terbaik dari diri kita.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















