JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Pernahkah Anda mengajak bicara seseorang, tetapi mereka hanya menatap kosong? Tubuh mereka ada di depan mata, namun jiwa mereka seolah melayang entah ke mana.
Sesaat kemudian, mereka tersentak kaget dan bertanya bingung, “Hah? Apa?”. Fenomena unik ini sedang melanda anak muda. Netizen lantas menyebutnya sebagai “Jam Koma”.
Istilah gaul ini menggambarkan momen disosiasi sesaat. Seseorang tiba-tiba kehilangan fokus, melamun, atau mengalami lagging saat berinteraksi sosial. Awalnya, hal ini menjadi bahan tertawaan di TikTok. Namun, di balik kelucuan itu, tersimpan masalah kognitif yang serius.
Otak Lelah Dihajar Algoritma
Penyebab utama kondisi ini berkaitan erat dengan kebiasaan digital kita. Faktanya, otak Gen Z bekerja terlalu keras memproses informasi tanpa henti setiap harinya.
Mereka menghabiskan waktu berjam-jam untuk scrolling media sosial. Akibatnya, otak mengalami kelelahan kognitif yang parah. Para ahli sering mengaitkan kondisi ini dengan istilah brain rot atau pembusukan otak kiasan.
Saraf-saraf otak menjadi tumpul karena overstimulasi dopamin. Oleh sebab itu, sistem saraf seolah “mematikan sakelar” sejenak untuk beristirahat secara paksa. Lantas, terjadilah momen “koma” tersebut di tengah aktivitas harian yang padat.
Canggung dan Gagap Sosial
Dampak sosial dari fenomena ini sangat terasa di dunia nyata. Kemampuan menjaga percakapan tatap muka kini menjadi barang langka.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Banyak anak muda merasa canggung atau awkward saat harus mengobrol panjang tanpa gawai. Sering kali, mereka kehabisan kata-kata atau lupa topik pembicaraan di tengah kalimat.
Kesadaran situasional mereka pun menurun drastis. Mereka sering tidak menyadari kejadian di sekitar karena terlalu asyik dengan dunia dalam kepala sendiri. Imbasnya, koneksi antarmanusia menjadi dangkal dan sering terputus-putus.
Tanda Bahaya, Bukan Lelucon
Kita mungkin tertawa melihat video kompilasi orang yang sedang “jam koma”. Akan tetapi, kita harus mulai waspada. Apakah ini sekadar tren internet yang lucu atau tanda penurunan fungsi kognitif massal?
Jawabannya cenderung mengarah ke opsi kedua. Kehilangan fokus secara terus-menerus adalah sinyal bahwa otak sedang berteriak minta tolong. Kemampuan kita untuk hadir utuh pada saat ini (mindfulness) sedang tergerus habis oleh teknologi.
Kembalikan “Nyawa” Lewat Detoks
Pada akhirnya, kita perlu melakukan intervensi nyata. Jangan biarkan “jam koma” menjadi gaya hidup permanen. Kita harus berani meletakkan ponsel dan melakukan detoks digital.
Paksa otak untuk beristirahat dari gempuran algoritma. Lakukan aktivitas fisik, menatap langit, atau sekadar bernapas panjang tanpa gangguan notifikasi.
Kita harus mengembalikan “nyawa” dan kesadaran penuh ke dunia nyata. Ingatlah, momen terbaik dalam hidup terjadi di depan mata kita, bukan di balik layar kaca yang dingin.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia



















