Mengapa Otak Manusia Tetap Lebih Unggul daripada Teknologi GPS?

Rabu, 25 Februari 2026 - 11:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Rasionalitas vs Emosi. Membedah mekanisme psikologis di balik kotak suara, di mana identitas kelompok dan bias kognitif sering kali membuat pemilih mengabaikan substansi kebijakan demi citra pemimpin yang mereka sukai di tahun 2026. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Rasionalitas vs Emosi. Membedah mekanisme psikologis di balik kotak suara, di mana identitas kelompok dan bias kognitif sering kali membuat pemilih mengabaikan substansi kebijakan demi citra pemimpin yang mereka sukai di tahun 2026. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Mayoritas masyarakat modern saat ini menggantungkan pergerakannya pada Global Positioning System (GPS). Perangkat elektronik mengumpulkan data posisi dari satelit guna memberikan arahan yang presisi.

Namun demikian, sistem digital memiliki kelemahan yang nyata. Sedikit saja kesalahan data pada peta digital dapat membuat pengguna tersesat sepenuhnya. Di sinilah keterampilan kuno manusia dalam menavigasi ruang tiga dimensi membuktikan keunggulannya. Sistem pemosisian manusia bersifat fleksibel dan mampu belajar dari lingkungan sekitar secara mandiri.

Tiga Strategi Mengenali Ruang

Para peneliti mengidentifikasi tiga strategi dasar yang otak manusia gunakan untuk berorientasi:

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

  1. Panduan (Guidance): Metode ini mengandalkan tengara (landmark) yang menonjol dari kejauhan. Seseorang menjadikan sebuah gedung tinggi atau menara sebagai penanda tujuan utama mereka.
  2. Integrasi Jalur (Path Integration): Strategi ini melibatkan pengumpulan memori dari setiap langkah perjalanan. Otak secara kumulatif mencatat durasi, arah, dan snapshots visual selama perjalanan untuk menyusun laporan kemajuan.
  3. Mengikuti Rute (Route Following): Ini merupakan metode paling detail namun menantang bagi memori. Pengguna harus mengingat nama jalan dan instruksi spesifik seperti “belok kiri” atau “jalan lurus” pada titik-titik tertentu.
Baca Juga :  Butet Kertaredjasa Sindir Program Makan Bergizi Gratis, “Panen Keracunan”

Belajar dari Alam: Kasus Semut Gurun

Menariknya, manusia berbagi strategi integrasi jalur dengan banyak spesies hewan. Semut gurun dari genus Cataglyphis merupakan ahli dalam metode ini. Mereka mampu menempuh jarak hingga 100 meter untuk mencari makan, lalu kembali ke sarang dengan jalur lurus yang sangat akurat.

Semut tersebut menggunakan polarisasi cahaya matahari guna menentukan arah pulang. Meskipun peneliti memindahkan semut tersebut ke lokasi yang sama sekali berbeda, serangga ini akan tetap berjalan sesuai dengan vektor kepulangan yang sudah tersimpan di memorinya. Fenomena ini membuktikan bahwa navigasi berbasis memori fisik merupakan mekanisme bertahan hidup yang sangat mendasar di dunia hewan maupun manusia.

Baca Juga :  Nvidia Luncurkan Cip Laptop RTX Spark untuk Windows

Mitos “Peta Jalan” di Dalam Kepala

Ahli neurobiologi dan psikolog kognitif sering menyebut kemampuan navigasi kita sebagai “peta kognitif”. Istilah ini sering kali membuat publik membayangkan adanya gambar peta visual yang nyata di dalam otak.

Namun, penelitian terbaru menyiratkan bahwa konsep “peta” tersebut hanyalah sebuah metafora. Peta kognitif manusia sebenarnya lebih menyerupai struktur hierarki hubungan antar-objek dan lokasi. Otak menyerap data dari penglihatan, suara, bau, hingga kontraksi otot untuk menentukan posisi tubuh kita.

Pada akhirnya, kemampuan navigasi manusia bukan sekadar urusan mencapai titik koordinat. Kemampuan ini menjadi fondasi bagi kekuatan memori dan logika berpikir kita secara keseluruhan. Di tengah kecanggihan teknologi masa kini, menjaga ketajaman navigasi biologis tetap menjadi hal penting agar kita tidak kehilangan koneksi dengan lingkungan fisik di sekitar kita.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tragedi Pesawat Terjun Payung di Missouri: 12 Tewas Setelah Pesawat Jatuh dan Terbakar
Samurai Blue Tahan Imbang Belanda di Piala Dunia
Israel Gempur Lebanon Selatan di Tengah Isyarat Damai
Donald Trump dan Emmanuel Macron Pererat Aliansi
Wabah Ebola Kongo Kian Mengkhawatirkan
Israel Bersiap Hadapi Pemilihan Umum Sela
Presiden Mongolia Ukhnaa Khurelsukh Sambut Menlu Tiongkok
Raksasa Teknologi Dunia Serap Mineral Milisi M23

Berita Terkait

Senin, 15 Juni 2026 - 17:59 WIB

Tragedi Pesawat Terjun Payung di Missouri: 12 Tewas Setelah Pesawat Jatuh dan Terbakar

Senin, 15 Juni 2026 - 08:35 WIB

Samurai Blue Tahan Imbang Belanda di Piala Dunia

Minggu, 14 Juni 2026 - 17:21 WIB

Israel Gempur Lebanon Selatan di Tengah Isyarat Damai

Minggu, 14 Juni 2026 - 16:14 WIB

Donald Trump dan Emmanuel Macron Pererat Aliansi

Minggu, 14 Juni 2026 - 14:03 WIB

Wabah Ebola Kongo Kian Mengkhawatirkan

Berita Terbaru