Krisis Energi Timur Tengah: PM Sanae Takaichi Siapkan Subsidi BBM dan Listrik guna Lindungi Warga Jepang

Selasa, 10 Maret 2026 - 07:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Meredam lonjakan biaya hidup. Pemerintah Jepang mengambil langkah proaktif untuk menstabilkan harga energi domestik setelah penutupan Selat Hormuz mengancam pasokan minyak nasional. Dok: Istimewa.

Meredam lonjakan biaya hidup. Pemerintah Jepang mengambil langkah proaktif untuk menstabilkan harga energi domestik setelah penutupan Selat Hormuz mengancam pasokan minyak nasional. Dok: Istimewa.

TOKYO, POSNEWS.CO.ID – Pemerintah Jepang sedang mempertimbangkan rangkaian langkah strategis untuk memitigasi lonjakan harga bahan bakar dan biaya utilitas. Perdana Menteri Sanae Takaichi menegaskan komitmennya untuk melindungi daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian global yang meningkat.

“Kami akan mengambil tindakan sebelum semuanya terlambat,” ujar Takaichi dalam sidang komite anggaran Majelis Rendah pada Senin. Ia mencatat bahwa pemerintah telah meninjau masalah ini sejak awal pekan lalu, sesaat setelah serangan udara terhadap Iran memicu gejolak pasar energi.

Subsidi dan Ketahanan Anggaran 2026

PM Takaichi menyatakan bahwa pemerintah kemungkinan besar akan menyalurkan bantuan dalam bentuk subsidi. Namun demikian, ia membantah perlunya langkah anggaran tambahan untuk membiayai kebijakan pengendalian harga tersebut.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menteri Keuangan Satsuki Katayama memperkuat posisi tersebut. Ia mengungkapkan bahwa pemerintah masih memiliki dana cadangan sebesar 860 miliar yen (sekitar $5,4 miliar) dari anggaran tahun fiskal berjalan. “Jumlah ini sudah cukup untuk melakukan langkah-langkah penanggulangan selama satu hingga dua bulan ke depan,” tegas Katayama. Takaichi juga mendesak parlemen untuk segera mengesahkan draf anggaran fiskal 2026 pada akhir Maret ini guna menjamin stabilitas ekonomi jangka panjang.

Baca Juga :  Mendorong Ecocide ke Dalam Statuta Roma dan Memburu Korporasi Perusak Alam

Ancaman Penutupan Selat Hormuz

Kekhawatiran Tokyo berakar pada kondisi Selat Hormuz yang saat ini efektif tertutup akibat eskalasi pertempuran. Pasalnya, selat ini merupakan urat nadi vital bagi ketahanan energi Jepang.

Secara statistik, Jepang bergantung pada Timur Tengah untuk lebih dari 90 persen kebutuhan minyak mentah nasional. Selain itu, wilayah tersebut juga memasok 11 persen kebutuhan gas alam cair (LNG) Jepang. Gangguan pasokan yang terus berlanjut petugas prediksikan akan memicu inflasi energi yang berat bagi sektor industri dan rumah tangga di Negeri Sakura.

Baca Juga :  Terobosan Kapolri! Patroli Maung Presisi Polda Banten Siap Buru Penjahat di Titik Rawan 24 Jam Nonstop

Diplomasi dan Status Pengiriman SDF

Terkait kerja sama militer, PM Takaichi memberikan klarifikasi mengenai posisi Jepang terhadap permintaan sekutu utamanya, Amerika Serikat. Ia menegaskan bahwa Washington belum meminta Tokyo untuk bekerja sama dalam pengawalan kapal tanker di selat tersebut.

Takaichi juga menyatakan bahwa kondisi di Selat Hormuz saat ini belum mencapai level “situasi yang mengancam kelangsungan hidup” (survival-threatening situation). Oleh karena itu, pemerintah belum memiliki dasar hukum untuk mengerahkan Pasukan Bela Diri (SDF) guna membantu sekutu atau melakukan operasi pembersihan ranjau. Status “situasi pengaruh penting” juga belum terpenuhi, sehingga Jepang belum akan memberikan dukungan logistik bagi militer negara lain dalam waktu dekat. Sikap asertif namun hati-hati ini menunjukkan upaya Takaichi dalam menjaga keseimbangan antara aliansi keamanan dan amanat Konstitusi pasifis Jepang.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tragedi Pesawat Terjun Payung di Missouri: 12 Tewas Setelah Pesawat Jatuh dan Terbakar
Samurai Blue Tahan Imbang Belanda di Piala Dunia
Israel Gempur Lebanon Selatan di Tengah Isyarat Damai
Donald Trump dan Emmanuel Macron Pererat Aliansi
Wabah Ebola Kongo Kian Mengkhawatirkan
Israel Bersiap Hadapi Pemilihan Umum Sela
Presiden Mongolia Ukhnaa Khurelsukh Sambut Menlu Tiongkok
Raksasa Teknologi Dunia Serap Mineral Milisi M23

Berita Terkait

Senin, 15 Juni 2026 - 17:59 WIB

Tragedi Pesawat Terjun Payung di Missouri: 12 Tewas Setelah Pesawat Jatuh dan Terbakar

Senin, 15 Juni 2026 - 08:35 WIB

Samurai Blue Tahan Imbang Belanda di Piala Dunia

Minggu, 14 Juni 2026 - 17:21 WIB

Israel Gempur Lebanon Selatan di Tengah Isyarat Damai

Minggu, 14 Juni 2026 - 16:14 WIB

Donald Trump dan Emmanuel Macron Pererat Aliansi

Minggu, 14 Juni 2026 - 14:03 WIB

Wabah Ebola Kongo Kian Mengkhawatirkan

Berita Terbaru