Raksasa Teknologi Dunia Serap Mineral Milisi M23

Minggu, 14 Juni 2026 - 10:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Pencemaran rantai pasok elektronik. Penyelidikan Global Witness mengungkap keterlibatan tidak sengaja jenama global dalam mendanai kekerasan milisi M23 di Kongo. Dok: Istimewa.

Pencemaran rantai pasok elektronik. Penyelidikan Global Witness mengungkap keterlibatan tidak sengaja jenama global dalam mendanai kekerasan milisi M23 di Kongo. Dok: Istimewa.

LONDON, POSNEWS.CO.ID – Penyelidikan terbaru mengungkap borok rantai pasok mineral untuk industri teknologi global pekan ini. Sebab, perusahaan raksasa dunia tanpa sengaja mendanai aktivitas kekerasan milisi bersenjata di Afrika.

Lembaga Global Witness menuduh Amazon, Sony, dan Ericsson menyerap koltan ilegal asal Republik Demokratik Kongo (DRC). Selain itu, mineral konflik ini kemungkinan besar mengalir ke produk Microsoft, Toyota, Nvidia, dan Vodafone. Sebab, milisi kejam M23 menguasai tambang koltan terbesar di wilayah Rubaya sejak dua tahun lalu.

Koltan Rubaya dan Jalur Penyelundupan Rwanda

Wilayah Rubaya sendiri menyimpan sekitar 15 persen dari total cadangan koltan dunia saat ini. Namun, milisi M23 menduduki kawasan tersebut dengan bantuan ribuan tentara dari negara tetangga Rwanda.

Akibatnya, milisi memperoleh pendapatan hingga 600.000 pound sterling setiap bulan dari pajak koltan ilegal. Pada akhirnya, mereka menggunakan dana raksasa tersebut untuk membiayai operasi militer dan pembantaian warga sipil.

Para penyelundup membawa koltan melintasi perbatasan menuju wilayah Rwanda secara sembunyi-sembunyi. Selanjutnya, eksportir Rwanda menjual mineral curian tersebut kepada perusahaan peleburan di Tiongkok dan Kazakhstan. Dengan demikian, pabrik memproses koltan menjadi tantalum untuk bahan baku kapasitor ponsel dan komputer.

Baca Juga :  Mengejar Bayangan Matahari: Sejarah Obsesi Manusia

Kegagalan Sertifikasi dan Desakan Boikot

Aktivis Global Witness, Alex Kopp, mengecam keras kegagalan sistem pengawasan rantai pasok internasional saat ini. Sebab, sistem sertifikasi mandiri seperti Itsci gagal mendeteksi masuknya mineral konflik tersebut. Oleh karena itu, ia mendesak pemerintah mengambil tindakan tegas untuk menghentikan pembelian koltan dari Rwanda.

Pihak Amazon segera merespons laporan miring tersebut dengan menjanjikan audit internal yang lebih mendalam. Sementara itu, juru bicara Ericsson menyatakan komitmen kuat untuk meninjau ulang seluruh data pemasok mereka. Namun, mereka menegaskan tidak melakukan pembelian mineral mentah secara langsung dari wilayah konflik.

Penulis : Alifa Latifa

Editor : Alifa Latifa

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Trump Tegaskan Gencatan Senjata AS-Iran Resmi Berakhir
Penembakan Houston Bongkar Kelalaian ICE dan DHS
Zelenskyy Bentuk Pasukan Khusus Penghancur Energi Rusia
Trump Siapkan Seribu Rudal Pasca-Pemakaman Ali Khamenei
Rusia Paksa 1,6 Juta Anak Ukraina Ikut Indoktrinasi Militer
Langkah Mulus Andy Burnham: Kantongi Dukungan 80 Persen
Militer AS: Gencatan Senjata Selat Hormuz Runtuh
Flu Burung H5 Serang Australia: Kasus Pertama

Berita Terkait

Minggu, 12 Juli 2026 - 09:00 WIB

Trump Tegaskan Gencatan Senjata AS-Iran Resmi Berakhir

Minggu, 12 Juli 2026 - 08:00 WIB

Penembakan Houston Bongkar Kelalaian ICE dan DHS

Minggu, 12 Juli 2026 - 07:00 WIB

Zelenskyy Bentuk Pasukan Khusus Penghancur Energi Rusia

Minggu, 12 Juli 2026 - 06:00 WIB

Trump Siapkan Seribu Rudal Pasca-Pemakaman Ali Khamenei

Sabtu, 11 Juli 2026 - 16:07 WIB

Rusia Paksa 1,6 Juta Anak Ukraina Ikut Indoktrinasi Militer

Berita Terbaru

Ilustrasi, tersangka di borgol polisi. (Posnews/Net)

JABODETABEK

Teror Bom SDN Srengseng Sawah Terungkap, Polisi Tangkap MY

Senin, 13 Jul 2026 - 16:00 WIB