Krisis Piring Nasi Dunia: Revolusi Hijau Melambat

Jumat, 16 Januari 2026 - 11:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Penyelamat 4 miliar perut manusia sedang terancam. Panen menyusut dan iklim memanas, memaksa ilmuwan menciptakan

Ilustrasi, Penyelamat 4 miliar perut manusia sedang terancam. Panen menyusut dan iklim memanas, memaksa ilmuwan menciptakan "padi super" baru yang tahan banjir dan berbunga di pagi hari. Dok: Istimewa.

NEW YORK, POSNEWS.CO.ID – Sebuah krisis senyap sedang mengintai meja makan dunia. Beras, rumput tinggi dengan bulir terkulai yang telah dibudidayakan di China selama lebih dari 6.000 tahun, kini menghadapi ancaman eksistensial.

Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) mencatat fakta krusial: sekitar empat miliar orang saat ini menggantungkan seperlima asupan kalori mereka pada beras. Namun, sejak tahun 1984, dunia menyaksikan tren yang meresahkan—hasil panen padi terus menyusut.

Meskipun negara maju seperti Jepang dan Korea Selatan sedikit mengurangi konsumsi beras demi diet barat, hampir semua negara lain justru meningkatkan konsumsi seiring ledakan populasi. Di Afrika, konsumsi beras melonjak 20% setiap tahun. Dalam dua dekade, beras diprediksi akan menggeser jagung sebagai sumber kalori utama di benua tersebut.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sayangnya, sawah-sawah di seluruh dunia tak lagi seproduktif dulu. Di wilayah subur, hasil panen turun rata-rata 0,8%. Di wilayah yang kurang ideal, banjir, kekeringan, dan salinitas (kadar garam) telah memangkas hasil panen secara drastis hingga 40%.

Nostalgia Revolusi Hijau

Dunia pernah menghadapi ancaman serupa pada 1950-an. Saat itu, India berada di ambang kelaparan. Penyelamat datang dalam bentuk varietas tanaman “semi-kerdil”.

Baca Juga :  Paradoks Fermi: Di Mana Semua Alien? Menatap Langit Malam

Norman Borlaug, ahli patologi tanaman AS, memelopori penggunaan gandum semi-kerdil. Kesuksesan ini menginspirasi Institut Penelitian Padi Internasional (IRRI) di Filipina untuk mengembangkan padi semi-kerdil bernama IR8 pada tahun 1962.

Varietas IR8 menjadi pemicu “Revolusi Hijau”. Batangnya yang pendek dan tebal membuatnya kokoh, tidak mudah roboh, dan efisien menyerap pupuk. Tanaman ini menghemat energi batang untuk menghasilkan bulir padi yang lebih berat. Hasilnya ajaib: panen padi melonjak dari 1,9 metrik ton per hektare menjadi 3,5 metrik ton. Jutaan nyawa terselamatkan.

Namun, keajaiban itu memiliki batas kedaluwarsa. Varietas semi-kerdil hanya mampu mengimbangi pertumbuhan populasi selama sepuluh tahun. Kini, ilmuwan harus berpacu dengan waktu untuk menciptakan keajaiban kedua.

Genetika vs Pemanasan Global

Ilmuwan kini bertaruh pada teknologi genetika. Setelah pengurutan genom padi selesai pada 2005, IRRI bergerak cepat.

Mereka mengembangkan varietas tahan banjir bernama Sub 1. Padi modifikasi ini menghasilkan gabah hingga empat kali lebih banyak daripada varietas biasa di lahan rawan banjir. Pada 2010, hanya segelintir petani yang menanamnya; kini, lebih dari lima juta petani telah beralih ke Sub 1.

Baca Juga :  Tupperware: Dari Pesta Ibu-Ibu Amerika 1950-an

Tantangan berikutnya adalah suhu panas. Pemanasan global membuat banyak wilayah pertanian makin membara. Masalahnya, hampir semua varietas padi—termasuk IR8—berbunga di siang hari. Suhu ekstrem di siang hari membunuh antera (kantung serbuk sari), menyebabkan kegagalan panen.

