Visi Pertahanan Keir Starmer: Eropa adalah Raksasa Tidur

Sabtu, 14 Februari 2026 - 19:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mendefinisikan ulang keamanan transatlantik. PM Keir Starmer menyerukan agar Inggris dan Eropa memperkuat komitmen NATO guna menghindari risiko ketergantungan berlebih pada Amerika Serikat di tengah tantangan global. Dok: Istimewa.

Mendefinisikan ulang keamanan transatlantik. PM Keir Starmer menyerukan agar Inggris dan Eropa memperkuat komitmen NATO guna menghindari risiko ketergantungan berlebih pada Amerika Serikat di tengah tantangan global. Dok: Istimewa.

MUNICH, POSNEWS.CO.ID – Perdana Menteri Keir Starmer akan menyerukan Inggris dan Eropa untuk segera meningkatkan komitmen mereka terhadap NATO. Langkah ini bertujuan untuk menghindari risiko ketergantungan yang berbahaya pada Amerika Serikat dalam urusan pertahanan.

Dalam pidatonya di Konferensi Keamanan Munich pada Sabtu, Starmer akan memperingatkan agar Inggris tidak menarik diri dari urusan keamanan internasional. Sebaliknya, ia mendorong fokus pada apa yang ia sebut sebagai “raksasa tidur” dari kapabilitas pertahanan bersama Eropa.

Melawan “Penjaja Jawaban Murah”

Starmer memberikan peringatan keras kepada para pemilih di dalam negeri. Rakyat harus mulai bersiap menghadapi pengeluaran pertahanan yang lebih besar di masa depan. Ia menegaskan bahwa pemerintah wajib menjelaskan alasan di balik kebijakan tersebut secara transparan.

Jika tidak, Starmer khawatir publik akan terjebak oleh narasi “penjaja jawaban murah” dari kelompok politik seperti Reform UK dan Partai Hijau. Menurutnya, kelompok-kelompok tersebut justru berisiko membahayakan keamanan nasional. Pejabat Downing Street menegaskan bahwa seruan ini bukan karena kekhawatiran atas komitmen AS, melainkan respon atas tuntutan Washington agar Eropa lebih mandiri.

Baca Juga :  Misteri Tulang di Pegunungan Cardamom: Nancy Athfield dan Teka-Teki Mayat dalam Guci

Konteks Tekanan dari Donald Trump dan JD Vance

Pidato Starmer ini muncul di tengah bayang-bayang tekanan diplomatik Amerika Serikat tahun lalu. Saat itu, Wakil Presiden JD Vance mengecam para pemimpin Eropa karena dianggap lemah dalam isu migrasi dan kebebasan berbicara. Vance bahkan mempertanyakan kecocokan nilai-nilai tersebut dengan jaminan keamanan bersama dari AS.

Selain itu, Presiden Donald Trump secara rutin mempertanyakan nilai kegunaan NATO. Trump mengeklaim negara-negara Eropa hanya “berdiam diri di belakang” saat mendukung pasukan AS di Afghanistan. Pernyataan tersebut sempat memicu teguran langsung yang jarang terjadi dari Starmer sebelumnya.

Menolak Politik Isolasi Pasca-Brexit

Sebagai bentuk perlawanan terhadap politik isolasi, Starmer mengecam politisi Inggris yang ingin menghindari ikatan dengan Eropa. Ia secara khusus menyasar kelompok Konservatif yang skeptis terhadap hubungan pertahanan lintas negara.

“Kita bukan lagi Inggris di era tahun-tahun Brexit,” tegas Starmer dalam draf pidatonya. Ia yakin bahwa dalam masa yang berbahaya, menarik diri ke dalam justru merupakan bentuk penyerahan kontrol, bukan pengambilalihan kedaulatan. “Tidak ada keamanan Inggris tanpa Eropa, dan tidak ada keamanan Eropa tanpa Inggris,” tambahnya.

Integrasi Pengadaan Senjata dan Masa Depan Benua

Starmer mendesak adanya kerja sama yang lebih baik dalam pengadaan peralatan pertahanan. Saat ini, perencanaan industri yang terfragmentasi dan mekanisme pengadaan yang lamban telah menyebabkan kesenjangan kemampuan militer di berbagai area.

Ia mengingatkan bahwa ekonomi gabungan Eropa jauh lebih besar dibandingkan Rusia. Oleh karena itu, para menteri harus jujur kepada publik mengenai keputusan sulit yang akan diambil demi menjaga keselamatan bersama. Starmer menutup visinya dengan memperingatkan bahwa tanpa kemandirian, masa depan Eropa hanya akan berisi perpecahan. Ia berjanji tidak akan membiarkan “lampu-lampu di Eropa padam sekali lagi” akibat kegagalan diplomasi dan pertahanan.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bareskrim Polri Tangkap Pria Berjaket Ojol Diduga Transaksi Sabu di SPBU Kemang
Kejahatan Perang di Sudan: Drone RSF Bantai Keluarga
Viral BBM Tercampur Air di SPBU Parungpanjang Bogor, Pertamina Hentikan Penyaluran Pertalite
Pemprov DKI Siapkan Mudik Gratis 2026 ke 20 Kota, Motor Diangkut ke 6 Tujuan
Tragedi Laut Mediterania: 53 Migran Tewas atau Hilang di Lepas Pantai Libya
Aliansi Pertahanan Udara: Jepang, Inggris, dan Italia Percepat Pengembangan Jet Tempur Generasi Terbaru
Aturan Pembelajaran Ramadan 2026 Resmi Terbit, Ini Skema Belajar dan Libur Idulfitri
Raja Salman Salurkan Bantuan Pangan Rp6,4 Miliar untuk Indonesia Jelang Ramadan 2026

Berita Terkait

Sabtu, 14 Februari 2026 - 21:07 WIB

Bareskrim Polri Tangkap Pria Berjaket Ojol Diduga Transaksi Sabu di SPBU Kemang

Sabtu, 14 Februari 2026 - 20:59 WIB

Kejahatan Perang di Sudan: Drone RSF Bantai Keluarga

Sabtu, 14 Februari 2026 - 20:55 WIB

Viral BBM Tercampur Air di SPBU Parungpanjang Bogor, Pertamina Hentikan Penyaluran Pertalite

Sabtu, 14 Februari 2026 - 20:31 WIB

Pemprov DKI Siapkan Mudik Gratis 2026 ke 20 Kota, Motor Diangkut ke 6 Tujuan

Sabtu, 14 Februari 2026 - 19:55 WIB

Tragedi Laut Mediterania: 53 Migran Tewas atau Hilang di Lepas Pantai Libya

Berita Terbaru

Ilustrasi,
Tragedi di Kordofan. Kelompok paramiliter RSF meluncurkan serangan drone mematikan yang menyasar warga sipil dan bantuan pangan, memperburuk krisis kemanusiaan di tengah ancaman kelaparan massal. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Kejahatan Perang di Sudan: Drone RSF Bantai Keluarga

Sabtu, 14 Feb 2026 - 20:59 WIB