NEW YORK, POSNEWS.CO.ID – Akhirnya, TikTok menekan tombol “penyelamatan darurat” untuk mempertahankan nyawanya di pasar Amerika Serikat. Pada hari Kamis (22/1), raksasa media sosial ini mengumumkan pembentukan entitas baru bernama TikTok U.S. Data Security Joint Venture LLC (TikTok USDS JV).
Perusahaan mengambil langkah ini sebagai manuver strategis untuk menghindari larangan total di AS. Dengan struktur baru ini, lebih dari 200 juta pengguna Amerika dapat bernapas lega karena akses mereka ke platform video pendek tersebut tetap aman.
Oleh karena itu, kunci dari kesepakatan ini terletak pada pergeseran kekuasaan yang drastis. Perusahaan baru ini akan memiliki struktur kepemilikan mayoritas Amerika. Hal ini memenuhi syarat mutlak yang selama ini Washington tuntut.
Oracle dan Silver Lake Ambil Alih Kendali
Secara rinci, pengumuman resmi mengungkapkan pembagian kue kekuasaan yang menarik. Investor Amerika dan global akan memegang gabungan saham sebesar 80,1 persen.
Tiga raksasa investasi memimpin konsorsium ini:
- Oracle (15 persen)
- Silver Lake (15 persen)
- MGX (15 persen)
Sementara itu, ByteDance, induk perusahaan TikTok asal China, harus rela menjadi pemegang saham minoritas dengan porsi hanya 19,9 persen.
Kendali Penuh atas Algoritma dan E-Commerce
TikTok USDS JV bukan sekadar perusahaan cangkang. Sebaliknya, entitas ini memegang mandat yang sangat luas dan sensitif. Mereka akan mengelola perlindungan data, keamanan algoritma, moderasi konten, dan jaminan perangkat lunak untuk seluruh operasi TikTok di AS.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Lebih jauh lagi, perusahaan patungan ini juga akan mengendalikan aktivitas komersial vital. Ini mencakup e-commerce (TikTok Shop), periklanan, dan pemasaran, serta memastikan interoperabilitas produk global platform tersebut.
Dengan kata lain, jantung operasi TikTok di Amerika kini berdetak di bawah pengawasan ketat entitas di mana kepentingan Barat mendominasi.
Shou Chew Tetap di Dewan Direksi
Selanjutnya, dari sisi tata kelola, dewan direksi beranggotakan tujuh orang akan memimpin perusahaan patungan ini. Pihak perusahaan memastikan bahwa CEO TikTok saat ini, Shou Chew, akan duduk di kursi dewan tersebut guna menjembatani operasi global dengan entitas baru ini.
Kesepakatan ini menandai tonggak sejarah dalam saga panjang ketegangan teknologi AS-China. Setelah bertahun-tahun menghadapi ancaman pemblokiran dan negosiasi alot (sering disebut sebagai “Project Texas”), pembentukan USDS JV tampaknya menjadi kompromi final. Langkah ini berhasil memuaskan kekhawatiran keamanan nasional AS tanpa mematikan aplikasi favorit Gen Z tersebut.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















