JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Mayoritas masyarakat modern saat ini menggantungkan pergerakannya pada Global Positioning System (GPS). Perangkat elektronik mengumpulkan data posisi dari satelit guna memberikan arahan yang presisi.
Namun demikian, sistem digital memiliki kelemahan yang nyata. Sedikit saja kesalahan data pada peta digital dapat membuat pengguna tersesat sepenuhnya. Di sinilah keterampilan kuno manusia dalam menavigasi ruang tiga dimensi membuktikan keunggulannya. Sistem pemosisian manusia bersifat fleksibel dan mampu belajar dari lingkungan sekitar secara mandiri.
Tiga Strategi Mengenali Ruang
Para peneliti mengidentifikasi tiga strategi dasar yang otak manusia gunakan untuk berorientasi:
- Panduan (Guidance): Metode ini mengandalkan tengara (landmark) yang menonjol dari kejauhan. Seseorang menjadikan sebuah gedung tinggi atau menara sebagai penanda tujuan utama mereka.
- Integrasi Jalur (Path Integration): Strategi ini melibatkan pengumpulan memori dari setiap langkah perjalanan. Otak secara kumulatif mencatat durasi, arah, dan snapshots visual selama perjalanan untuk menyusun laporan kemajuan.
- Mengikuti Rute (Route Following): Ini merupakan metode paling detail namun menantang bagi memori. Pengguna harus mengingat nama jalan dan instruksi spesifik seperti “belok kiri” atau “jalan lurus” pada titik-titik tertentu.
Belajar dari Alam: Kasus Semut Gurun
Menariknya, manusia berbagi strategi integrasi jalur dengan banyak spesies hewan. Semut gurun dari genus Cataglyphis merupakan ahli dalam metode ini. Mereka mampu menempuh jarak hingga 100 meter untuk mencari makan, lalu kembali ke sarang dengan jalur lurus yang sangat akurat.
Semut tersebut menggunakan polarisasi cahaya matahari guna menentukan arah pulang. Meskipun peneliti memindahkan semut tersebut ke lokasi yang sama sekali berbeda, serangga ini akan tetap berjalan sesuai dengan vektor kepulangan yang sudah tersimpan di memorinya. Fenomena ini membuktikan bahwa navigasi berbasis memori fisik merupakan mekanisme bertahan hidup yang sangat mendasar di dunia hewan maupun manusia.
Mitos “Peta Jalan” di Dalam Kepala
Ahli neurobiologi dan psikolog kognitif sering menyebut kemampuan navigasi kita sebagai “peta kognitif”. Istilah ini sering kali membuat publik membayangkan adanya gambar peta visual yang nyata di dalam otak.
Namun, penelitian terbaru menyiratkan bahwa konsep “peta” tersebut hanyalah sebuah metafora. Peta kognitif manusia sebenarnya lebih menyerupai struktur hierarki hubungan antar-objek dan lokasi. Otak menyerap data dari penglihatan, suara, bau, hingga kontraksi otot untuk menentukan posisi tubuh kita.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pada akhirnya, kemampuan navigasi manusia bukan sekadar urusan mencapai titik koordinat. Kemampuan ini menjadi fondasi bagi kekuatan memori dan logika berpikir kita secara keseluruhan. Di tengah kecanggihan teknologi masa kini, menjaga ketajaman navigasi biologis tetap menjadi hal penting agar kita tidak kehilangan koneksi dengan lingkungan fisik di sekitar kita.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















