TEHERAN, POSNEWS.CO.ID β Dunia menyaksikan jatuhnya pilar kekuasaan Republik Islam Iran pada hari Minggu. Kantor Berita Fars melaporkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, telah meninggal dunia akibat serangan udara masif yang diluncurkan oleh Amerika Serikat dan Israel.
Kematian ini tidak terjadi sendirian. Selain itu, otoritas mengonfirmasi tewasnya tokoh-tokoh kunci militer, termasuk Komandan Kepala Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Mohammad Pakpour dan Sekretaris Dewan Pertahanan Ali Shamkhani. Laporan tersebut juga menyebutkan empat kerabat dekat Khamenei, termasuk putri, cucu, dan menantunya, ikut menjadi korban dalam operasi militer tersebut. Oleh karena itu, pemerintah Iran segera mengumumkan masa berkabung nasional selama 40 hari.
Operasi Militer: Strategi “Dekapitasi” Rezim
Amerika Serikat dan Israel melabeli aksi pada Sabtu malam tersebut sebagai “operasi tempur utama”. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa tujuan utama aksi militer gabungan ini adalah untuk menggulingkan rezim yang berkuasa di Iran.
Pasalnya, intelijen Israel telah membangun jaringan luas di dalam wilayah Iran selama bertahun-tahun. Pakar militer Wei Dongxu menilai Israel memegang peran utama dalam melacak posisi komandan senior. Selanjutnya, Washington memberikan dukungan teknis dan logistik untuk melakukan serangan dekapitasi yang presisi. Presiden Donald Trump menegaskan bahwa langkah ini mendesak guna menghancurkan industri rudal jarak jauh Iran yang mengancam daratan Amerika dan mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir.
Balasan Kilat Teheran dan Penutupan Selat Hormuz
Iran tidak tinggal diam menghadapi penghancuran pusat kepemimpinannya. Garda Revolusi Iran segera meluncurkan gelombang serangan balasan yang menyasar aset-aset AS dan Israel di seluruh kawasan Timur Tengah.
Beberapa rincian serangan balasan Iran antara lain:
- Penutupan Selat Hormuz: IRGC secara resmi melarang semua kapal melintasi jalur distribusi minyak vital tersebut.
- Serangan Drone di UEA: Empat drone menghantam kapal pengangkut amunisi AS di Pelabuhan Jebel Ali hingga meledak.
- Hujan Misil di Kuwait: Pangkalan angkatan laut AS di Kuwait hantam oleh empat rudal balistik dan 12 drone, yang memicu korban jiwa besar di pihak personel Amerika.
- Target Arab Saudi dan Irak: Rudal presisi Iran menyasar Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Arab Saudi serta pangkalan Harir di Irak yang menampung pasukan khusus AS.
Alhasil, ledakan dilaporkan terjadi secara serentak di Bahrain, Qatar, Yordania, dan Uni Emirat Arab. Situasi ini menandakan bahwa skala konfrontasi saat ini telah melampaui perang 12 hari yang terjadi tahun lalu.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Transisi Kekuasaan di Tengah Kondisi Perang
Meskipun pusat kepemimpinan terguncang, Iran berupaya menjaga stabilitas politiknya. Untuk sementara, dewan yang terdiri dari Presiden Iran, kepala kehakiman, dan anggota Dewan Garda akan mengemban tugas kepemimpinan kolektif.
Namun demikian, penentuan pemimpin tertinggi berikutnya menghadapi hambatan prosedural yang berat. Pakar studi strategis Wang Jin menjelaskan bahwa Majelis Ahli (Assembly of Experts) wajib berkumpul untuk menentukan penerus. Meskipun begitu, kondisi perang membuat pertemuan tersebut sulit terlaksana. “Ada kemungkinan Khamenei telah meninggalkan wasiat pribadi yang menunjuk penerusnya, mirip dengan preseden Ayatollah Khomeini dulu,” ujar Wang. Hal ini menjadi kunci penting agar Iran tidak terjerumus ke dalam kekacauan politik internal di tengah agresi eksternal.
Reaksi Internasional: Seruan Gencatan Senjata
Eskalasi ini memicu alarm bahaya di seluruh dunia. Sekretaris Jenderal PBB, AntΓ³nio Guterres, mendesak semua pihak untuk segera melakukan gencatan senjata guna menghindari konsekuensi yang tidak terkendali bagi seluruh planet.
Kementerian Luar Negeri Tiongkok menyatakan keprihatinan mendalam dan mendesak penghormatan terhadap kedaulatan serta integritas wilayah Iran. Utusan tetap Tiongkok untuk PBB, Fu Cong, mengaku terkejut karena serangan ini terjadi tepat saat proses negosiasi diplomatik sebenarnya masih berjalan. Di sisi lain, di dalam negeri Amerika Serikat, Senator Tim Kaine mengecam operasi tersebut sebagai tindakan yang gegabah dan berbahaya bagi keselamatan diplomat AS di luar negeri. Ia mendesak Kongres untuk segera membatasi kekuasaan perang presiden guna mencegah konflik berkepanjangan yang tidak perlu.
Pada akhirnya, masa depan Timur Tengah kini bergantung pada langkah Donald Trump selanjutnya. Trump mengeklaim memiliki berbagai jalur keluar (off-ramps) dan bisa mengakhiri krisis ini dalam waktu dua hingga tiga hari. Namun, dengan harga diri bangsa Iran yang terluka dan sumpah balas dendam IRGC, dunia kini berada di ambang ketidakpastian yang sangat mencekam.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















