IOWA, POSNEWS.CO.ID – Sebutkan kata “perang kimia” atau “pengerahan pasukan” dalam percakapan, dan lawan bicara Anda pasti membayangkan konflik militer manusia. Namun, realitasnya, ada perang lain yang jauh lebih tua, lebih sering terjadi, dan jauh lebih rumit tepat di bawah kaki kita: perang di kerajaan tumbuhan.
Kita sering menganggap tanaman sebagai organisme pasif. Namun, layaknya hewan, mereka harus bertarung setiap hari demi kelangsungan hidup. Nutrisi, cahaya, dan air adalah sumber daya terbatas. Tanpa kaki untuk berpindah, persaingan memperebutkan tiga hal ini bisa menjadi sangat ganas.
Beberapa pohon mengandalkan keunggulan arsitektur—tumbuh lebih tinggi untuk mencuri cahaya atau menjulurkan akar lebih dalam. Namun, ada kelompok lain yang lebih licik. Mereka mempertahankan wilayah melalui “alelopati”, atau perang kimia.
Bom Kimia di Dalam Tanah
Dr. Robin Andrews menjelaskan mekanismenya. Tanaman mengubah nutrisi tanah menjadi energi dengan bantuan senyawa organik bernama metabolit. Metabolit sekunder, berbeda dengan yang primer, sering kali berfungsi sebagai mekanisme pertahanan.
Dua metabolit sekunder yang menjadi sorotan adalah DIBOA dan DIMBOA. Sebuah studi tahun 2015 oleh Sascha Venturelli menemukan fakta mengerikan tentang senyawa asam ini.
Begitu tanaman melepaskannya ke tanah, senyawa ini berdegenerasi menjadi zat beracun. Tetangga yang tidak waspada akan menyerap racun ini. Akibatnya, racun tersebut akan menghambat pertumbuhan mereka atau bahkan mematikannya.
“Mekanisme molekuler di baliknya sangat rumit, bahkan bisa membuat bom kimia buatan manusia terlihat memalukan,” catat Dr. Claude Becker.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Racun Mematikan vs Penyebab Sakit Perut
Tanaman tidak hanya berperang melawan sesamanya; mereka juga harus menghalau herbivora yang lapar. Brent Mortensen dari Iowa State University membagi strategi pertahanan ini menjadi dua: kualitatif dan kuantitatif.
Pertahanan kualitatif adalah senjata pembunuh. Zat ini bisa mematikan bahkan dalam dosis kecil. Tanaman sering menggunakannya untuk melindungi daun muda atau biji yang berharga.
Sebaliknya, pertahanan kuantitatif bekerja seperti barikade tebal. Zat ini hanya efektif dalam dosis besar, tetapi bisa melindungi tanaman dari segala jenis herbivora. Efeknya tidak langsung mematikan, melainkan menyiksa: menyebabkan gangguan pencernaan, rasa sakit, iritasi mulut, hingga pembengkakan kulit.
Tentara Bayaran Akasia
Pohon Akasia Afrika mungkin memiliki strategi paling cerdas. Alih-alih bertarung sendiri, mereka merekrut “tentara bayaran”.
Angela White dari Universitas Sheffield menjelaskan bahwa pohon akasia memiliki struktur berongga khusus untuk mengundang koloni semut bersarang. Sebagai imbalan atas tempat tinggal dan nektar khusus, semut-semut ini menjadi penjaga yang ganas.
Mereka tidak hanya menyerang serangga kecil yang mencoba memakan daun akasia, tetapi juga berani mengeroyok herbivora raksasa seperti jerapah yang mencoba mendekat.
Dari Racun Menjadi Obat Kanker
Apa relevansi perang tumbuhan ini bagi manusia? Jawabannya mengejutkan dunia medis.
Dr. Venturelli mengungkapkan bahwa alelokimia—senyawa racun yang tanaman gunakan untuk mengerdilkan tetangganya—ternyata memiliki efek pada sel kanker manusia.
Uji klinis di University Clinics TĂĽbingen saat ini sedang menilai kemanjuran racun tanaman ini pada pasien kanker. Memahami cara tanaman membunuh musuhnya ternyata bisa menjadi kunci bagi manusia untuk membunuh penyakit paling mematikan di dunia.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















