Jebakan Utang Negara Berkembang

Sabtu, 25 Oktober 2025 - 06:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Kombinasi utang pandemi, suku bunga tinggi The Fed, dan kreditor baru non-tradisional menjerat negara berkembang dalam krisis utang yang sulit diselesaikan. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Kombinasi utang pandemi, suku bunga tinggi The Fed, dan kreditor baru non-tradisional menjerat negara berkembang dalam krisis utang yang sulit diselesaikan. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — Sejumlah negara berkembang kini berada di ambang krisis utang yang parah. Fenomena ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari perfect storm ekonomi yang terbentuk dari tiga faktor utama yang saling terkait.

Pertama, penumpukan utang besar-besaran selama era pandemi untuk membiayai stimulus kesehatan dan sosial. Kedua, kenaikan suku bunga agresif oleh The Fed (bank sentral AS) untuk melawan inflasi di negara maju. Kenaikan ini membuat biaya cicilan utang dalam dolar melonjak drastis. Ketiga, inflasi harga pangan dan energi global akibat perang di Ukraina yang semakin menekan anggaran negara.

Pergeseran Lanskap Kreditor

Krisis utang kali ini jauh lebih rumit dibandingkan krisis di masa lalu, seperti krisis utang Amerika Latin pada 1980-an. Penyebab utamanya adalah perubahan lanskap kreditor.

Baca Juga :  BMKG Ingatkan Warga Jabodetabek, Waspada Hujan Lebat dan Angin Kencang 7–8 November 2025

Di masa lalu, kreditor utama adalah lembaga multilateral (IMF/Bank Dunia) dan Klub Paris (kelompok negara-negara kreditor Barat). Namun, dalam dua dekade terakhir, Tiongkok telah muncul sebagai kreditor bilateral terbesar di dunia. Selain itu, porsi utang ke lembaga swasta (seperti pemegang obligasi internasional) juga meningkat tajam.

Pelajaran dari Krisis

Kita bisa melihat dampak nyata dari situasi ini di Sri Lanka dan Zambia. Sri Lanka mengalami kebangkrutan pada tahun 2022 setelah kehabisan cadangan devisa untuk membayar utang luar negeri dan impor bahan bakar. Negara itu terjerat utang besar dari berbagai pihak, termasuk Tiongkok, India, Jepang, dan pemegang obligasi swasta.

Baca Juga :  Jebakan Globalisasi: Siapa Pemenang & Pecundang Perdagangan Bebas?

Zambia juga menjadi negara Afrika pertama yang gagal bayar (default) selama pandemi. Negara ini menghadapi kesulitan besar dalam merestrukturisasi utangnya karena harus bernegosiasi secara terpisah dengan Tiongkok dan kreditor swasta yang memiliki persyaratan berbeda.

Stagnasi Restrukturisasi

Inilah inti masalahnya: sulitnya restrukturisasi utang. Dengan begitu banyak pihak kreditor yang berbeda—Klub Paris, Tiongkok, dan swasta—masing-masing memiliki kepentingan dan aturan main yang berbeda.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tidak ada mekanisme tunggal untuk menyatukan mereka. Akibatnya, proses negosiasi menjadi sangat lambat dan rumit. Negara-negara miskin yang terjebak di tengah situasi ini tidak bisa mendapatkan keringanan utang yang mereka butuhkan, menjerumuskan mereka lebih jauh ke dalam stagnasi ekonomi dan kemiskinan.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

10 Tewas dalam Serangan Israel di Lebanon Selatan, Hezbollah Balas dengan Drone
Trump Klaim Permusuhan Berakhir Guna Hindari Izin Kongres
AS Tarik 5.000 Pasukan dari Jerman Setelah Perselisihan Trump-Merz
Viral Dosen UIN Jambi Digerebek Istri di Kos Bersama Mahasiswi, Jabatan Dicopot
Pria di Pool Bus MGI Sukabumi Tewas Ditusuk dan Dikeroyok, Polisi Buru Pelaku
Imigrasi Soetta Gagalkan 23 Calon Haji Nonprosedural ke Jeddah, Total 42 Orang Dicegah
Trump Sebut Angkatan Laut AS Bertindak Seperti Bajak Laut
Cuaca Jabodetabek Minggu 3 Mei 2026, Hujan Lebat Guyur Sejumlah Wilayah

Berita Terkait

Minggu, 3 Mei 2026 - 09:59 WIB

10 Tewas dalam Serangan Israel di Lebanon Selatan, Hezbollah Balas dengan Drone

Minggu, 3 Mei 2026 - 08:57 WIB

Trump Klaim Permusuhan Berakhir Guna Hindari Izin Kongres

Minggu, 3 Mei 2026 - 07:54 WIB

AS Tarik 5.000 Pasukan dari Jerman Setelah Perselisihan Trump-Merz

Minggu, 3 Mei 2026 - 07:24 WIB

Viral Dosen UIN Jambi Digerebek Istri di Kos Bersama Mahasiswi, Jabatan Dicopot

Minggu, 3 Mei 2026 - 07:11 WIB

Pria di Pool Bus MGI Sukabumi Tewas Ditusuk dan Dikeroyok, Polisi Buru Pelaku

Berita Terbaru

Ketegangan agama dan politik. Satuan Tugas Penghapusan Bias Anti-Kristen merilis laporan 200 halaman yang menuduh pemerintahan Joe Biden melakukan diskriminasi sistemik terhadap umat Kristen melalui kebijakan pendidikan, hukum, dan simbol negara. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Trump Klaim Permusuhan Berakhir Guna Hindari Izin Kongres

Minggu, 3 Mei 2026 - 08:57 WIB

Ketegangan di jantung Eropa. Pentagon resmi mengumumkan penarikan sekitar 5.000 tentara AS dari Jerman sebagai balasan atas kritik keras Kanselir Friedrich Merz terhadap kepemimpinan Donald Trump dalam perang Iran. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

AS Tarik 5.000 Pasukan dari Jerman Setelah Perselisihan Trump-Merz

Minggu, 3 Mei 2026 - 07:54 WIB