WELLINGTON, POSNEWS.CO.ID – Seribu hari pertama kehidupan sudah lama dikenal sebagai periode emas yang menentukan masa depan kesehatan seseorang. Namun, apa yang sebenarnya terjadi selama periode kritis itu sering kali kurang terdokumentasi dengan baik.
Demi mengisi kekosongan data ini, Kementerian Pembangunan Sosial Selandia Baru memulai studi longitudinal raksasa. Mereka merekrut 6.846 bayi yang lahir antara Maret 2009 dan Mei 2010 dari daerah padat penduduk. Tujuannya ambisius: memantau tumbuh kembang mereka hingga usia 21 tahun.
Hingga tahun 2014, empat laporan utama telah dirilis di bawah payung Growing Up in New Zealand (GUiNZ). Hasilnya melukiskan potret Selandia Baru sebagai negara yang kompleks dan berubah cepat, jauh berbeda dari generasi sebelumnya.
Wajah Baru Demografi
Data studi menunjukkan pergeseran etnis yang signifikan. Meskipun mayoritas masih teridentifikasi sebagai Warga Selandia Baru keturunan Eropa, keragaman meningkat tajam.
Sekitar 25% bayi adalah Maori (penduduk asli), 20% berasal dari Pasifik, dan satu dari enam bayi adalah keturunan Asia. Menariknya, hampir 50% anak-anak dalam kohort ini memiliki lebih dari satu etnisitas, mencerminkan masyarakat yang kian majemuk.
Fakta mengejutkan lainnya muncul di laporan pertama, Before We Are Born (2010). Satu dari tiga anak lahir dari ibu atau ayah yang tidak tumbuh besar di Selandia Baru. Ini berbeda jauh dari studi sebelumnya di mana mayoritas orang tua adalah penduduk lokal.
Realitas Ibu Bekerja dan ASI
Laporan kedua, Now We Are Born, menyoroti tantangan kesehatan dan ekonomi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan ASI eksklusif selama enam bulan. Namun, studi ini menemukan median pemberian ASI eksklusif hanya bertahan empat bulan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Penyebab utamanya adalah tekanan ekonomi. Hampir sepertiga ibu telah kembali bekerja penuh waktu pada titik tersebut.
Meskipun 54% keluarga memiliki rumah sendiri, hampir semua orang tua mengalami penurunan pendapatan, bahkan ada yang drastis. Di sisi kesehatan mental, statistik menunjukkan angka yang perlu diwaspadai: 11% ibu mengalami depresi pasca-melahirkan (post-natal depression).
Balita Era Digital
Laporan ketiga, Now We Are Two, memberikan wawasan tentang perkembangan balita. Temuan paling mencolok adalah tingginya paparan teknologi sejak dini.
Satu dari tujuh anak berusia dua tahun tercatat sudah menggunakan laptop atau komputer anak-anak. Selain itu, 80% dari mereka menonton TV atau DVD setiap hari. Meskipun demikian, literasi konvensional tidak mati; 66% anak masih dibacakan buku setiap hari oleh orang tua mereka.
Kemampuan bahasa juga berkembang pesat. Sekitar 40% anak tumbuh sebagai bilingual atau multilingual. Kata pertama yang paling umum adalah variasi dari panggilan “Ibu”, dan makanan favorit pertama mereka adalah pisang.
Faktor Risiko dan Masa Depan
Laporan keempat beralih ke analisis risiko. Peneliti mengevaluasi dua belas faktor lingkungan yang meningkatkan kemungkinan hasil perkembangan yang buruk, termasuk kelahiran dari ibu remaja, ketergantungan pada tunjangan sosial, dan kondisi tempat tinggal yang sempit.
Ke depannya, laporan GUiNZ akan fokus meneliti anak-anak yang “keluar-masuk” dari zona kerentanan ini untuk melihat dampaknya pada kehidupan dewasa mereka.
Hingga saat ini, studi ini terbilang sangat sukses dengan tingkat dropout peserta yang sangat kecil. Bahkan keluarga yang telah pindah ke luar negeri, terutama ke Australia, terus mengirimkan data, menjadikan GUiNZ sebagai salah satu peta jalan terpenting bagi kebijakan kesehatan publik global.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















