Realisme Neoklasik: Membedah Faktor Domestik di Balik Respon Negara Terhadap Tekanan Global

Rabu, 11 Maret 2026 - 18:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Analisis mendalam Realisme Neoklasik menurut Gideon Rose. Mengapa faktor domestik menentukan respon negara terhadap ancaman global di tahun 2026. Dok: Istimewa.

Analisis mendalam Realisme Neoklasik menurut Gideon Rose. Mengapa faktor domestik menentukan respon negara terhadap ancaman global di tahun 2026. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Mengapa beberapa negara bereaksi cepat terhadap ancaman militer? Mengapa negara lain dengan kekuatan serupa justru tampak lamban? Di tahun 2026, pertanyaan ini menjadi sangat relevan. Hal ini terlihat pada perbedaan respon negara-negara Eropa terhadap krisis energi dan konflik Timur Tengah.

Untuk menjawabnya, kita tidak bisa hanya mengandalkan hitungan kekuatan militer murni. Kita perlu beralih ke kacamata Realisme Neoklasik. Teori ini mengingatkan kita pada satu hal penting. Antara tekanan dunia luar dan kebijakan nyata sebuah negara, terdapat filter tebal bernama politik domestik.

1. Menghubungkan Struktur Dunia dengan Dapur Domestik

Kenneth Waltz lewat Neo-Realisme memandang negara sebagai “bola biliar”. Negara hanya merespon gaya atau dorongan dari luar. Namun, Realisme Neoklasik berargumen bahwa negara bukanlah aktor tunggal yang hitam-putih.

Gideon Rose menjelaskan bahwa sistem internasional memang menentukan arah umum kebijakan. Namun, struktur dunia tidak pernah memberikan instruksi yang spesifik. Para pemimpin harus menafsirkan sendiri setiap ancaman. Dalam pandangan ini, terdapat tiga variabel utama:

  • Variabel Independen: Distribusi kekuatan di sistem internasional.
  • Variabel Intervening: Persepsi elit politik, struktur birokrasi, dan hubungan negara-masyarakat.
  • Variabel Dependen: Kebijakan luar negeri yang dihasilkan.
Baca Juga :  Mengapa Negara Tak Pernah Benar-Benar Saling Percaya?

2. Persepsi Elit: Filter yang Menentukan Arah

Poin paling krusial adalah peran manusia sebagai pengambil keputusan. Ancaman luar tidak pernah dirasakan secara objektif oleh para pemimpin. Mereka melihat dunia melalui lensa pengalaman dan ideologi pribadi. Kepentingan politik domestik juga turut memengaruhi pandangan mereka.

Sebagai contoh, ancaman nuklir bisa dianggap berbeda oleh dua pemimpin. Pemimpin nasionalis mungkin melihatnya sebagai kondisi “darurat”. Sebaliknya, pemimpin moderat mungkin menganggapnya sebagai “peluang negosiasi”. Selain itu, birokrasi yang gemuk sering memperlambat respon negara. Perdebatan anggaran di parlemen bisa membuat negara kehilangan momentum emas untuk bertindak.

3. Mengapa Kekuatan Sama Membuahkan Kebijakan Berbeda?

Ada dilema besar dalam Hubungan Internasional (HI). Dua negara dengan kapasitas ekonomi dan militer identik bisa mengambil jalan bertolak belakang. Hal ini terjadi karena perbedaan dalam “State Power”. Ini adalah kemampuan negara mengambil sumber daya dari masyarakatnya.

Baca Juga :  Peran Organisasi Internasional dalam Mengatur Ketertiban Dunia

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

  • Negara A: Memiliki sistem politik sentralistik dan dukungan publik kuat. Negara ini dapat memobilisasi tentara dan dana dalam 24 jam.
  • Negara B: Memiliki oposisi kuat dan masyarakat yang skeptis pada perang. Meskipun kaya, ia kesulitan menaikkan anggaran pertahanan atau mengirim pasukan.

Jadi, kebijakan luar negeri bukan sekadar kalkulasi kekuatan nasional. Kebijakan adalah hasil kemampuan elit memenangkan dukungan domestik untuk agenda internasional mereka.

Diplomasi adalah Negosiasi Dua Front

Realisme Neoklasik mengingatkan bahwa diplomat bertarung di dua meja. Mereka berjuang di meja perundingan internasional dan meja politik dalam negeri. Keamanan sebuah bangsa tidak hanya bergantung pada jumlah rudal. Kesolidan internal untuk menggunakan kekuatan tersebut jauh lebih penting.

Di tahun 2026, memahami dinamika internal negara menjadi sangat krusial. Hal ini berlaku bagi Amerika Serikat, Tiongkok, maupun Jerman. Kegagalan memahami hambatan domestik sering menjadi pemicu miskalkulasi. Inilah yang biasanya berujung pada pecahnya konflik yang tidak diinginkan.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kepergok Curi Motor, Pria Diikat dan Dihajar Warga Hingga Bonyok di Jakbar
Pengadilan Banding AS Blokir Perintah Eksekutif Donald Trump
Buronan KKB TJ Dibekuk, Sempat Dilumpuhkan Saat Melawan Petugas
Raja Charles Kunjungi Washington di Tengah Krisis Hubungan AS-Inggris
20 Remaja Hendak Tawuran di Cilangkap Depok Diciduk Polisi, 10 Celurit Disita
Peltu TNI Dikeroyok di Depok Usai Tegur Ibu Kasar ke Anak – 2 Pelaku Ditangkap
386 Tawanan Ukraina dan Rusia Kembali ke Rumah Lewat Mediasi AS-UEA
Trump Undang Putin ke KTT G20 Miami guna Akhiri Isolasi Rusia

Berita Terkait

Minggu, 26 April 2026 - 19:50 WIB

Kepergok Curi Motor, Pria Diikat dan Dihajar Warga Hingga Bonyok di Jakbar

Minggu, 26 April 2026 - 17:13 WIB

Pengadilan Banding AS Blokir Perintah Eksekutif Donald Trump

Minggu, 26 April 2026 - 16:32 WIB

Buronan KKB TJ Dibekuk, Sempat Dilumpuhkan Saat Melawan Petugas

Minggu, 26 April 2026 - 16:05 WIB

Raja Charles Kunjungi Washington di Tengah Krisis Hubungan AS-Inggris

Minggu, 26 April 2026 - 15:42 WIB

20 Remaja Hendak Tawuran di Cilangkap Depok Diciduk Polisi, 10 Celurit Disita

Berita Terbaru

Supremasi hukum di perbatasan. Pengadilan banding federal membatalkan penangguhan akses suaka oleh Presiden Donald Trump, menegaskan bahwa kekuasaan eksekutif tidak dapat melampaui undang-undang imigrasi yang ditetapkan oleh Kongres di tahun 2026. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Pengadilan Banding AS Blokir Perintah Eksekutif Donald Trump

Minggu, 26 Apr 2026 - 17:13 WIB