Araghchi Kejar Kesepakatan di Tengah Hujan Sanksi

Kamis, 26 Februari 2026 - 14:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Meja perundingan yang mendingin. Perundingan maraton selama 21 jam di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan, meninggalkan Selat Hormuz dalam kondisi blokade dan gencatan senjata yang kian rapuh di tahun 2026. Dok: Istimewa.

Meja perundingan yang mendingin. Perundingan maraton selama 21 jam di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan, meninggalkan Selat Hormuz dalam kondisi blokade dan gencatan senjata yang kian rapuh di tahun 2026. Dok: Istimewa.

JENEWA, POSNEWS.CO.ID – Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, bertolak menuju Jenewa pada Rabu guna memimpin delegasi dalam putaran ketiga perundingan nuklir tidak langsung dengan Amerika Serikat. Pertemuan krusial ini dijadwalkan berlangsung pada hari Kamis (26/2).

Melalui unggahan di platform X pada Selasa, Araghchi menegaskan bahwa Iran mendekati perundingan ini dengan tekad bulat. Oleh karena itu, ia berupaya mengejar kesepakatan yang “adil dan merata” secepat mungkin guna mengakhiri ketegangan diplomatik yang telah berlangsung lama.

Ketegasan Washington: “Tanpa Senjata Nuklir”

Di sisi lain, pemerintah Amerika Serikat terus mempertegas batasan-batasan strategisnya. Wakil Presiden AS, JD Vance, mengulangi posisi resmi Washington mengenai isu ini pada Rabu.

“Prinsipnya sangat sederhana: Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir,” tegas Vance. Selain itu, kepemilikan rudal balistik oleh Iran tetap menjadi kekhawatiran utama bagi keamanan nasional Amerika. Menteri Luar Negeri Marco Rubio bahkan melabeli Iran sebagai “ancaman serius”. Ia enggan menganggap pembicaraan hari Kamis sebagai hal lain selain kesempatan tambahan untuk berdialog di tengah kebuntuan yang ada.

Baca Juga :  Perang Thailand-Kamboja Membara: 53 Warga Sipil Tewas

Tuntutan Permanen dan Tekanan Sanksi Baru

Laporan internal mengungkapkan bahwa administrasi Donald Trump menginginkan konsesi yang jauh lebih berat dari Teheran. Utusan khusus Gedung Putih untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, mengisyaratkan tuntutan tersebut dalam sebuah pertemuan tertutup pada Selasa malam.

Berdasarkan laporan media, Washington menuntut agar Iran menyetujui bahwa setiap kesepakatan nuklir di masa depan harus tetap berlaku tanpa batas waktu (indefinitely). Selanjutnya, satu hari menjelang perundingan, Amerika Serikat secara mendadak meluncurkan gelombang sanksi baru. Sanksi tersebut menyasar lebih dari 30 entitas, individu, dan kapal yang petugas nilai berkaitan dengan jaringan pendanaan atau aktivitas nuklir terlarang Iran.

Baca Juga :  Anak Usia 4 Tahun Tiba-Tiba Menjadi Cerdas Secara Sosial

Analisis Strategis: Diplomasi di Bawah Tekanan

Langkah Washington yang menjatuhkan sanksi tepat sebelum pertemuan petugas prediksikan sebagai strategi “tekanan maksimal”. Langkah ini bertujuan untuk memperlemah posisi tawar Iran di meja perundingan. Meskipun begitu, Araghchi tetap menekankan bahwa kesepakatan masih mungkin tercapai jika semua pihak menjunjung tinggi kedaulatan dan keadilan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pada akhirnya, dunia kini menanti hasil dari perundingan hari Kamis di Jenewa. Apakah kehadiran delegasi tingkat tinggi ini mampu meredam risiko eskalasi militer di Timur Tengah atau justru mempertegas garis konfrontasi baru antara Washington dan Teheran di tahun 2026.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Meksiko Protes Kematian Ke-14 Warganya dalam Tahanan ICE AS
Prabowo dan Putin Pererat Kerja Sama Energi serta Konsolidasi Kekuatan di BRICS
Pedro Sánchez Desak Dunia Tinggalkan Pola Pikir Zero-Sum
Harga Minyak Tembus $100 Pasca-Pengumuman Blokade
China dan Eropa Desak Jalur Diplomasi Akhiri Krisis Selat Hormuz
Diplomasi Buntu di Pakistan: Negosiasi AS-Iran Gagal Capai Kesepakatan Damai Permanen
Perbaikan Jalan Tol Jakarta-Bandung hingga 18 April, Ini Titik Penutupan Lajurnya
Dua Wanita di Lebak Jadi Tersangka Injak Al-Qur’an, Polisi: Mengaku Salah dan Minta Maaf

Berita Terkait

Selasa, 14 April 2026 - 14:27 WIB

Meksiko Protes Kematian Ke-14 Warganya dalam Tahanan ICE AS

Selasa, 14 April 2026 - 13:36 WIB

Prabowo dan Putin Pererat Kerja Sama Energi serta Konsolidasi Kekuatan di BRICS

Selasa, 14 April 2026 - 12:45 WIB

Pedro Sánchez Desak Dunia Tinggalkan Pola Pikir Zero-Sum

Selasa, 14 April 2026 - 11:40 WIB

Harga Minyak Tembus $100 Pasca-Pengumuman Blokade

Selasa, 14 April 2026 - 11:26 WIB

China dan Eropa Desak Jalur Diplomasi Akhiri Krisis Selat Hormuz

Berita Terbaru

Duka di perbatasan. Pemerintah Meksiko meluncurkan protes diplomatik keras setelah seorang warganya tewas di penjara Louisiana, menyoroti kegagalan standar hak asasi manusia di pusat penahanan Amerika Serikat tahun 2026. Dok: VCG.

INTERNASIONAL

Meksiko Protes Kematian Ke-14 Warganya dalam Tahanan ICE AS

Selasa, 14 Apr 2026 - 14:27 WIB

Diplomasi perspektif di Beijing. PM Spanyol Pedro Sánchez menyerukan pemahaman global yang lebih seimbang terhadap Tiongkok, menekankan bahwa kerja sama multilateral adalah kunci kemakmuran bersama di tengah dunia yang multipolar tahun 2026. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Pedro Sánchez Desak Dunia Tinggalkan Pola Pikir Zero-Sum

Selasa, 14 Apr 2026 - 12:45 WIB

Alarm ekonomi dunia. Harga minyak mentah melonjak 8 persen dan bursa saham Asia memerah setelah Presiden Donald Trump memerintahkan blokade total terhadap pelabuhan Iran di tengah kegagalan kesepakatan damai tahun 2026. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Harga Minyak Tembus $100 Pasca-Pengumuman Blokade

Selasa, 14 Apr 2026 - 11:40 WIB

Pecah kongsi global. Tiongkok, Uni Eropa, dan Rusia secara serentak menolak rencana blokade Selat Hormuz oleh Amerika Serikat, mendesak de-eskalasi militer demi stabilitas pasar energi dunia tahun 2026. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

China dan Eropa Desak Jalur Diplomasi Akhiri Krisis Selat Hormuz

Selasa, 14 Apr 2026 - 11:26 WIB