Bagaimana Tanaman Saling Membunuh?

Rabu, 21 Januari 2026 - 10:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Tanaman terlihat pasif, namun di balik tanah, mereka melancarkan perang kimia mematikan dan merekrut pasukan semut untuk melawan jerapah. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Tanaman terlihat pasif, namun di balik tanah, mereka melancarkan perang kimia mematikan dan merekrut pasukan semut untuk melawan jerapah. Dok: Istimewa.

IOWA, POSNEWS.CO.ID – Sebutkan kata “perang kimia” atau “pengerahan pasukan” dalam percakapan, dan lawan bicara Anda pasti membayangkan konflik militer manusia. Namun, realitasnya, ada perang lain yang jauh lebih tua, lebih sering terjadi, dan jauh lebih rumit tepat di bawah kaki kita: perang di kerajaan tumbuhan.

Kita sering menganggap tanaman sebagai organisme pasif. Namun, layaknya hewan, mereka harus bertarung setiap hari demi kelangsungan hidup. Nutrisi, cahaya, dan air adalah sumber daya terbatas. Tanpa kaki untuk berpindah, persaingan memperebutkan tiga hal ini bisa menjadi sangat ganas.

Beberapa pohon mengandalkan keunggulan arsitektur—tumbuh lebih tinggi untuk mencuri cahaya atau menjulurkan akar lebih dalam. Namun, ada kelompok lain yang lebih licik. Mereka mempertahankan wilayah melalui “alelopati”, atau perang kimia.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bom Kimia di Dalam Tanah

Dr. Robin Andrews menjelaskan mekanismenya. Tanaman mengubah nutrisi tanah menjadi energi dengan bantuan senyawa organik bernama metabolit. Metabolit sekunder, berbeda dengan yang primer, sering kali berfungsi sebagai mekanisme pertahanan.

Baca Juga :  Anak Usia 4 Tahun Tiba-Tiba Menjadi Cerdas Secara Sosial

Dua metabolit sekunder yang menjadi sorotan adalah DIBOA dan DIMBOA. Sebuah studi tahun 2015 oleh Sascha Venturelli menemukan fakta mengerikan tentang senyawa asam ini.

Begitu tanaman melepaskannya ke tanah, senyawa ini berdegenerasi menjadi zat beracun. Tetangga yang tidak waspada akan menyerap racun ini. Akibatnya, racun tersebut akan menghambat pertumbuhan mereka atau bahkan mematikannya.

“Mekanisme molekuler di baliknya sangat rumit, bahkan bisa membuat bom kimia buatan manusia terlihat memalukan,” catat Dr. Claude Becker.

Racun Mematikan vs Penyebab Sakit Perut

Tanaman tidak hanya berperang melawan sesamanya; mereka juga harus menghalau herbivora yang lapar. Brent Mortensen dari Iowa State University membagi strategi pertahanan ini menjadi dua: kualitatif dan kuantitatif.

Pertahanan kualitatif adalah senjata pembunuh. Zat ini bisa mematikan bahkan dalam dosis kecil. Tanaman sering menggunakannya untuk melindungi daun muda atau biji yang berharga.

Sebaliknya, pertahanan kuantitatif bekerja seperti barikade tebal. Zat ini hanya efektif dalam dosis besar, tetapi bisa melindungi tanaman dari segala jenis herbivora. Efeknya tidak langsung mematikan, melainkan menyiksa: menyebabkan gangguan pencernaan, rasa sakit, iritasi mulut, hingga pembengkakan kulit.

Baca Juga :  Jepang Rem Overtourism: Aturan Ekowisata Diperketat untuk Pertama Kali Sejak 2008

Tentara Bayaran Akasia

Pohon Akasia Afrika mungkin memiliki strategi paling cerdas. Alih-alih bertarung sendiri, mereka merekrut “tentara bayaran”.

Angela White dari Universitas Sheffield menjelaskan bahwa pohon akasia memiliki struktur berongga khusus untuk mengundang koloni semut bersarang. Sebagai imbalan atas tempat tinggal dan nektar khusus, semut-semut ini menjadi penjaga yang ganas.

Mereka tidak hanya menyerang serangga kecil yang mencoba memakan daun akasia, tetapi juga berani mengeroyok herbivora raksasa seperti jerapah yang mencoba mendekat.

Dari Racun Menjadi Obat Kanker

Apa relevansi perang tumbuhan ini bagi manusia? Jawabannya mengejutkan dunia medis.

Dr. Venturelli mengungkapkan bahwa alelokimia—senyawa racun yang tanaman gunakan untuk mengerdilkan tetangganya—ternyata memiliki efek pada sel kanker manusia.

Uji klinis di University Clinics TĂĽbingen saat ini sedang menilai kemanjuran racun tanaman ini pada pasien kanker. Memahami cara tanaman membunuh musuhnya ternyata bisa menjadi kunci bagi manusia untuk membunuh penyakit paling mematikan di dunia.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang
Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap
Tarumajaya Bekasi Penuhi Sampah dan Genangan, Warga Desak Dedi Mulyadi Bertindak
Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa
Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar
Kapal Mati Mesin di Perairan Pulau Pari, Gulkarmat Evakuasi 150 Penumpang
Home Industry Vape THC di Bali Terbongkar, Omzet Diduga Capai Rp300 Miliar
TPA Jatiwaringin Tangerang Terbakar 15 Hektare, BNPB: 40 Persen Api Sudah Padam

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 20:17 WIB

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang

Sabtu, 18 Juli 2026 - 19:13 WIB

Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap

Selasa, 7 Juli 2026 - 21:55 WIB

Tarumajaya Bekasi Penuhi Sampah dan Genangan, Warga Desak Dedi Mulyadi Bertindak

Senin, 6 Juli 2026 - 05:24 WIB

Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa

Minggu, 5 Juli 2026 - 20:09 WIB

Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar

Berita Terbaru

Solusi gaming 1080p hemat energi. AMD merilis GPU Radeon RX 9050 berarsitektur RDNA yang hanya mengonsumsi daya 92 Watt. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

AMD Resmi Meluncurkan Driver Adrenalin Edition 26.7.1

Sabtu, 1 Agu 2026 - 11:03 WIB

Aksi warga menyelamatkan warisan sejarah. Ribuan warga Moskow menggalang petisi guna menyelamatkan pabrik bersejarah Elektrozavod dari proyek apartemen. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Warga Galang 21 Ribu Tanda Tangan Tolak Pembongkaran

Sabtu, 1 Agu 2026 - 10:30 WIB

Ketegangan sektarian di Nepal. Bentrokan warga Hindu dan Muslim merenggut tiga nyawa serta memaksa pemerintah memberlakukan jam malam. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Kerusuhan Mengguncang Nepal Tenggara: 3 Warga Meninggal

Sabtu, 1 Agu 2026 - 09:30 WIB