Taruhan $8 Miliar di Rawa Florida: Air Tawar Penyelamat

Jumat, 9 Januari 2026 - 07:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Niat hati memulihkan ekosistem, proyek raksasa AS justru memicu perang pendapat ilmuwan. Apakah air tawar akan menyuburkan kehidupan atau justru memicu ledakan alga mematikan? Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Niat hati memulihkan ekosistem, proyek raksasa AS justru memicu perang pendapat ilmuwan. Apakah air tawar akan menyuburkan kehidupan atau justru memicu ledakan alga mematikan? Dok: Istimewa.

FLORIDA KEYS, POSNEWS.CO.ID – Menuangkan air ke laut terdengar seperti tindakan yang paling tidak berbahaya di dunia. Namun, di Florida Bay—perairan dangkal luas yang memisahkan Everglades dan Florida Keys—tindakan sederhana ini justru memicu kontroversi panas.

Para peneliti kini terbelah dalam perdebatan sengit. Apakah rencana pemerintah menyuntikkan air tawar akan membantu atau justru menghancurkan tanaman dan hewan yang hidup di teluk tersebut?

Taruhannya sangat tinggi. Masa depan padang lamun luas yang menjadi tempat pembibitan udang dan lobster kini terancam. Selain itu, bahaya juga mengintai terumbu karang penghalang terbesar ketiga di dunia. Sejak tahun 1980-an, tutupan karang telah anjlok sebesar 40 persen, dan sepertiga spesies karang telah lenyap.

Rencana Raksasa $8 Miliar

Pemerintah Amerika berencana mengalokasikan $8 miliar selama 30 tahun ke depan untuk merevitalisasi Everglades. Tujuannya adalah memulihkan aliran air tawar musiman ke wilayah tersebut. Nantinya, air ini akan bermuara ke teluk.

Joseph Zieman, ekolog kelautan dari Universitas Virginia, mendukung ide ini. Ia meyakini masalah utama teluk adalah kekurangan air tawar akibat drainase selama satu abad. Akibatnya, air teluk menjadi terlalu asin (salin).

Baca Juga :  Orangutan Tapanuli, Banjir Sumatera Tewaskan Puluhan Kera Paling Langka Dunia

Kondisi ini membunuh lamun. Saat lamun membusuk, nutrisi terlepas dan memicu pertumbuhan alga mikroskopis. Inilah yang membuat air yang dulunya jernih kini keruh menyerupai sup kacang, menghalangi sinar matahari, dan membunuh lebih banyak lamun dalam lingkaran setan.

Menyiram Bensin ke Dalam Api?

Sebaliknya, Brian Lapointe dari Harbour Branch Oceanographic Institution menentang keras teori itu. Ia berpendapat lamun bisa mentolerir salinitas tinggi.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lapointe mencatat sejarah kelam pada 1990-an. Saat itu, peningkatan aliran air tawar eksperimental justru memicu ledakan plankton masif. Masalahnya bukan pada airnya, tapi isinya. Air tawar yang mengalir dari lahan pertanian kaya pupuk membawa lonjakan kadar nitrogen hingga lima kali lipat.

“Ini seperti menuangkan bensin ke api,” tegasnya. Nitrogen memicu kekeruhan yang membunuh lamun dan merusak terumbu karang yang hanya bisa tumbuh di air rendah nutrisi.

Limbah Rumah Tangga dan Ilusi Utopia

Teori ketiga muncul dari Bill Kruczynski, perwakilan Badan Perlindungan Lingkungan (EPA). Ia yakin nitrogen dari pertanian bukan satu-satunya penjahat. Ia menunjuk ribuan tangki septik (cesspits) di sepanjang Florida Keys yang membuang limbah nutrisi ke laut sebagai biang keladi lain.

Baca Juga :  Ancaman Senyap di Hutan Bambu: Perubahan Iklim Mengintai

Oleh karena itu, dampak rencana restorasi ini sulit terprediksi. Jika masalahnya garam, rencana pemerintah akan berhasil. Tetapi jika masalahnya nitrogen, mengalirkan lebih banyak air tawar justru akan memperburuk keadaan.

Solusinya—membangun lahan basah buatan atau mengganti tangki septik dengan saluran pembuangan—akan menelan biaya ratusan juta dolar tambahan.

Terlebih lagi, beberapa pihak mengkritik adanya cacat mendasar dalam rencana ini: ambisi untuk mengembalikan alam ke kondisi “Utopia” masa lalu. Faktanya, tidak ada yang tahu pasti seperti apa rupa Florida Bay sebelum tahun 1950-an. Bisa jadi, teluk yang ingin mereka ciptakan ulang hanyalah sebuah fase sejarah yang telah berlalu.

Jika rencana ini gagal, harganya bukan hanya kerusakan ekologi, tetapi juga ekonomi. Industri pariwisata lokal yang bergantung pada penyelam dan pemancing bernilai $2,5 miliar per tahun bisa ikut karam.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Baru Dilantik, Ketua Ombudsman RI Langsung Diborgol Kejagung Tersandung Kasus
Sidang Perdana Aktivis Andrie Yunus Digelar 29 April 2026, Publik Soroti Proses Hukum
IEA, IMF, dan Bank Dunia Peringatkan Dampak Destruktif Perang Iran terhadap Ekonomi Dunia
Israel-Lebanon Mulai Negosiasi Langsung Perdana Sejak 1993
Zambia Cabut Pajak BBM guna Lindungi Ekonomi dari Dampak Perang Iran
DR Kongo Terima Puluhan Deportan Negara Ketiga dari Amerika
Xi Jinping dan To Lam Sahkan Kemitraan Strategis Tingkat Tinggi
Demo Besar di DPR RI Hari Ini, Polda Metro Jaya Imbau Warga Hindari Lokasi

Berita Terkait

Kamis, 16 April 2026 - 13:34 WIB

Baru Dilantik, Ketua Ombudsman RI Langsung Diborgol Kejagung Tersandung Kasus

Kamis, 16 April 2026 - 13:15 WIB

Sidang Perdana Aktivis Andrie Yunus Digelar 29 April 2026, Publik Soroti Proses Hukum

Kamis, 16 April 2026 - 13:07 WIB

IEA, IMF, dan Bank Dunia Peringatkan Dampak Destruktif Perang Iran terhadap Ekonomi Dunia

Kamis, 16 April 2026 - 12:03 WIB

Israel-Lebanon Mulai Negosiasi Langsung Perdana Sejak 1993

Kamis, 16 April 2026 - 11:57 WIB

Zambia Cabut Pajak BBM guna Lindungi Ekonomi dari Dampak Perang Iran

Berita Terbaru

Babak baru di meja perundingan. Delegasi Israel dan Lebanon bertemu di Washington guna menjajaki perdamaian, namun perbedaan tajam mengenai pelucutan senjata Hezbollah dan syarat gencatan senjata masih membayangi stabilitas kawasan tahun 2026. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Israel-Lebanon Mulai Negosiasi Langsung Perdana Sejak 1993

Kamis, 16 Apr 2026 - 12:03 WIB