DONETSK, POSNEWS.CO.ID – Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengunjungi garis depan timur pada Jumat, tepat saat negaranya merampungkan salah satu pertukaran tawanan perang (POW) terbesar sejak invasi bermula lima tahun lalu.
Zelenskyy menemui pasukan di kota Druzhkivka dan Kostiantynivka, wilayah di Donetsk yang kini menjadi titik konsentrasi kekuatan militer Rusia. Kunjungan ini bertujuan untuk memperkuat mental prajurit menjelang laporan intelijen mengenai persiapan ofensif musim semi oleh Moskow. “Semakin kuat kita di arah timur, semakin kuat pula posisi kita dalam proses negosiasi,” tegas Zelenskyy kepada prajurit dari Brigade Mekanik Terpisah ke-28.
Detail Pertukaran 1.000 Personel
Operasi pemulangan tawanan ini berlangsung selama dua hari berturut-turut. Utusan khusus Amerika Serikat, Steve Witkoff, mengonfirmasi bahwa total 1.000 individu telah kembali ke rumah masing-masing setelah mencapai kesepakatan dalam negosiasi trilateral di Jenewa baru-baru ini.
Pada hari Jumat, masing-masing pihak menukar 300 personel militer. Sehari sebelumnya, sebanyak 200 tawanan dari tiap sisi juga telah melintasi perbatasan. Selain personel militer, Zelenskyy mengonfirmasi kembalinya dua warga sipil Ukraina. Rekaman video menunjukkan momen emosional saat puluhan pria keluar dari bus putih besar sembari melambaikan tangan kepada petugas penjaga perbatasan. “Aku sudah di rumah, ibu tersayang. Aku mencintaimu,” ujar salah satu tentara melalui sambungan telepon seluler.
Peran Amerika Serikat dan Uni Emirat Arab
Kementerian Pertahanan Rusia memberikan apresiasi atas peran mediator dalam kesuksesan misi kemanusiaan ini. Amerika Serikat dan Uni Emirat Arab (UEA) bertindak sebagai penengah utama yang menjembatani komunikasi antara Kyiv dan Moskow.
Keberhasilan ini menandai pertukaran tawanan kedua sepanjang tahun 2026. Pertukaran sebelumnya terlaksana pada awal Februari pasca-pembicaraan damai di Abu Dhabi. Steve Witkoff menekankan bahwa meskipun jalur militer masih membara, Washington terus menekan kedua belah pihak guna mencari solusi diplomatik permanen, sejalan dengan visi kebijakan luar negeri Presiden Donald Trump.
Penundaan Negosiasi Akibat Krisis Iran
Meskipun pertukaran tawanan berjalan lancar, rencana perundingan damai putaran baru yang sedianya berlangsung awal Maret harus mengalami penundaan. Krisis besar di Timur Tengah menjadi penyebab utamanya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Serangan udara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memicu aksi balasan hujan misil dari Teheran yang menyasar pangkalan militer AS di wilayah Teluk. Kekacauan geopolitik ini memaksa para diplomat senior mengalihkan fokus mereka dari Eropa Timur. Namun demikian, Steve Witkoff menegaskan bahwa diskusi tetap berjalan di belakang layar. “Kami mengantisipasi kemajuan tambahan dalam minggu-minggu mendatang,” tulis Witkoff melalui platform X, memberikan sinyal bahwa AS tidak akan membiarkan momentum perdamaian Ukraina hilang begitu saja.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