Solusinya datang dari varietas unik bernama Odisha. Padi ini memiliki kebiasaan unik: berbunga di pagi hari saat suhu masih sejuk. Ilmuwan IRRI kini sedang dalam proses memodifikasi genetika IR8 dengan menyuntikkan gen pembungaan pagi milik Odisha.

Sikap Dingin Pemerintah

Di tengah urgensi ini, banyak negara justru tampak enggan campur tangan. Beberapa pemerintah percaya permintaan beras akan turun secara alami seperti di negara maju. Yang lain lebih memilih fokus memerangi obesitas atau membatasi pertanian intensif yang merusak lingkungan.

Reformasi lahan, yang sebenarnya mendesak, sering kali dihindari karena risiko politik. Sementara itu, urbanisasi terus melahap lahan subur. Desa-desa ditinggalkan, kota-kota meluas, dan sawah berubah menjadi beton.

Kini, harapan dunia tidak lagi bertumpu pada kebijakan negara yang ragu-ragu, melainkan pada IRRI dan lembaga riset lainnya untuk memimpin “revolusi hijau mini” secara independen.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pentagon Tuduh Jenderal Brett Sylvia Bocorkan Rahasia Negara
Hakim Federal Tolak Permintaan Pemerintahan Trump Soal Suara
Menhan AS Pete Hegseth Pecat Perencana Militer Utama
Biaya Perang Iran Melonjak Hingga 47,1 Miliar Dolar AS
Tabrakan Kereta Cepat di Toledo Spanyol Menewaskan 68 Orang
Jepang dan Jerman Sepakat Perkuat Kerja Sama Mineral Kritis
Perayaan Meriah Festival Sembilan Dewa Kaisar
Fenomena Fesyen Gothic Lolita Jepang Kembali Memikat Hati

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 09:44 WIB

Pentagon Tuduh Jenderal Brett Sylvia Bocorkan Rahasia Negara

Jumat, 30 Oktober 2026 - 12:42 WIB

Hakim Federal Tolak Permintaan Pemerintahan Trump Soal Suara

Jumat, 30 Oktober 2026 - 11:39 WIB

Menhan AS Pete Hegseth Pecat Perencana Militer Utama

Jumat, 30 Oktober 2026 - 09:42 WIB

Biaya Perang Iran Melonjak Hingga 47,1 Miliar Dolar AS

Jumat, 30 Oktober 2026 - 08:40 WIB

Tabrakan Kereta Cepat di Toledo Spanyol Menewaskan 68 Orang

Berita Terbaru

Sony bayar $50.000 untuk laporan celah hypervisor PS5. Langkah peneliti independen ini memicu kemarahan komunitas dan menghentikan proyek PS5 Linux. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Sony Bayar Hadiah 50 Ribu Dolar AS untuk Celah PS5 Jailbreak

Sabtu, 31 Okt 2026 - 11:53 WIB

Valve tambahkan dukungan drive CD optik ke kernel Steam Frame VR hanya dalam 10 menit usai respons permintaan pengguna. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Dengarkan Komunitas, Valve Tambahkan CD Drive Eksternal

Sabtu, 31 Okt 2026 - 10:49 WIB

Pentagon menuduh Letjen Brett Sylvia membocorkan rahasia Perang Iran usai dipecat Menhan Pete Hegseth. Simak hasil uji poligraf. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Pentagon Tuduh Jenderal Brett Sylvia Bocorkan Rahasia Negara

Sabtu, 31 Okt 2026 - 09:44 WIB

Aktor legendaris Sir Patrick Stewart meninggal dunia pada usia 86 tahun. Simak riwayat karier pemeran Kapten Picard dan Profesor X tersebut. Dok: Istimewa.

ENTERTAINMENT

Aktor Legendaris Sir Patrick Stewart Meninggal Dunia

Sabtu, 31 Okt 2026 - 08:40 WIB