Trump Ancam Tarif ke 8 Negara Eropa Jika Greenland Tak Dijual

Minggu, 18 Januari 2026 - 19:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Konflik Arktik memicu perang dagang. Trump tetapkan tenggat waktu Februari untuk aneksasi Greenland atau hadapi tarif impor, membuat Eropa bersatu melawan

Konflik Arktik memicu perang dagang. Trump tetapkan tenggat waktu Februari untuk aneksasi Greenland atau hadapi tarif impor, membuat Eropa bersatu melawan "intimidasi". Dok: Istimewa.

BRUSSELS, POSNEWS.CO.ID – Konflik diplomatik mengenai Greenland telah bermutasi menjadi ancaman perang dagang transatlantik yang berbahaya. Pada hari Sabtu (17/1), Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ultimatum ekonomi yang mengejutkan melalui media sosial.

Ia mengumumkan bahwa Amerika Serikat akan mengenakan tarif baru sebesar 10 persen terhadap barang-barang dari delapan negara: Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, dan Finlandia. Tarif ini akan mulai berlaku pada 1 Februari.

Trump tidak berhenti di situ. Selanjutnya, ia memperingatkan bahwa tarif akan naik menjadi 25 persen pada 1 Juni. Tarif tersebut akan tetap berlaku sampai kedua negara mencapai kesepakatan untuk “pembelian lengkap dan total” Greenland.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Nordik Melawan: “Kami Tidak Bisa Diperas”

Para pemimpin Nordik segera menjadi garda terdepan dalam menolak ancaman ini. Perdana Menteri Swedia, Ulf Kristersson, menggunakan bahasa yang paling tajam saat menolak tarif tersebut. Ia bahkan menyebutnya sebagai “pemerasan”.

“Kami tidak akan membiarkan siapa pun memeras Swedia,” tegas Kristersson. Oleh karena itu, ia mendesak Uni Eropa untuk menangani masalah ini secara kolektif.

Baca Juga :  Biennale Venesia 2026 Dibuka Tanpa Juri Akibat Protes Geopolitik

Senada dengan Swedia, Perdana Menteri Norwegia Jonas Gahr Store menyebut ultimatum itu “tidak dapat diterima”. Ia menegaskan bahwa ancaman tidak memiliki tempat di antara sekutu. Sementara itu, Presiden Finlandia Alexander Stubb juga memperingatkan bahwa tarif dapat memicu “spiral ke bawah yang berbahaya”.

Menteri Luar Negeri Denmark, Lars Lokke Rasmussen, mengaku terkejut dengan langkah drastis ini. Ia menyatakan pihaknya terus berkoordinasi erat dengan Komisi Eropa.

Eropa Bersatu Lawan Intimidasi

Di sisi lain, para pemimpin kekuatan besar Eropa juga mengambil sikap tegas. Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan bahwa orang Eropa akan merespons secara bersatu dan terkoordinasi.

“Tidak ada intimidasi atau ancaman yang akan memengaruhi kami,” tegas Macron. Ia menekankan bahwa partisipasi Prancis dalam latihan militer di Greenland membuktikan komitmen mereka terhadap kedaulatan nasional.

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer turut mengecam langkah Trump. Ia menyebut penerapan tarif pada sekutu yang mengejar keamanan kolektif dalam NATO sebagai tindakan yang “sepenuhnya salah”.

Baca Juga :  Topan Raksasa: Bavi Bersiap Terjang Taiwan dan China

Uni Eropa Siapkan Senjata Dagang

Di Brussels, mesin birokrasi Uni Eropa mulai bergerak cepat. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dan Presiden Dewan Eropa Antonio Costa memperingatkan dalam pernyataan bersama bahwa Eropa akan tetap “bersatu, terkoordinasi, dan berkomitmen untuk menegakkan kedaulatannya.”

Episode ini memicu kembali perdebatan mengenai penggunaan Anti-Coercion Instrument (ACI), sebuah alat pertahanan dagang milik blok tersebut.

Bernd Lange, ketua Komite Perdagangan Internasional Parlemen Eropa, mendesak Komisi Eropa untuk meluncurkan ACI segera. Ia menyebut ancaman Trump sebagai “dimensi baru” dalam penggunaan tarif sebagai senjata politik.

Akibatnya, konsekuensi politik pun menjadi fatal. Manfred Weber, ketua Partai Rakyat Eropa (kelompok terbesar di Parlemen Eropa), menyatakan bahwa Parlemen Eropa tidak mungkin menyetujui kesepakatan dagang UE-AS saat ini. Ia menegaskan bahwa blok tersebut harus menunda segala langkah menuju nol tarif untuk produk AS.

Sebagai respons darurat, Siprus—pemegang presidensi bergilir UE—segera memanggil pertemuan darurat pada hari Minggu. Nantinya, duta besar dari 27 negara anggota akan berkumpul guna mengoordinasikan langkah balasan terhadap ultimatum Washington.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mal Aeon Kumamoto: Perusahaan Suruh Karyawan Amankan Uang
Australia Waspadai Lonjakan Flu Burung H5N1
Penembakan Massal di In-N-Out Idaho: Pelaku Tewas
Interpol Terbitkan Red Notice untuk Syekh Ahmad Al Misry, Polisi Sebut Masih di Mesir
Dua Helikopter Pemadam Tabrakan di Yunani
Israel Gempur Gaza 2 Hari Berturut-turut, 18 Warga Tewas
Bom Bunuh Diri Guncang Unjuk Rasa Anti-Militan di Pakistan
Trump Tunda Serangan Militer dan Buka Perundingan dengan Iran

Berita Terkait

Selasa, 4 Agustus 2026 - 14:40 WIB

Mal Aeon Kumamoto: Perusahaan Suruh Karyawan Amankan Uang

Selasa, 4 Agustus 2026 - 13:24 WIB

Australia Waspadai Lonjakan Flu Burung H5N1

Selasa, 4 Agustus 2026 - 11:49 WIB

Penembakan Massal di In-N-Out Idaho: Pelaku Tewas

Selasa, 4 Agustus 2026 - 11:07 WIB

Interpol Terbitkan Red Notice untuk Syekh Ahmad Al Misry, Polisi Sebut Masih di Mesir

Selasa, 4 Agustus 2026 - 09:18 WIB

Dua Helikopter Pemadam Tabrakan di Yunani

Berita Terbaru

Perusahaan Habita Inc. meminta maaf usai menyuruh dua karyawannya kembali ke dalam Mal Aeon Kashima pasca gempa Kumamoto hingga tewas akibat ledakan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Mal Aeon Kumamoto: Perusahaan Suruh Karyawan Amankan Uang

Selasa, 4 Agu 2026 - 14:40 WIB

Pemerintah Australia memperingatkan potensi lonjakan penyebaran wabah flu burung H5N1 setelah menemukan kasus kematian massal pertama. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Australia Waspadai Lonjakan Flu Burung H5N1

Selasa, 4 Agu 2026 - 13:24 WIB

Kepolisian Twin Falls mengonfirmasi insiden penembakan di restoran In-N-Out Burger, Idaho. Akibatnya, tiga orang tewas dan tujuh warga mengalami luka-luka. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Penembakan Massal di In-N-Out Idaho: Pelaku Tewas

Selasa, 4 Agu 2026 - 11:49 WIB