Polri Bongkar Sindikat STNK dan BPKB Palsu Lintas Provinsi, Waspada Beli Mobil Bekas

Senin, 9 Maret 2026 - 08:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dirregident Korlantas Polri Brigjen Pol Wibowo. (Posnews/Ist)

Dirregident Korlantas Polri Brigjen Pol Wibowo. (Posnews/Ist)

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Korlantas Polri mengingatkan masyarakat agar ekstra hati-hati saat membeli kendaraan bekas. Imbauan ini muncul setelah polisi membongkar sindikat pemalsuan STNK dan BPKB lintas provinsi yang merugikan banyak korban.

Direktorat Registrasi dan Identifikasi (Ditregident) Korlantas Polri menegaskan, pembelian kendaraan bekas tanpa pengecekan dokumen berisiko besar, baik secara hukum maupun kerugian materi.

Dirregident Korlantas Polri Brigjen Pol Wibowo meminta masyarakat memastikan keaslian dokumen kendaraan sebelum transaksi.

“Polri mengimbau masyarakat agar lebih teliti saat membeli kendaraan bekas. Pastikan STNK dan BPKB asli dengan melakukan pengecekan langsung di Samsat,” kata Wibowo, Minggu (8/3/2026).

Polisi Bongkar Sindikat STNK dan BPKB Palsu

Kasus besar ini terungkap setelah Polda Kalimantan Selatan membongkar jaringan pemalsuan dokumen kendaraan pada Februari 2026.

Dalam operasi tersebut, polisi menyita:

  • Hampir 20.000 lembar STNK dan BPKB palsu
  • 20 unit mobil diduga kendaraan bodong

Sindikat ini ternyata beroperasi lintas provinsi, meliputi:

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

  • Jawa Tengah
  • Jawa Barat
  • Jawa Timur
  • Yogyakarta
  • Bali
  • Kalimantan

Polisi juga menangkap enam tersangka, terdiri dari:

  • 4 pelaku di Jawa Tengah
  • 2 pelaku di Kalimantan Selatan
Baca Juga :  Kejari Jaksel Hancurkan Barang Bukti Narkoba dan Senjata Tajam Bernilai Miliaran

Para pelaku memiliki peran berbeda, mulai dari pembuat dokumen palsu, penjual, hingga pemasar kendaraan bodong.

Modus: Mobil Leasing Macet Disulap Jadi Legal

Polisi mengungkap modus licik yang digunakan sindikat tersebut.

Para pelaku membeli mobil bermasalah kredit atau leasing macet. Setelah itu mereka membuat STNK dan BPKB palsu agar kendaraan terlihat legal.

Selanjutnya kendaraan tersebut dijual kembali kepada masyarakat melalui media sosial seperti Facebook dan WhatsApp.

Dari bisnis ilegal ini, sindikat mampu meraup keuntungan hingga Rp100 juta setiap bulan.

Polisi juga menduga pelaku bekerja sama dengan oknum debt collector yang menarik kendaraan dari debitur bermasalah lalu menjualnya kembali menggunakan dokumen palsu.

Kenali Ciri STNK dan BPKB Asli

Korlantas Polri juga mengedukasi masyarakat agar bisa membedakan dokumen kendaraan asli dan palsu.

Beberapa ciri dokumen asli antara lain:

1. Hologram BPKB

  • Warna abu-abu
  • Tidak berubah warna saat diterawang
  • Sementara dokumen palsu biasanya berubah menjadi kekuningan.

2. Kualitas Kertas

  • Dokumen asli lebih tebal dan berkualitas
  • Dokumen palsu biasanya tipis dan cetakan buram
Baca Juga :  Rumah di Depok Dibobol Maling, Emas 110 Gram dan Uang Rp15 Juta Digasak

3. Barcode Dokumen

  • Dokumen asli memiliki barcode yang dapat dipindai
  • Data langsung terhubung dengan sistem kepolisian

4. Lambang Polri

  • Pada dokumen asli terasa timbul saat diraba
  • Terlihat jelas di bawah sinar ultraviolet

Sedangkan pada dokumen palsu, fitur tersebut biasanya tidak muncul atau tidak berfungsi.

