Memahami Realisme Ofensif dan Ambisi Hegemoni Regional

Rabu, 11 Maret 2026 - 17:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Keamanan lewat dominasi. Melalui kacamata Realisme Ofensif John Mearsheimer, kita memahami mengapa negara-negara besar tidak akan pernah merasa cukup dengan kekuatannya hingga mereka menjadi pemenang mutlak di kawasannya. Dok: Istimewa.

Keamanan lewat dominasi. Melalui kacamata Realisme Ofensif John Mearsheimer, kita memahami mengapa negara-negara besar tidak akan pernah merasa cukup dengan kekuatannya hingga mereka menjadi pemenang mutlak di kawasannya. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat, Tiongkok, dan Rusia di tahun 2026, pertanyaan mengenai “mengapa kita tidak bisa hidup damai” kembali mengemuka. Jawaban yang paling dingin namun realistis datang dari John Mearsheimer melalui teorinya: Realisme Ofensif.

Bagi Mearsheimer, konflik bukan disebabkan oleh pemimpin yang jahat atau ideologi yang sesat. Sebaliknya, struktur dunia itulah yang jahat. Sistem internasional memaksa negara-negara yang sebenarnya menginginkan perdamaian untuk bertindak agresif satu sama lain demi bertahan hidup.

1. Ketidakpuasan Permanen: Mengapa Kekuatan Tak Pernah Cukup?

Inti dari Realisme Ofensif adalah asumsi bahwa negara tidak akan pernah tahu “berapa banyak kekuatan yang cukup” untuk menjamin keamanannya. Dalam sistem internasional yang anarkis—di mana tidak ada otoritas pusat yang melindungi—negara tidak bisa memercayai niat baik negara lain di masa depan.

Oleh karena itu, negara-negara besar akan selalu berupaya untuk meningkatkan kapabilitas militer dan ekonomi mereka. Pasalnya, cara terbaik untuk memastikan keamanan adalah dengan menjadi yang paling kuat di antara yang lain. Logika ini menciptakan kondisi di mana akumulasi kekuatan menjadi proses yang tanpa henti. Jika sebuah negara berhenti mengejar kekuatan saat lawannya terus berkembang, maka negara tersebut secara otomatis sedang menuju kehancuran kedaulatannya.

Baca Juga :  Diplomasi di Ambang Perang: Trump Beri Sinyal Serangan

2. Strategi Menuju Hegemoni Regional

Mearsheimer menekankan bahwa tujuan akhir dari setiap kekuatan besar adalah menjadi hegemon regional. Hegemon regional adalah negara yang begitu kuat sehingga tidak ada negara lain di wilayahnya yang berani menantang atau melakukan serangan militer terhadapnya.

Selanjutnya, terdapat beberapa strategi yang biasanya negara gunakan untuk mencapai posisi ini:

  • Penghancuran Pesaing: Melemahkan kekuatan militer dan ekonomi rival di kawasan yang sama.
  • Pencegahan Hegemon di Wilayah Lain: Kekuatan besar akan berusaha mencegah munculnya hegemon regional di bagian dunia lain (misalnya, AS yang berusaha mencegah Tiongkok menjadi hegemon di Asia).
  • Maksimalisasi Kapabilitas Nuklir: Memiliki senjata pemusnah massal sebagai instrumen gertakan terakhir yang tak terbantahkan.

Dengan menjadi yang terkuat, sebuah negara dapat mendikte aturan main dan memastikan tidak ada pihak manapun yang mampu mengancam eksistensinya. Inilah posisi yang petugas nilai sebagai “surga keamanan” dalam dunia yang liar dan berbahaya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

3. Tragedi Kekuatan Besar: Konflik yang Tak Terelakkan

Mengapa persaingan kekuatan besar selalu berujung pada ketegangan atau perang? Realisme Ofensif menyebut fenomena ini sebagai “tragedi”. Tragedi muncul karena semua negara besar memiliki keinginan yang sama untuk mendominasi, sehingga tabrakan kepentingan menjadi sebuah kepastian matematis.

