KIEV, POSNEWS.CO.ID – Panggung Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos kembali memanas pada Rabu malam (22/1). Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dilaporkan sedang dalam perjalanan menuju resor Swiss tersebut secara mendadak.
Keputusan ini mengejutkan banyak pihak. Sehari sebelumnya, Zelenskyy menegaskan tidak akan hadir karena serangan Rusia telah menjerumuskan Ukraina ke dalam krisis energi parah.
“Tidak diragukan lagi, saya memilih Ukraina dalam kasus ini, daripada forum ekonomi,” katanya saat itu.
Namun, situasi berubah cepat setelah Presiden AS Donald Trump tampaknya “memanggil” Zelenskyy. Pengumuman Trump terkesan mendadak, bahkan sempat menyebut pertemuan akan terjadi hari Rabu saat Zelenskyy masih di Kiev. Para pejabat kemudian mengklarifikasi bahwa pertemuan krusial itu akan berlangsung pada hari Kamis.
Zelenskyy membawa sikap pragmatis. “Pertemuan dengan Amerika harus selalu berakhir dengan hasil konkret untuk memperkuat Ukraina atau mendekatkan pada akhir perang,” tegasnya.
Negosiator dan BlackRock
Mesin diplomasi sebenarnya sudah bekerja sejak Sabtu. Negosiator utama Ukraina, Rustem Umerov, melaporkan telah bertemu dengan perwakilan AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, di Davos.
Umerov mengulangi refrain yang akrab: pembicaraan berfokus pada jaminan keamanan dan pemulihan pasca-perang. Tak hanya itu, delegasi Ukraina juga bertemu dengan perwakilan firma investasi raksasa AS, BlackRock, untuk membahas rencana pembangunan kembali negara yang hancur tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Manuver Licin Putin: Aset Beku
Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin tidak tinggal diam. Ia mengumumkan akan bertemu dengan Witkoff dan Kushner pada hari Kamis di Moskow, segera setelah mereka bertolak dari Davos.
Agenda Putin sangat spesifik dan strategis: membahas kemungkinan penggunaan aset Rusia yang dibekukan.
Uni Eropa selama ini bergulat mencari cara legal untuk memobilisasi aset Rusia senilai sekitar €300 miliar ($350 miliar) yang ditahan di Belgia untuk membantu Ukraina. Putin tampaknya mencoba memotong usaha Eropa tersebut.
Kantor berita Rusia mengutip Putin yang mengatakan ingin menggunakan dana tersebut untuk memulihkan “[wilayah] yang rusak selama tindakan militer”. Namun, ia tidak merinci apakah itu wilayah Ukraina, Rusia, atau wilayah pendudukan.
NATO: “Waktunya Adalah Sekarang”
Di Brussels, Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mengeluarkan permohonan yang mendesak. Dalam pesan video kepada para petinggi militer, ia meminta mereka menekan pemerintah masing-masing untuk segera mengirim sistem pertahanan udara ke Ukraina.
“Tolong gunakan pengaruh Anda untuk membantu tuan politik Anda melakukan lebih banyak lagi,” desak Rutte. “Lihat jauh ke dalam persediaan Anda… Waktunya benar-benar sekarang.”
Perang Drone di Selatan Rusia
Di lapangan, pertempuran terus berkecamuk. Pihak berwenang Rusia melaporkan serangan drone Ukraina membakar tangki terminal minyak di Volna, wilayah Krasnodar selatan, pada hari Rabu. Serangan ini diklaim menewaskan tiga orang dan melukai delapan lainnya.
Klaim dan klaim balasan juga terjadi terkait kebakaran di bangunan tempat tinggal dekat kota Krasnodar. Pemimpin wilayah menuduh itu serangan drone Ukraina yang melukai 11 orang.
Sebaliknya, Kepala pusat anti-disinformasi Ukraina, Andriy Kovalenko, memberikan versi berbeda. “Sebuah rudal pertahanan udara Rusia menghantam bangunan tempat tinggal di kota Afipsky,” tudingnya, menyebutnya sebagai tembakan nyasar pasukan Rusia sendiri.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia
Sumber Berita: The Guardian





