Ancaman Hukuman 6 Tahun Penjara

Para pelaku pemalsuan dokumen kendaraan dijerat Pasal 263 KUHP tentang pemalsuan surat.

Ancaman hukumannya pidana penjara maksimal enam tahun.

Polri menegaskan akan terus memburu jaringan pemalsu dokumen kendaraan yang merugikan masyarakat.

Tips Aman Membeli Kendaraan Bekas

Agar tidak menjadi korban penipuan kendaraan bodong, Korlantas Polri memberikan beberapa tips penting:

  • Lakukan cek fisik kendaraan di Samsat
  • Periksa keaslian STNK dan BPKB melalui layanan resmi
  • Gunakan aplikasi Samsat atau layanan daring kepolisian

Waspadai kendaraan dengan harga jauh di bawah pasaran

“Kami mengimbau masyarakat agar tidak mudah tergiur harga murah. Cek langsung ke Samsat untuk memastikan keaslian dokumen dan identitas kendaraan,” tegas Wibowo.

Langkah ini penting agar masyarakat terhindar dari kendaraan bodong dan dokumen palsu. (red)

Editor : Hadwan

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dilema Keamanan Nuklir: Saat Upaya Bertahan Hidup Justru Memicu Perlombaan Senjata
Aliansi Baru di Pasifik sebagai Bentuk Penyeimbang Kekuatan Tiongkok
Mengapa Negara Tak Pernah Benar-Benar Saling Percaya?
Mengapa Ambisi Pemimpin Dunia Tetap Menjadi Motor Konflik?
Pramono Anung Peringatkan Ormas Jangan Paksa Pengusaha Minta THR Jelang Lebaran 2026
Hakim Tolak Gugatan Yaqut, Status Tersangka Kasus Korupsi Kuota Haji Tetap Berlaku
Jasad Pria dengan Luka Tembak di Kepala Ditemukan di Jaksel, Polisi Selidiki Senjata Api
Kasus Suap Terbongkar, KPK Tetapkan 5 Tersangka Termasuk Bupati Rejang Lebong

Berita Terkait

Rabu, 11 Maret 2026 - 16:31 WIB

Dilema Keamanan Nuklir: Saat Upaya Bertahan Hidup Justru Memicu Perlombaan Senjata

Rabu, 11 Maret 2026 - 15:26 WIB

Aliansi Baru di Pasifik sebagai Bentuk Penyeimbang Kekuatan Tiongkok

Rabu, 11 Maret 2026 - 14:20 WIB

Mengapa Negara Tak Pernah Benar-Benar Saling Percaya?

Rabu, 11 Maret 2026 - 13:19 WIB

Mengapa Ambisi Pemimpin Dunia Tetap Menjadi Motor Konflik?

Rabu, 11 Maret 2026 - 12:34 WIB

Pramono Anung Peringatkan Ormas Jangan Paksa Pengusaha Minta THR Jelang Lebaran 2026

Berita Terbaru

Struktur adalah takdir. Melalui lensa Neo-Realisme Kenneth Waltz, kita memahami bahwa konflik dunia bukan disebabkan oleh sifat jahat manusia, melainkan oleh sistem internasional yang memaksa setiap negara untuk terus waspada demi bertahan hidup. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Mengapa Negara Tak Pernah Benar-Benar Saling Percaya?

Rabu, 11 Mar 2026 - 14:20 WIB

Politik adalah cermin manusia. Melalui kacamata Realisme Klasik Hans Morgenthau, kita memahami bahwa konflik global bukan sekadar masalah teknis diplomatik, melainkan manifestasi dari dorongan biologis manusia untuk mendominasi. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Mengapa Ambisi Pemimpin Dunia Tetap Menjadi Motor Konflik?

Rabu, 11 Mar 2026 - 13:19 WIB