NEW YORK, POSNEWS.CO.ID – Sebuah krisis senyap sedang mengintai meja makan dunia. Beras, rumput tinggi dengan bulir terkulai yang telah dibudidayakan di China selama lebih dari 6.000 tahun, kini menghadapi ancaman eksistensial.
Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) mencatat fakta krusial: sekitar empat miliar orang saat ini menggantungkan seperlima asupan kalori mereka pada beras. Namun, sejak tahun 1984, dunia menyaksikan tren yang meresahkan—hasil panen padi terus menyusut.
Meskipun negara maju seperti Jepang dan Korea Selatan sedikit mengurangi konsumsi beras demi diet barat, hampir semua negara lain justru meningkatkan konsumsi seiring ledakan populasi. Di Afrika, konsumsi beras melonjak 20% setiap tahun. Dalam dua dekade, beras diprediksi akan menggeser jagung sebagai sumber kalori utama di benua tersebut.
Sayangnya, sawah-sawah di seluruh dunia tak lagi seproduktif dulu. Di wilayah subur, hasil panen turun rata-rata 0,8%. Di wilayah yang kurang ideal, banjir, kekeringan, dan salinitas (kadar garam) telah memangkas hasil panen secara drastis hingga 40%.
Nostalgia Revolusi Hijau
Dunia pernah menghadapi ancaman serupa pada 1950-an. Saat itu, India berada di ambang kelaparan. Penyelamat datang dalam bentuk varietas tanaman “semi-kerdil”.
Norman Borlaug, ahli patologi tanaman AS, memelopori penggunaan gandum semi-kerdil. Kesuksesan ini menginspirasi Institut Penelitian Padi Internasional (IRRI) di Filipina untuk mengembangkan padi semi-kerdil bernama IR8 pada tahun 1962.
Varietas IR8 menjadi pemicu “Revolusi Hijau”. Batangnya yang pendek dan tebal membuatnya kokoh, tidak mudah roboh, dan efisien menyerap pupuk. Tanaman ini menghemat energi batang untuk menghasilkan bulir padi yang lebih berat. Hasilnya ajaib: panen padi melonjak dari 1,9 metrik ton per hektare menjadi 3,5 metrik ton. Jutaan nyawa terselamatkan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, keajaiban itu memiliki batas kedaluwarsa. Varietas semi-kerdil hanya mampu mengimbangi pertumbuhan populasi selama sepuluh tahun. Kini, ilmuwan harus berpacu dengan waktu untuk menciptakan keajaiban kedua.
Genetika vs Pemanasan Global
Ilmuwan kini bertaruh pada teknologi genetika. Setelah pengurutan genom padi selesai pada 2005, IRRI bergerak cepat.
Mereka mengembangkan varietas tahan banjir bernama Sub 1. Padi modifikasi ini menghasilkan gabah hingga empat kali lebih banyak daripada varietas biasa di lahan rawan banjir. Pada 2010, hanya segelintir petani yang menanamnya; kini, lebih dari lima juta petani telah beralih ke Sub 1.
Tantangan berikutnya adalah suhu panas. Pemanasan global membuat banyak wilayah pertanian makin membara. Masalahnya, hampir semua varietas padi—termasuk IR8—berbunga di siang hari. Suhu ekstrem di siang hari membunuh antera (kantung serbuk sari), menyebabkan kegagalan panen.
Solusinya datang dari varietas unik bernama Odisha. Padi ini memiliki kebiasaan unik: berbunga di pagi hari saat suhu masih sejuk. Ilmuwan IRRI kini sedang dalam proses memodifikasi genetika IR8 dengan menyuntikkan gen pembungaan pagi milik Odisha.
Sikap Dingin Pemerintah
Di tengah urgensi ini, banyak negara justru tampak enggan campur tangan. Beberapa pemerintah percaya permintaan beras akan turun secara alami seperti di negara maju. Yang lain lebih memilih fokus memerangi obesitas atau membatasi pertanian intensif yang merusak lingkungan.
Reformasi lahan, yang sebenarnya mendesak, sering kali dihindari karena risiko politik. Sementara itu, urbanisasi terus melahap lahan subur. Desa-desa ditinggalkan, kota-kota meluas, dan sawah berubah menjadi beton.
Kini, harapan dunia tidak lagi bertumpu pada kebijakan negara yang ragu-ragu, melainkan pada IRRI dan lembaga riset lainnya untuk memimpin “revolusi hijau mini” secara independen.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















