Mengejar Bayangan Matahari: Sejarah Obsesi Manusia

Sabtu, 10 Januari 2026 - 08:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Dari tulang purba hingga jam air canggih, perjalanan manusia mengukur waktu adalah kisah inovasi menaklukkan siang dan malam. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Dari tulang purba hingga jam air canggih, perjalanan manusia mengukur waktu adalah kisah inovasi menaklukkan siang dan malam. Dok: Istimewa.

KAIRO, POSNEWS.CO.ID – Sejak manusia pertama kali menengadah dan menyadari pergerakan teratur Matahari dan bintang-bintang, pertanyaan tentang waktu terus menghantui kita. Faktanya, orang-orang prasejarah telah merekam fase Bulan sekitar 30.000 tahun yang lalu. Perekaman waktu ini bukan sekadar catatan, melainkan cara kemanusiaan mengamati surga dan menandai kemajuan peradaban.

Peristiwa alam menjadi penanda awal. Angin musiman, banjir sungai, hingga migrasi burung membagi tahun secara alami. Namun, kebutuhan untuk mengatur ritual dan pekerjaan harian menuntut pembagian yang lebih presisi daripada sekadar musim.

Bayangan yang Membelah Hari

Di Mesir Kuno, bayangan adalah jarum jam pertama. Jam bayangan membagi siang hari menjadi 12 bagian. Salah satu jenisnya terdiri dari batang panjang dengan lima tanda variabel dan palang tinggi yang memproyeksikan bayangan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Petugas akan memposisikannya ke arah timur di pagi hari, lalu memutarnya ke barat saat tengah hari. Serupa dengan itu, obelisk berfungsi dengan cara yang sama. Bayangan yang jatuh pada penanda di sekitarnya memungkinkan orang Mesir menghitung waktu, bahkan menentukan titik balik matahari musim panas dan dingin.

Baca Juga :  Rem Blong di Jalur Bromo, 4 Minibus Tabrakan Beruntun dan 11 Orang Luka

Meskipun akurat, jam bayangan memiliki kelemahan fatal: mereka bergantung pada matahari. Akibatnya, alat ini menjadi tidak berguna saat malam tiba atau cuaca mendung.

Api dan Air: Melawan Kegelapan

Untuk mengatasi keterbatasan matahari, manusia beralih ke elemen lain. Bukti arkeologis menunjukkan penggunaan lampu minyak sekitar 4.000 SM. Selain untuk penerangan, orang Tiongkok menggunakan level minyak yang terbakar untuk mengukur berlalunya waktu pada 2.000 SM.

Selanjutnya, muncul Jam Lilin. Lilin bertanda digunakan di Tiongkok sejak abad ke-6 Masehi. Di Inggris, legenda menyebut Raja Alfred Agung menemukannya, meski penggunaannya baru tercatat sejak abad ke-10. Sayangnya, laju pembakaran lilin sering tidak konsisten karena hembusan angin.

Solusi yang lebih andal datang dari air. Jam air atau Clepsydra muncul sekitar 1.500 SM. Alat ini mengandalkan aliran air yang stabil dari atau ke dalam wadah.

Puncaknya, pembuatan jam astronomi berkembang pesat di Tiongkok (200-1300 M). Astronom Su Sung pada 1088 M membangun clepsydra rumit dengan sistem ember bertenaga air. Alat ini menggerakkan bola langit perunggu dan manekin yang membunyikan gong untuk menandai waktu.

Baca Juga :  Bajak Laut Mediterania Kuno: Teror Laut Ribuan Tahun Sebelum Jack Sparrow

Pasir dan Bintang

Seiring berkembangnya teknologi peniupan kaca pada abad ke-14, jam pasir mulai populer. Awalnya, orang menggunakan jam pasir untuk mengukur durasi tertentu, seperti khotbah universitas atau bahkan periode penyiksaan, karena lebih mudah dikalibrasi daripada lilin.

Sementara itu, para astronom Mesir mengembangkan Merkhet sekitar 600 SM. Alat sederhana ini menggunakan tali berbandul untuk mendapatkan garis vertikal sejati. Dengan menyelaraskan dua merkhet dengan Bintang Kutub, mereka bisa mengukur peristiwa malam hari saat bintang tertentu melintasi garis vertikal.

Mengapa 12 Jam?

Pertanyaan besar tersisa: mengapa hari kita bagi menjadi 24 jam (12 siang, 12 malam)?

Ada beberapa teori. Angka 12 adalah faktor dari 60, angka penting dalam matematika Babilonia. Selain itu, peradaban Mesir dan Babilonia mengakui siklus zodiak 12 rasi bintang.

Namun, ada kemungkinan yang lebih manusiawi: penghitungan jari. Setiap jari memiliki 3 ruas sendi. Jika kita menghitung ruas jari menggunakan ibu jari di satu tangan (4 jari x 3 ruas), kita mendapatkan angka 12. Sistem “satu tangan penuh” inilah yang mungkin menjadi dasar pembagian waktu kita hingga hari ini.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang
Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap
Tarumajaya Bekasi Penuhi Sampah dan Genangan, Warga Desak Dedi Mulyadi Bertindak
Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa
Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar
Kapal Mati Mesin di Perairan Pulau Pari, Gulkarmat Evakuasi 150 Penumpang
Home Industry Vape THC di Bali Terbongkar, Omzet Diduga Capai Rp300 Miliar
TPA Jatiwaringin Tangerang Terbakar 15 Hektare, BNPB: 40 Persen Api Sudah Padam

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 20:17 WIB

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang

Sabtu, 18 Juli 2026 - 19:13 WIB

Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap

Selasa, 7 Juli 2026 - 21:55 WIB

Tarumajaya Bekasi Penuhi Sampah dan Genangan, Warga Desak Dedi Mulyadi Bertindak

Senin, 6 Juli 2026 - 05:24 WIB

Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa

Minggu, 5 Juli 2026 - 20:09 WIB

Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar

Berita Terbaru

Langkah taktis amankan benteng udara. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menemui Donald Trump di Washington guna membahas produksi mandiri rudal Patriot. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Zelenskyy dan Trump Gelar Pertemuan Penting di Gedung Putih

Kamis, 30 Jul 2026 - 16:12 WIB

Langkah taktis Teheran amankan wilayah udara. Iran membeli 400 peluncur rudal panggul buatan China bernilai 70 juta dolar AS guna memperkuat pertahanan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Iran Borong 400 Peluncur Rudal Panggul Buatan China

Kamis, 30 Jul 2026 - 14:09 WIB