JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat, Tiongkok, dan Rusia di tahun 2026, pertanyaan mengenai “mengapa kita tidak bisa hidup damai” kembali mengemuka. Jawaban yang paling dingin namun realistis datang dari John Mearsheimer melalui teorinya: Realisme Ofensif.
Bagi Mearsheimer, konflik bukan disebabkan oleh pemimpin yang jahat atau ideologi yang sesat. Sebaliknya, struktur dunia itulah yang jahat. Sistem internasional memaksa negara-negara yang sebenarnya menginginkan perdamaian untuk bertindak agresif satu sama lain demi bertahan hidup.
1. Ketidakpuasan Permanen: Mengapa Kekuatan Tak Pernah Cukup?
Inti dari Realisme Ofensif adalah asumsi bahwa negara tidak akan pernah tahu “berapa banyak kekuatan yang cukup” untuk menjamin keamanannya. Dalam sistem internasional yang anarkis—di mana tidak ada otoritas pusat yang melindungi—negara tidak bisa memercayai niat baik negara lain di masa depan.
Oleh karena itu, negara-negara besar akan selalu berupaya untuk meningkatkan kapabilitas militer dan ekonomi mereka. Pasalnya, cara terbaik untuk memastikan keamanan adalah dengan menjadi yang paling kuat di antara yang lain. Logika ini menciptakan kondisi di mana akumulasi kekuatan menjadi proses yang tanpa henti. Jika sebuah negara berhenti mengejar kekuatan saat lawannya terus berkembang, maka negara tersebut secara otomatis sedang menuju kehancuran kedaulatannya.
2. Strategi Menuju Hegemoni Regional
Mearsheimer menekankan bahwa tujuan akhir dari setiap kekuatan besar adalah menjadi hegemon regional. Hegemon regional adalah negara yang begitu kuat sehingga tidak ada negara lain di wilayahnya yang berani menantang atau melakukan serangan militer terhadapnya.
Selanjutnya, terdapat beberapa strategi yang biasanya negara gunakan untuk mencapai posisi ini:
- Penghancuran Pesaing: Melemahkan kekuatan militer dan ekonomi rival di kawasan yang sama.
- Pencegahan Hegemon di Wilayah Lain: Kekuatan besar akan berusaha mencegah munculnya hegemon regional di bagian dunia lain (misalnya, AS yang berusaha mencegah Tiongkok menjadi hegemon di Asia).
- Maksimalisasi Kapabilitas Nuklir: Memiliki senjata pemusnah massal sebagai instrumen gertakan terakhir yang tak terbantahkan.
Dengan menjadi yang terkuat, sebuah negara dapat mendikte aturan main dan memastikan tidak ada pihak manapun yang mampu mengancam eksistensinya. Inilah posisi yang petugas nilai sebagai “surga keamanan” dalam dunia yang liar dan berbahaya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
3. Tragedi Kekuatan Besar: Konflik yang Tak Terelakkan
Mengapa persaingan kekuatan besar selalu berujung pada ketegangan atau perang? Realisme Ofensif menyebut fenomena ini sebagai “tragedi”. Tragedi muncul karena semua negara besar memiliki keinginan yang sama untuk mendominasi, sehingga tabrakan kepentingan menjadi sebuah kepastian matematis.
Meskipun pemimpin negara mungkin memiliki keinginan untuk bekerja sama, rasa saling curiga sistemik selalu membayangi. Alhasil, setiap langkah kerja sama ekonomi atau diplomatik sering kali dianggap sebagai peluang bagi lawan untuk memperkuat posisi tawarnya. Di tahun 2026, persaingan teknologi AI dan kendali atas jalur perdagangan laut menjadi bukti nyata dari teori ini. Kekuatan-kekuatan besar terjebak dalam permainan “zero-sum”, di mana keuntungan satu pihak dianggap sebagai kerugian mutlak bagi pihak lainnya.
Menghadapi Dunia Tanpa Ilusi
Realisme Ofensif menawarkan pandangan yang suram namun sangat relevan bagi para diplomat dan pengambil kebijakan. Teori ini mengingatkan kita bahwa niat damai hari ini tidak menjamin keamanan hari esok.
Pada akhirnya, selama struktur internasional tetap anarkis, perlombaan menjadi hegemon regional akan terus berlanjut. Tantangan bagi peradaban manusia saat ini bukanlah bagaimana menghapuskan persaingan tersebut, melainkan bagaimana mengelolanya agar tidak meledak menjadi perang nuklir yang menghancurkan semua pihak. Memahami ambisi kekuasaan sebagai insting bertahan hidup adalah langkah pertama guna menavigasi geopolitik dunia yang semakin kompetitif di masa depan.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















