Pezeshkian Serukan Persatuan Iran di Tengah Krisis dan Tekanan Nuklir

Kamis, 12 Februari 2026 - 10:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Negara dalam persimpangan. Presiden Masoud Pezeshkian mencoba merangkul rakyat melalui narasi persatuan nasional saat peringatan revolusi, sementara bayang-bayang penangkapan massal dan ancaman militer AS terus menghantui Teheran. Dok: Sky News.

Negara dalam persimpangan. Presiden Masoud Pezeshkian mencoba merangkul rakyat melalui narasi persatuan nasional saat peringatan revolusi, sementara bayang-bayang penangkapan massal dan ancaman militer AS terus menghantui Teheran. Dok: Sky News.

TEHERAN, POSNEWS.CO.ID – Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa negaranya tidak sedang mencari senjata nuklir. Pernyataan ini muncul saat ia memberikan pidato pada peringatan revolusi 1979 di tengah pengawasan ketat keamanan nasional pada Selasa (10/2/2026).

Meskipun merayakan hari jadi revolusi, Pezeshkian mengakui adanya “duka yang mendalam” pasca-tindakan keras otoritas terhadap para pengunjuk rasa. Oleh karena itu, ia berupaya menyampaikan pesan persatuan nasional guna meredam krisis yang telah memicu gelombang demonstrasi di seluruh negeri sejak awal tahun.

Kontradiksi di Jalanan Teheran

Peringatan resmi tahun ini menampilkan pemandangan yang kontras. Televisi pemerintah menayangkan ratusan ribu orang yang membakar bendera Amerika Serikat sambil meneriakkan yel-yel anti-Barat. Namun demikian, pada malam sebelumnya, saksi mata melaporkan teriakan “Matilah sang diktator” bergema dari atap-atap rumah penduduk di ibu kota.

Duka publik semakin nyata melalui foto-foto meja sekolah kosong yang dihiasi bunga mawar merah sebagai bentuk penghormatan bagi anak-anak yang tewas dalam aksi protes. Sebuah persatuan guru mengonfirmasi bahwa setidaknya 213 anak-anak kehilangan nyawa dalam kerusuhan tersebut. Bahkan, Pezeshkian sendiri menyatakan rasa malu di hadapan rakyat. Ia mengeklaim bahwa pemerintah merupakan pelayan masyarakat dan siap mendengarkan aspirasi mereka.

Baca Juga :  Gaza Bersiap Sambut Pasukan Internasional: AS Pimpin Perencanaan, Hamas Beri Lampu Hijau Bersyarat

Tekanan terhadap Kelompok Reformis

Di balik janji persatuan tersebut, Pezeshkian justru mengabaikan seruan dari partai-partai reformis. Kelompok Reform Front mendesak presiden untuk segera membebaskan pimpinan mereka yang ditangkap secara massal dalam beberapa hari terakhir.

Para pengamat menilai kegagalan Pezeshkian untuk bertindak merupakan bentuk pengkhianatan terhadap janji kampanye. Pasalnya, media pro-keamanan mengeklaim bahwa para tokoh reformis tersebut bersalah atas tuduhan penghasutan karena mencoba mengorganisir konferensi nasional untuk menuntut perubahan. Saat ini, para tahanan dilaporkan berada dalam sel isolasi tanpa akses hukum yang memadai.

Diplomasi Nuklir dan Ancaman Militer

Di panggung diplomasi internasional, utusan senior Ali Larijani baru saja mengunjungi Qatar setelah melakukan pembicaraan intensif di Oman. Larijani sedang berupaya merancang tanggapan terhadap tuntutan Amerika Serikat tanpa melanggar “garis merah” kedaulatan Iran.

Baca Juga :  Kebakaran Hebat Lahap 20 Rumah di Benhil, 150 Warga Mengungsi ke GOR Tanah Abang

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, situasi semakin memanas karena Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan pengerahan kelompok tempur kapal induk kedua ke Timur Tengah. Trump mengancam akan mengambil tindakan militer jika perundingan nuklir gagal. Selain itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dijadwalkan bertemu Trump di Washington untuk mendesak sikap yang lebih keras terhadap Teheran.

Iran menyatakan kesiapannya untuk membahas pengurangan pengayaan uranium. Akan tetapi, mereka menolak mentah-mentah tuntutan untuk memasukkan program rudal balistik dalam kesepakatan apa pun. “Masalah rudal bukanlah sesuatu yang memiliki wewenang bagi para negosiator untuk dibahas,” tegas Ali Shamkhani, perwakilan dari pemimpin tertinggi Iran. Dunia kini menanti apakah jalur diplomasi di Qatar dan Oman mampu mencegah pecahnya konflik terbuka di kawasan tersebut.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Satpol PP Sisir 6 Kecamatan, 65 PKL Diimbau – Parkir Liar Disikat
Menghadapi Antibiotic Resistance: Pandemi Senyap yang Mengancam Peradaban Medis
Trump dan Netanyahu Gagal Capai Kesepakatan Definitif
Tandukan Van Dijk Bawa Kemenangan: Liverpool Akhiri Rekor Kandang Sunderland
Manchester City Libas Fulham 3-0: Haaland Kembali Cetak Gol
Tragedi Laut Mediterania: 53 Migran Tewas atau Hilang
Polisi Bongkar Rumah Produksi Ganja dari Bibit Dark Web di Jagakarsa, 5,9 Kg Disita
CCTV Rekam Pencurian di Hotel Bintang Lima Sudirman, Polisi Buru Pelaku

Berita Terkait

Kamis, 12 Februari 2026 - 12:47 WIB

Satpol PP Sisir 6 Kecamatan, 65 PKL Diimbau – Parkir Liar Disikat

Kamis, 12 Februari 2026 - 12:04 WIB

Menghadapi Antibiotic Resistance: Pandemi Senyap yang Mengancam Peradaban Medis

Kamis, 12 Februari 2026 - 11:00 WIB

Trump dan Netanyahu Gagal Capai Kesepakatan Definitif

Kamis, 12 Februari 2026 - 10:56 WIB

Pezeshkian Serukan Persatuan Iran di Tengah Krisis dan Tekanan Nuklir

Kamis, 12 Februari 2026 - 09:54 WIB

Tandukan Van Dijk Bawa Kemenangan: Liverpool Akhiri Rekor Kandang Sunderland

Berita Terbaru

Visi yang berseberangan. Pertemuan tertutup antara Donald Trump dan Benjamin Netanyahu berakhir tanpa kesepakatan konkret mengenai strategi menghadapi Iran. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Trump dan Netanyahu Gagal Capai Kesepakatan Definitif

Kamis, 12 Feb 2026 - 11:00 WIB