Baca Juga :  Bapak Ilmu Pengetahuan Modern? Kontribusi Positivisme terhadap Metode Ilmiah

Meskipun pemimpin negara mungkin memiliki keinginan untuk bekerja sama, rasa saling curiga sistemik selalu membayangi. Alhasil, setiap langkah kerja sama ekonomi atau diplomatik sering kali dianggap sebagai peluang bagi lawan untuk memperkuat posisi tawarnya. Di tahun 2026, persaingan teknologi AI dan kendali atas jalur perdagangan laut menjadi bukti nyata dari teori ini. Kekuatan-kekuatan besar terjebak dalam permainan “zero-sum”, di mana keuntungan satu pihak dianggap sebagai kerugian mutlak bagi pihak lainnya.

Menghadapi Dunia Tanpa Ilusi

Realisme Ofensif menawarkan pandangan yang suram namun sangat relevan bagi para diplomat dan pengambil kebijakan. Teori ini mengingatkan kita bahwa niat damai hari ini tidak menjamin keamanan hari esok.

Pada akhirnya, selama struktur internasional tetap anarkis, perlombaan menjadi hegemon regional akan terus berlanjut. Tantangan bagi peradaban manusia saat ini bukanlah bagaimana menghapuskan persaingan tersebut, melainkan bagaimana mengelolanya agar tidak meledak menjadi perang nuklir yang menghancurkan semua pihak. Memahami ambisi kekuasaan sebagai insting bertahan hidup adalah langkah pertama guna menavigasi geopolitik dunia yang semakin kompetitif di masa depan.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ladang Ganja 20 Hektare di Empat Lawang Dibongkar, 220 Kg Ganja Disita Polisi
Kepergok Curi Motor, Pria Diikat dan Dihajar Warga Hingga Bonyok di Jakbar
Pengadilan Banding AS Blokir Perintah Eksekutif Donald Trump
Buronan KKB TJ Dibekuk, Sempat Dilumpuhkan Saat Melawan Petugas
Raja Charles Kunjungi Washington di Tengah Krisis Hubungan AS-Inggris
20 Remaja Hendak Tawuran di Cilangkap Depok Diciduk Polisi, 10 Celurit Disita
Peltu TNI Dikeroyok di Depok Usai Tegur Ibu Kasar ke Anak – 2 Pelaku Ditangkap
386 Tawanan Ukraina dan Rusia Kembali ke Rumah Lewat Mediasi AS-UEA

Berita Terkait

Minggu, 26 April 2026 - 20:23 WIB

Ladang Ganja 20 Hektare di Empat Lawang Dibongkar, 220 Kg Ganja Disita Polisi

Minggu, 26 April 2026 - 19:50 WIB

Kepergok Curi Motor, Pria Diikat dan Dihajar Warga Hingga Bonyok di Jakbar

Minggu, 26 April 2026 - 17:13 WIB

Pengadilan Banding AS Blokir Perintah Eksekutif Donald Trump

Minggu, 26 April 2026 - 16:32 WIB

Buronan KKB TJ Dibekuk, Sempat Dilumpuhkan Saat Melawan Petugas

Minggu, 26 April 2026 - 16:05 WIB

Raja Charles Kunjungi Washington di Tengah Krisis Hubungan AS-Inggris

Berita Terbaru

Supremasi hukum di perbatasan. Pengadilan banding federal membatalkan penangguhan akses suaka oleh Presiden Donald Trump, menegaskan bahwa kekuasaan eksekutif tidak dapat melampaui undang-undang imigrasi yang ditetapkan oleh Kongres di tahun 2026. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Pengadilan Banding AS Blokir Perintah Eksekutif Donald Trump

Minggu, 26 Apr 2026 - 17:13 WIB