1.000 Hari Penentu Masa Depan: Studi Raksasa Selandia Baru Ungkap Fakta Mengejutkan tentang Bayi Modern

Minggu, 18 Januari 2026 - 21:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Lebih dari 6.800 bayi dipantau hingga usia 21 tahun. Hasil awal mengungkap tingginya paparan digital pada balita dan pergeseran demografi yang dramatis. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Lebih dari 6.800 bayi dipantau hingga usia 21 tahun. Hasil awal mengungkap tingginya paparan digital pada balita dan pergeseran demografi yang dramatis. Dok: Istimewa.

WELLINGTON, POSNEWS.CO.ID – Seribu hari pertama kehidupan sudah lama dikenal sebagai periode emas yang menentukan masa depan kesehatan seseorang. Namun, apa yang sebenarnya terjadi selama periode kritis itu sering kali kurang terdokumentasi dengan baik.

Demi mengisi kekosongan data ini, Kementerian Pembangunan Sosial Selandia Baru memulai studi longitudinal raksasa. Mereka merekrut 6.846 bayi yang lahir antara Maret 2009 dan Mei 2010 dari daerah padat penduduk. Tujuannya ambisius: memantau tumbuh kembang mereka hingga usia 21 tahun.

Hingga tahun 2014, empat laporan utama telah dirilis di bawah payung Growing Up in New Zealand (GUiNZ). Hasilnya melukiskan potret Selandia Baru sebagai negara yang kompleks dan berubah cepat, jauh berbeda dari generasi sebelumnya.

Wajah Baru Demografi

Data studi menunjukkan pergeseran etnis yang signifikan. Meskipun mayoritas masih teridentifikasi sebagai Warga Selandia Baru keturunan Eropa, keragaman meningkat tajam.

Sekitar 25% bayi adalah Maori (penduduk asli), 20% berasal dari Pasifik, dan satu dari enam bayi adalah keturunan Asia. Menariknya, hampir 50% anak-anak dalam kohort ini memiliki lebih dari satu etnisitas, mencerminkan masyarakat yang kian majemuk.

Baca Juga :  Kebakaran Sadis di Penjaringan Jakarta Utara, Gudang dan Rumah Hangus, 5 Orang Tewas

Fakta mengejutkan lainnya muncul di laporan pertama, Before We Are Born (2010). Satu dari tiga anak lahir dari ibu atau ayah yang tidak tumbuh besar di Selandia Baru. Ini berbeda jauh dari studi sebelumnya di mana mayoritas orang tua adalah penduduk lokal.

Realitas Ibu Bekerja dan ASI

Laporan kedua, Now We Are Born, menyoroti tantangan kesehatan dan ekonomi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan ASI eksklusif selama enam bulan. Namun, studi ini menemukan median pemberian ASI eksklusif hanya bertahan empat bulan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Penyebab utamanya adalah tekanan ekonomi. Hampir sepertiga ibu telah kembali bekerja penuh waktu pada titik tersebut.

Meskipun 54% keluarga memiliki rumah sendiri, hampir semua orang tua mengalami penurunan pendapatan, bahkan ada yang drastis. Di sisi kesehatan mental, statistik menunjukkan angka yang perlu diwaspadai: 11% ibu mengalami depresi pasca-melahirkan (post-natal depression).

Balita Era Digital

Laporan ketiga, Now We Are Two, memberikan wawasan tentang perkembangan balita. Temuan paling mencolok adalah tingginya paparan teknologi sejak dini.

Satu dari tujuh anak berusia dua tahun tercatat sudah menggunakan laptop atau komputer anak-anak. Selain itu, 80% dari mereka menonton TV atau DVD setiap hari. Meskipun demikian, literasi konvensional tidak mati; 66% anak masih dibacakan buku setiap hari oleh orang tua mereka.

Baca Juga :  Fenomena Jam Koma: Disosiasi Massal Generasi Z di Tengah Hingar Bingar Digital

Kemampuan bahasa juga berkembang pesat. Sekitar 40% anak tumbuh sebagai bilingual atau multilingual. Kata pertama yang paling umum adalah variasi dari panggilan “Ibu”, dan makanan favorit pertama mereka adalah pisang.

Faktor Risiko dan Masa Depan

Laporan keempat beralih ke analisis risiko. Peneliti mengevaluasi dua belas faktor lingkungan yang meningkatkan kemungkinan hasil perkembangan yang buruk, termasuk kelahiran dari ibu remaja, ketergantungan pada tunjangan sosial, dan kondisi tempat tinggal yang sempit.

Ke depannya, laporan GUiNZ akan fokus meneliti anak-anak yang “keluar-masuk” dari zona kerentanan ini untuk melihat dampaknya pada kehidupan dewasa mereka.

Hingga saat ini, studi ini terbilang sangat sukses dengan tingkat dropout peserta yang sangat kecil. Bahkan keluarga yang telah pindah ke luar negeri, terutama ke Australia, terus mengirimkan data, menjadikan GUiNZ sebagai salah satu peta jalan terpenting bagi kebijakan kesehatan publik global.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ketua Mahendra Siregar dan Pejabat Tinggi Mundur Massal di Tengah Gejolak Pasar
Tabung Pink Berisi Gas N2O di Kamar Lula Lahfah, Polisi Ungkap Bahaya Euforia Mematikan
Polresta Malang Bongkar 31 Kasus Narkoba Januari 2026, 36 Tersangka Ditangkap
Basarnas Temukan 60 Bodypack Korban Longsor Cisarua, 20 Orang Masih Dicari
Rotasi Kapolda dan Pejabat Mabes Polri, Kapolri Tegaskan Profesionalisme
Rumah Siti Nurbaya Digeledah Kejagung, Fokus Kasus Korupsi Perkebunan Sawit
Bau Sampah Mengganggu, RDF Rorotan Dihentikan Sementara oleh Pemprov DKI
Banjir 2 Meter Kepung Kebon Pala, Ditpolairud Polda Metro Jaya Evakuasi Warga

Berita Terkait

Jumat, 30 Januari 2026 - 21:23 WIB

Ketua Mahendra Siregar dan Pejabat Tinggi Mundur Massal di Tengah Gejolak Pasar

Jumat, 30 Januari 2026 - 21:05 WIB

Tabung Pink Berisi Gas N2O di Kamar Lula Lahfah, Polisi Ungkap Bahaya Euforia Mematikan

Jumat, 30 Januari 2026 - 20:50 WIB

Polresta Malang Bongkar 31 Kasus Narkoba Januari 2026, 36 Tersangka Ditangkap

Jumat, 30 Januari 2026 - 20:06 WIB

Basarnas Temukan 60 Bodypack Korban Longsor Cisarua, 20 Orang Masih Dicari

Jumat, 30 Januari 2026 - 19:49 WIB

Rotasi Kapolda dan Pejabat Mabes Polri, Kapolri Tegaskan Profesionalisme

Berita Terbaru