HOUSTON, POSNEWS.CO.ID – Saat dunia menyaksikan dengan penuh semangat pendaratan Neil Armstrong dan Buzz Aldrin di Bulan, para ilmuwan planet justru berfokus pada hal lain. Bagi mereka, nilai utama dari misi tersebut terletak pada kargo yang dibawa kembali ke Bumi.
Menjelang akhir misi mereka, Armstrong dan Aldrin berhasil mengumpulkan 22 kilogram batuan bulan yang memenuhi sebuah koper kecil. Selama enam misi Apollo, para kru membawa pulang total 382 kilogram material yang berisi 2.200 sampel unik. Koleksi inilah yang kemudian menjadi fondasi bagi revolusi pemahaman manusia tentang alam semesta.
Menulis Ulang Sejarah Planet
Pada masanya, para ilmuwan mengenal batuan tersebut sebagai harta karun ilmiah dan hasilnya tidak mengecewakan. Paul Spudis, seorang geolog dari Lunar and Planetary Institute di Texas, menyatakan bahwa penemuan kru Apollo memaksa manusia menulis ulang ide-ide tentang pembentukan dan evolusi planet.
Sebelumnya, pemenang Nobel Harold Urey memprediksi bahwa Bulan terdiri dari material meteorit primitif. Namun, analisis laboratorium membuktikan kesimpulan tersebut salah karena beberapa batuan Bulan justru memiliki kemiripan luar biasa dengan batuan di Bumi. Hal ini memicu kejutan besar bagi para peneliti, terutama saat mereka menemukan bukti bahwa Bulan purba pernah tertutup oleh lautan batu cair (magma).
Teori Tabrakan Besar dan Masa Lalu yang Agresif
Berdasarkan analisis sampel tersebut, para ahli kini meyakini bahwa Bulan terbentuk akibat tabrakan dahsyat sekitar 50 militer tahun setelah tata surya tercipta. Hipotesis ini menyebutkan bahwa Bumi purba bertabrakan dengan planet seukuran Mars. Puing-puing dari tabrakan tersebut kemudian mengorbit Bumi dan dengan cepat menyatu membentuk Bulan.
Skenario “Tabrakan Besar” ini menyebabkan evaluasi radikal terhadap sejarah awal tata surya. Sebelum misi Apollo, ilmuwan planet memandang objek-objek yang mengorbit matahari seperti mekanisme kerja jam yang teratur di mana tabrakan sangat jarang terjadi. Namun, kini mereka menerima bahwa lingkungan antariksa dulunya jauh lebih aktif, penuh dengan tabrakan, pengusiran, dan pengocokan posisi planet.
Rahasia Penuaan dan Misi Masa Depan
Meskipun semua 2.200 sampel telah diteliti, para ahli seperti Randy Korotev dari Washington University percaya bahwa batuan ini masih menyimpan rahasia halus. Pasalnya, teknologi penanggalan mineral saat ini semakin sensitif sehingga peneliti mampu mempelajari usia sampel yang jauh lebih kecil, seperti butiran mineral tunggal di dalam batu.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Teknik terbaru ini pun mendorong pemikiran ulang terhadap tanggal-tanggal kunci sejarah Bulan dalam dua tahun terakhir. Tim dari Swiss Federal Institute of Technology memperkirakan pembentukan Bulan terjadi sekitar 4,5 miliar tahun yang lalu, atau 20 hingga 30 juta tahun lebih lambat dari perkiraan awal. Namun, para kurator koleksi batuan NASA seperti Gary Lofgren menegaskan bahwa kita membutuhkan lebih banyak sampel dari sisi jauh Bulan dan interior dalamnya untuk melengkapi gambaran besar ini. “Ini bukan hanya tentang Bulan, tapi tentang sejarah tata surya. Itulah pelajaran utama yang kita pelajari dari Apollo,” pungkasnya.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















