Bagaimana 382 Kilogram Batu Bulan Mengubah Tata Surya?

Rabu, 4 Februari 2026 - 17:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Lebih dari sekadar kenang-kenangan. Koleksi batuan dari misi Apollo bukan hanya membuktikan pencapaian teknologi manusia, tetapi juga menulis ulang buku teks mengenai asal-usul planet kita. Dok: Unsplash/Mike Petrucci.

Lebih dari sekadar kenang-kenangan. Koleksi batuan dari misi Apollo bukan hanya membuktikan pencapaian teknologi manusia, tetapi juga menulis ulang buku teks mengenai asal-usul planet kita. Dok: Unsplash/Mike Petrucci.

HOUSTON, POSNEWS.CO.ID – Saat dunia menyaksikan dengan penuh semangat pendaratan Neil Armstrong dan Buzz Aldrin di Bulan, para ilmuwan planet justru berfokus pada hal lain. Bagi mereka, nilai utama dari misi tersebut terletak pada kargo yang dibawa kembali ke Bumi.

Menjelang akhir misi mereka, Armstrong dan Aldrin berhasil mengumpulkan 22 kilogram batuan bulan yang memenuhi sebuah koper kecil. Selama enam misi Apollo, para kru membawa pulang total 382 kilogram material yang berisi 2.200 sampel unik. Koleksi inilah yang kemudian menjadi fondasi bagi revolusi pemahaman manusia tentang alam semesta.

Pada masanya, para ilmuwan mengenal batuan tersebut sebagai harta karun ilmiah dan hasilnya tidak mengecewakan. Paul Spudis, seorang geolog dari Lunar and Planetary Institute di Texas, menyatakan bahwa penemuan kru Apollo memaksa manusia menulis ulang ide-ide tentang pembentukan dan evolusi planet.

Sebelumnya, pemenang Nobel Harold Urey memprediksi bahwa Bulan terdiri dari material meteorit primitif. Namun, analisis laboratorium membuktikan kesimpulan tersebut salah karena beberapa batuan Bulan justru memiliki kemiripan luar biasa dengan batuan di Bumi. Hal ini memicu kejutan besar bagi para peneliti, terutama saat mereka menemukan bukti bahwa Bulan purba pernah tertutup oleh lautan batu cair (magma).

Teori Tabrakan Besar dan Masa Lalu yang Agresif

Berdasarkan analisis sampel tersebut, para ahli kini meyakini bahwa Bulan terbentuk akibat tabrakan dahsyat sekitar 50 militer tahun setelah tata surya tercipta. Hipotesis ini menyebutkan bahwa Bumi purba bertabrakan dengan planet seukuran Mars. Puing-puing dari tabrakan tersebut kemudian mengorbit Bumi dan dengan cepat menyatu membentuk Bulan.

Skenario “Tabrakan Besar” ini menyebabkan evaluasi radikal terhadap sejarah awal tata surya. Sebelum misi Apollo, ilmuwan planet memandang objek-objek yang mengorbit matahari seperti mekanisme kerja jam yang teratur di mana tabrakan sangat jarang terjadi. Namun, kini mereka menerima bahwa lingkungan antariksa dulunya jauh lebih aktif, penuh dengan tabrakan, pengusiran, dan pengocokan posisi planet.

Baca Juga :  Indonesia Jadi Negara Pertama di Dunia yang Blokir Grok AI

Rahasia Penuaan dan Misi Masa Depan

Meskipun semua 2.200 sampel telah diteliti, para ahli seperti Randy Korotev dari Washington University percaya bahwa batuan ini masih menyimpan rahasia halus. Pasalnya, teknologi penanggalan mineral saat ini semakin sensitif sehingga peneliti mampu mempelajari usia sampel yang jauh lebih kecil, seperti butiran mineral tunggal di dalam batu.

Teknik terbaru ini pun mendorong pemikiran ulang terhadap tanggal-tanggal kunci sejarah Bulan dalam dua tahun terakhir. Tim dari Swiss Federal Institute of Technology memperkirakan pembentukan Bulan terjadi sekitar 4,5 miliar tahun yang lalu, atau 20 hingga 30 juta tahun lebih lambat dari perkiraan awal. Namun, para kurator koleksi batuan NASA seperti Gary Lofgren menegaskan bahwa kita membutuhkan lebih banyak sampel dari sisi jauh Bulan dan interior dalamnya untuk melengkapi gambaran besar ini. “Ini bukan hanya tentang Bulan, tapi tentang sejarah tata surya. Itulah pelajaran utama yang kita pelajari dari Apollo,” pungkasnya.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tarumajaya Bekasi Penuhi Sampah dan Genangan, Warga Desak Dedi Mulyadi Bertindak
Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa
Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar
Kapal Mati Mesin di Perairan Pulau Pari, Gulkarmat Evakuasi 150 Penumpang
Home Industry Vape THC di Bali Terbongkar, Omzet Diduga Capai Rp300 Miliar
TPA Jatiwaringin Tangerang Terbakar 15 Hektare, BNPB: 40 Persen Api Sudah Padam
Satgas Ungkap KKB Bakusip Diduga Dalang Pembakaran Pesawat PT AMA
Aiptu Sumaryanto Gugur saat Operasi Narkoba di Katingan, Jenazah Ditemukan di Sungai

Berita Terkait

Selasa, 7 Juli 2026 - 21:55 WIB

Tarumajaya Bekasi Penuhi Sampah dan Genangan, Warga Desak Dedi Mulyadi Bertindak

Senin, 6 Juli 2026 - 05:24 WIB

Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa

Minggu, 5 Juli 2026 - 20:09 WIB

Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar

Minggu, 5 Juli 2026 - 19:56 WIB

Kapal Mati Mesin di Perairan Pulau Pari, Gulkarmat Evakuasi 150 Penumpang

Minggu, 5 Juli 2026 - 19:31 WIB

Home Industry Vape THC di Bali Terbongkar, Omzet Diduga Capai Rp300 Miliar

Berita Terbaru

Lompatan besar klon tempur EVE. Fenris Creations mematangkan aspek pergerakan karakter dan menguji sistem ekonomi orbit pada fase Operation Avalon. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

EVE Vanguard Hadirkan Formula Shooter Ekstraksi

Kamis, 9 Jul 2026 - 05:10 WIB

Hambatan di tengah krisis kesehatan. Warga di kamp pengungsian Kpangba mengusir petugas medis yang berupaya melacak kontak erat korban meninggal akibat Ebola. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Wabah Ebola Kongo Meluas: WHO Peringatkan Bahaya

Rabu, 8 Jul 2026 - 18:48 WIB