The Fed Tahan Suku Bunga, Trump Lancarkan Perang Terbuka

Jumat, 30 Januari 2026 - 09:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Dilema moneter di tengah perang. Federal Reserve mempertahankan suku bunga di level 3,5-3,75% saat lonjakan harga minyak akibat konflik Iran mulai mengancam stabilitas ekonomi Amerika Serikat. Dok: Istimewa.

Dilema moneter di tengah perang. Federal Reserve mempertahankan suku bunga di level 3,5-3,75% saat lonjakan harga minyak akibat konflik Iran mulai mengancam stabilitas ekonomi Amerika Serikat. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Benteng terakhir stabilitas keuangan Amerika Serikat kini berada dalam kepungan. Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) menutup pertemuan kebijakan dua harinya pada hari Rabu (28/1) dengan keputusan berani: menahan suku bunga acuan (pause button).

Suku bunga tetap bertahan di kisaran 3,50 hingga 3,75 persen, menghentikan tren pemangkasan agresif sebesar 75 basis poin yang telah berjalan sejak September 2025.

Keputusan ini bukan sekadar manuver ekonomi, melainkan pernyataan perlawanan. Langkah ini diambil di tengah badai tekanan politik yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah modern Amerika.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pemerintahan Presiden Donald Trump secara agresif mendesak pelonggaran moneter yang lebih cepat. Konflik ini mencapai titik didih pada 13 Januari lalu, saat Trump menyerukan pemangkasan suku bunga berkali-kali dalam satu hari usai rilis data inflasi.

Baca Juga :  Bagaimana Cara Menentukan Harga TBS Sawit?

“Serangan” Kriminal Terhadap Powell

Eskalasi konflik berubah menjadi perang terbuka ketika administrasi Trump meluncurkan investigasi kriminal terhadap Ketua The Fed, Jerome Powell.

Langkah drastis ini memicu reaksi keras dari para sesepuh ekonomi. Mantan ketua The Fed, termasuk Alan Greenspan dan Ben Bernanke, bersama 13 mantan pejabat senior lainnya, menandatangani pernyataan bersama. Mereka mengutuk langkah Trump sebagai “intervensi politik yang belum pernah terjadi sebelumnya”.

Bagi mereka, independensi The Fed adalah pilar sakral. Desain institusional asli bertujuan memastikan pembuat kebijakan fokus pada kesejahteraan ekonomi jangka panjang, bukan ambisi politik jangka pendek.

Hantu Stagflasi Nixon

Analis memperingatkan bahwa The Fed kini menghadapi krisis tata kelola terberat dalam beberapa dekade. Situasi ini membangkitkan memori kelam era 1970-an.

Saat itu, Presiden Richard Nixon menekan Ketua The Fed Arthur Burns untuk melonggarkan kebijakan uang demi mengamankan pemilu ulang. Hasilnya fatal: AS terperangkap dalam stagflasi. Suplai uang tumbuh dua digit, menabur benih inflasi tinggi dan pengangguran yang menghantui sepanjang dekade.

Baca Juga :  China Dukung Penuh Pakistan Mediasi Kebuntuan AS-Iran

Kini, sejarah terancam berulang. Tekanan Trump berisiko meruntuhkan kredibilitas dolar AS yang selama ini ditopang oleh independensi bank sentralnya.

Sentimen “Jual Amerika”

Dampak pasar langsung terasa. Lembaga pemeringkat kredit internasional, Fitch Ratings, mencatat bahwa “independensi” The Fed adalah faktor kunci yang menopang peringkat kredit negara AA+.

Intervensi tangan besi pemerintahan Trump telah secara serius merusak kepercayaan investor internasional. Sentimen “jual Amerika” (sell America) mulai menyebar di pasar keuangan global.

Dalam jangka panjang, erosi independensi The Fed akan meningkatkan ketidakpastian kebijakan moneter AS secara signifikan. Ditambah dengan tantangan utang negara yang kian parah, risiko terhadap kredibilitas dolar kemungkinan besar akan mempercepat proses de-dolarisasi global, meninggalkan AS sebagai subjek serangan balik pasar yang berkelanjutan.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Anthropic Resmi Buka Kantor di Seoul Pascaboikot Model AI
Kaisar Naruhito dan Permaisuri Masako Mulai Kunjungan Sejarah
Kebakaran Hebat Melanda Sekolah Dasar di Tokyo
90 Persen Pabrik Kelapa Sawit Patuhi Penyesuaian Harga
Bocoran Spesifikasi Xiaomi 18 Mulai Beredar Luas
Ukraina Siap Perluas Penggunaan Drone AI Otonom
Malaysia Resmi Tingkatkan Mandatori Biodiesel Sawit
Indonesia dan Belarus Percepat Kerja Sama Industri

Berita Terkait

Jumat, 19 Juni 2026 - 16:15 WIB

Anthropic Resmi Buka Kantor di Seoul Pascaboikot Model AI

Jumat, 19 Juni 2026 - 15:13 WIB

Kaisar Naruhito dan Permaisuri Masako Mulai Kunjungan Sejarah

Jumat, 19 Juni 2026 - 14:56 WIB

Kebakaran Hebat Melanda Sekolah Dasar di Tokyo

Jumat, 19 Juni 2026 - 14:06 WIB

90 Persen Pabrik Kelapa Sawit Patuhi Penyesuaian Harga

Jumat, 19 Juni 2026 - 13:27 WIB

Bocoran Spesifikasi Xiaomi 18 Mulai Beredar Luas

Berita Terbaru

Pelebaran sayap di Asia Timur. Anthropic resmi membuka kantor baru di Seoul guna menggarap pasar potensial Korea Selatan pasca-pemblokiran akses model AI canggih oleh pemerintah AS. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Anthropic Resmi Buka Kantor di Seoul Pascaboikot Model AI

Jumat, 19 Jun 2026 - 16:15 WIB