LONDON, POSNEWS.CO.ID – Penyelidikan terbaru mengungkap borok rantai pasok mineral untuk industri teknologi global pekan ini. Sebab, perusahaan raksasa dunia tanpa sengaja mendanai aktivitas kekerasan milisi bersenjata di Afrika.
Lembaga Global Witness menuduh Amazon, Sony, dan Ericsson menyerap koltan ilegal asal Republik Demokratik Kongo (DRC). Selain itu, mineral konflik ini kemungkinan besar mengalir ke produk Microsoft, Toyota, Nvidia, dan Vodafone. Sebab, milisi kejam M23 menguasai tambang koltan terbesar di wilayah Rubaya sejak dua tahun lalu.
Koltan Rubaya dan Jalur Penyelundupan Rwanda
Wilayah Rubaya sendiri menyimpan sekitar 15 persen dari total cadangan koltan dunia saat ini. Namun, milisi M23 menduduki kawasan tersebut dengan bantuan ribuan tentara dari negara tetangga Rwanda.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Akibatnya, milisi memperoleh pendapatan hingga 600.000 pound sterling setiap bulan dari pajak koltan ilegal. Pada akhirnya, mereka menggunakan dana raksasa tersebut untuk membiayai operasi militer dan pembantaian warga sipil.
Para penyelundup membawa koltan melintasi perbatasan menuju wilayah Rwanda secara sembunyi-sembunyi. Selanjutnya, eksportir Rwanda menjual mineral curian tersebut kepada perusahaan peleburan di Tiongkok dan Kazakhstan. Dengan demikian, pabrik memproses koltan menjadi tantalum untuk bahan baku kapasitor ponsel dan komputer.
Kegagalan Sertifikasi dan Desakan Boikot
Aktivis Global Witness, Alex Kopp, mengecam keras kegagalan sistem pengawasan rantai pasok internasional saat ini. Sebab, sistem sertifikasi mandiri seperti Itsci gagal mendeteksi masuknya mineral konflik tersebut. Oleh karena itu, ia mendesak pemerintah mengambil tindakan tegas untuk menghentikan pembelian koltan dari Rwanda.
Pihak Amazon segera merespons laporan miring tersebut dengan menjanjikan audit internal yang lebih mendalam. Sementara itu, juru bicara Ericsson menyatakan komitmen kuat untuk meninjau ulang seluruh data pemasok mereka. Namun, mereka menegaskan tidak melakukan pembelian mineral mentah secara langsung dari wilayah konflik.
Penulis : Alifa Latifa
Editor : Alifa Latifa












