Paradoks Radikalisme: Ideologi Supremasi Kulit Putih Menjerat Remaja

Selasa, 10 Maret 2026 - 15:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Siaga keamanan di Perth. Otoritas kepolisian Australia memberlakukan zona eksklusi di Terminal 1 Bandara Perth guna menginvestigasi laporan tas tak bertuan yang memicu penumpukan penumpang pada Rabu siang. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Siaga keamanan di Perth. Otoritas kepolisian Australia memberlakukan zona eksklusi di Terminal 1 Bandara Perth guna menginvestigasi laporan tas tak bertuan yang memicu penumpukan penumpang pada Rabu siang. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Sebuah penangkapan remaja di Jakarta pada November lalu membuka tabir gelap mengenai ancaman keamanan baru di Asia Tenggara. Pelaku yang dituduh mengebom kampusnya sendiri kedapatan memiliki replika senapan bertuliskan “welcome to hell” dan deretan nama pembunuh massal supremasi kulit putih global.

Serangan pada 7 November tersebut melukai 96 orang. Insiden ini petugas nilai sebagai serangan pertama di Indonesia yang terinspirasi oleh ideologi sayap kanan ekstrem dari Barat. Polisi kini mengkhawatirkan bahwa aksi ini bukanlah yang terakhir.

Statistik Pemantauan: Anak 11 Tahun Jadi Sasaran

Kepolisian Indonesia mengonfirmasi bahwa mereka saat ini memantau sedikitnya 97 pemuda yang terpapar konten glorifikasi kekerasan massal. Bahkan, pengamat mencatat individu termuda dalam daftar pantauan tersebut baru berusia 11 tahun.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Konten-konten ini sebagian besar tersebar melalui aplikasi pesan Telegram. Juru bicara tim kontra-terorisme, Komisioner Mayndra Eka Wardhana, menyatakan bahwa dua pemuda lainnya sudah mulai merencanakan aksi kekerasan nyata pasca-bom Jakarta. Kondisi ini membuktikan bahwa radikalisasi digital mampu menembus batas usia dan geografis secara instan.

Baca Juga :  KPK Tangkap Bupati Langkat Syah Afandin dalam OTT, Sejumlah Pihak Ikut Diamankan

Fenomena “East Asian Supremacist” di Singapura

Ancaman ini juga merambah ke negara tetangga. Departemen Keamanan Dalam Negeri (ISD) Singapura telah menahan empat pemuda sejak Desember 2020 karena menganut ideologi ekstremis sayap kanan.

Menariknya, tidak ada satu pun remaja yang petugas pantau di Singapura maupun Indonesia berkulit putih. Sebagian mengidentifikasi diri sebagai “East Asian Supremacists”. Mereka mengadopsi rasisme Barat guna “melindungi” komposisi ras dan agama di negara mereka sendiri. Peneliti Pravin Prakash mencatat bahwa para pelaku biasanya merupakan individu kesepian yang berpaling ke pandangan dunia nihilistik setelah terpapar pesan sayap kanan di internet.

Kode Rahasia dan Kegagalan Moderasi Media Sosial

Ruang digital seperti TikTok dan Telegram menjadi medan utama penyebaran kebencian ini dengan adaptasi lokal. Riset dari S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS) mengungkap penggunaan bahasa sandi berbahaya oleh pengguna di Asia Tenggara:

  • TCD (Total Chinese Death): Menargetkan etnis Tionghoa.
  • TRD (Total Rohingya Death): Menargetkan pengungsi dan minoritas Muslim.

Sebuah video dengan tagar #TCD bahkan telah tayang lebih dari 542,000 kali sebelum akhirnya dihapus. Para ahli memperingatkan bahwa perusahaan teknologi terlalu fokus memoderasi konten Islamis, sehingga sering kali gagal mendeteksi kode rasis lokal ini. Algoritma platform justru secara tidak sengaja merekomendasikan konten ekstremis kepada pengguna muda yang rentan.

Baca Juga :  Uni Eropa Paksa Meta Buka Akses WhatsApp untuk ChatGPT

Dampak Global: Inspirasi dari Jakarta ke Moskow

Tantangan ini telah mencapai skala global. Hanya sebulan setelah bom Jakarta, seorang remaja berusia 15 tahun di Rusia dituduh membunuh seorang anak migran di Moskow.

Dalam manifestonya di Telegram, remaja Rusia tersebut melabeli bomber remaja asal Jakarta sebagai pahlawan. Ia berargumen bahwa jika pemuda non-kulit putih mampu melakukan serangan hebat, maka penganut supremasi kulit putih harus mampu berbuat lebih banyak. Hal ini membuktikan bahwa komunitas “True Crime” daring telah menciptakan jaringan kebencian transnasional yang saling menginspirasi.

Upaya Rehabilitasi dan Pembatasan Digital

Otoritas di Asia Tenggara kini berpacu dengan waktu untuk melakukan deradikalisasi. Singapura mengandalkan Religious Rehabilitation Group (RRG) untuk memberikan konseling teologis dan bantuan pendidikan bagi remaja yang ditahan.

Di sisi lain, pemerintah Indonesia mengumumkan rencana pembatasan akses media sosial bagi anak-anak di bawah usia 16 tahun mulai bulan ini. Langkah ini bertujuan untuk meminimalkan paparan dini terhadap konten kekerasan. Keluarga pelaku bom Jakarta berharap pemerintah mengutamakan konseling psikologis daripada hukuman penjara biasa bagi pelaku di bawah umur. Dunia kini menanti apakah kolaborasi regional pertama antara kepolisian Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, dan Filipina mampu membendung infiltrasi ideologi destruktif ini di masa depan.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Iran Ancam Balas Setiap Serangan Baru AS terhadap Asetnya
Ekstremisme Nihilistik Online Ancam Keamanan Eropa
Shinjuku Larang Separuh Sewa Liburan, Termasuk Properti
Tim Nepal Kian Bersemangat Cari Korban Banjir
PM Yunani Janjikan Pemangkasan Pajak dan Kenaikan Gaji
Sony Perkenalkan DualSense GTA 6 Limited Edition
AS Serang Tiga Kapal Tanker Minyak Iran usai Rudal IRGC
Putin Temui Utusan AS Witkoff dan Kushner di Kremlin

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 08:03 WIB

Iran Ancam Balas Setiap Serangan Baru AS terhadap Asetnya

Rabu, 9 September 2026 - 07:00 WIB

Ekstremisme Nihilistik Online Ancam Keamanan Eropa

Rabu, 9 September 2026 - 06:00 WIB

Shinjuku Larang Separuh Sewa Liburan, Termasuk Properti

Minggu, 6 September 2026 - 18:27 WIB

Tim Nepal Kian Bersemangat Cari Korban Banjir

Minggu, 6 September 2026 - 17:25 WIB

PM Yunani Janjikan Pemangkasan Pajak dan Kenaikan Gaji

Berita Terbaru