TEXAS, POSNEWS.CO.ID – Hingga baru-baru ini, hanya negara-negara adidaya yang memiliki tiket menuju bintang. Nama-nama seperti NASA, ESA, dan Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) adalah pemegang kunci gerbang langit.
Namun, era itu telah berakhir. Sekelompok perusahaan swasta kini menantang kemapanan tersebut. Pertanyaan besarnya: apakah mereka hanya mengejar dolar para turis kaya, ataukah eksplorasi mereka benar-benar akan memberi manfaat bagi umat manusia?
Saat ini, setidaknya empat perusahaan besar Amerika dan dua perusahaan Inggris terlibat dalam perlombaan antariksa baru. Misi mereka? Mengirim turis ke tepi atmosfer Bumi untuk merasakan sensasi tanpa bobot dan melihat planet biru kita dari kejauhan.
Mainan Para Taipan: Bezos hingga Pencipta “Doom”
Jeff Bezos, miliarder di balik raksasa Amazon, mendirikan salah satu pemain utama, Blue Origin. Perusahaan merancang proyek utamanya—sebuah roket yang lepas landas dan mendarat secara vertikal—khusus untuk pariwisata.
Pesaingnya datang dari dunia video game. John Carmack, jenius di balik game legendaris “Doom” dan “Quake”, mendirikan Armadillo Aerospace.
Armadillo mengembangkan pesawat ruang angkasa serupa dengan tarif perjalanan suborbital mulai dari $100.000 (Rp 1,5 miliar). Meskipun masih dalam tahap pengujian, agen perjalanan Space Adventures sudah mulai menjual kursi mereka.
XCOR Aerospace menawarkan alternatif yang “lebih murah” dengan pesawat Lynx-nya. Pesawat ini bisa lepas landas dan mendarat di landasan pacu bandara sipil biasa, melakukan empat penerbangan sehari dengan membawa satu penumpang setiap kali.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sementara itu, Richard Branson dengan Virgin Galactic mematok harga $200.000 untuk sensasi singkat di tepi atmosfer. Di Inggris, Steve Bennet dari Starchaser menjanjikan pengalaman lebih lama: penerbangan 20 menit dengan beberapa menit di antaranya dalam kondisi nol gravitasi.
SpaceX: Lebih dari Sekadar Tamasya
Namun, di antara semua pemain swasta, SpaceX adalah raksasa yang berbeda kelas. Elon Musk, pengusaha kelahiran Afrika Selatan yang kaya raya berkat PayPal, mendirikan SpaceX dengan visi yang jauh melampaui sekadar wisata.
Musk tidak berminat pensiun dan menikmati kekayaannya. Sebaliknya, ia bekerja 100 jam seminggu di pabrik roketnya di Los Angeles.
Bagi Musk, perjalanan luar angkasa bukan tentang mencentang daftar keinginan di buku panduan wisata. Ia percaya masa depan umat manusia bergantung pada kemampuan kita mengoloni planet lain.
Sejak mahasiswa, ia terobsesi dengan masa depan. Baginya, hidup di planet lain adalah satu-satunya cara manusia mencegah penghancuran diri sendiri atau selamat dari peristiwa katastrofik seperti hantaman meteorit besar.
Revolusi Biaya dan Ambisi Mars
SpaceX, yang berdiri pada 2002, bergerak dengan kecepatan kilat. Dalam tujuh tahun, mereka meluncurkan satelit dengan roket Falcon 1—prestasi yang butuh waktu puluhan tahun bagi NASA.
Pada 2010, roket Falcon 9 yang lebih besar meluncur. Kini, mereka menyediakan layanan “taksi” ke ISS dengan pesawat ulang-alik Dragon. Desain Dragon sangat berbeda dari Shuttle milik NASA dan jauh lebih murah.
Rahasia Musk adalah efisiensi brutal. Ia merancang mesin Merlin yang elegan dan kuat, namun berjalan dengan bahan bakar kerosene (minyak tanah) yang sangat halus—harganya setengah dari bahan bakar roket biasa.
Dengan komponen yang dapat digunakan kembali (re-usable) dan tahapan roket yang lebih sedikit, SpaceX memangkas biaya produksi hingga sebagian kecil dari pesaingnya tanpa mengorbankan standar keselamatan.
Musk yakin roket Falcon 9 miliknya sebenarnya sudah cukup kuat untuk mencapai Mars jika insinyur merakitnya di orbit Bumi. Ia memprediksi kemajuan teknologi ini akan terjadi dalam 20 tahun—target yang banyak pakar anggap mustahil.
Lebih jauh, ia percaya hidup di Mars mungkin terjadi dalam masa hidup anak-anaknya. Bagi Musk, perlombaan ini bukan soal menjual tiket wahana antariksa, melainkan soal mengamankan masa depan spesies manusia.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















