Jepang Gandeng AS dan Timur Tengah Amankan Selat Hormuz

Selasa, 17 Maret 2026 - 14:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Peluang damai dari Buergenstock. Delegasi Amerika Serikat dan Iran menyepakati peta jalan transisi 60 hari guna mengakhiri perang dan memulihkan pasokan energi dunia. Dok: Istimewa.

Peluang damai dari Buergenstock. Delegasi Amerika Serikat dan Iran menyepakati peta jalan transisi 60 hari guna mengakhiri perang dan memulihkan pasokan energi dunia. Dok: Istimewa.

TOKYO, POSNEWS.CO.ID – Pemerintah Jepang mulai bergerak aktif untuk meredakan krisis energi global akibat penutupan Selat Hormuz. Menteri Luar Negeri Toshimitsu Motegi mengadakan pembicaraan telepon dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada hari Senin. Kedua pihak sepakat untuk berkolaborasi erat demi menjamin keselamatan navigasi di jalur vital tersebut.

Dalam konteks ini, pembicaraan tersebut berlangsung saat perang di Timur Tengah memasuki pekan ketiga. Meskipun demikian, sumber internal kementerian menyebutkan bahwa Rubio tidak mengajukan permintaan eksplisit bagi Jepang untuk mengirim kapal perang selama percakapan tersebut. Langkah ini menunjukkan pendekatan yang lebih terukur di tingkat diplomatik dibandingkan seruan agresif Presiden Donald Trump di media sosial.

Ketergantungan Energi dan Dilema Konstitusional

Bagi Jepang, stabilitas Selat Hormuz adalah masalah kelangsungan hidup nasional. Negeri Sakura ini bergantung pada Timur Tengah untuk lebih dari 90 persen impor minyak mentahnya. Oleh karena itu, penutupan selat oleh Iran sebagai respon atas pengeboman AS-Israel telah mengancam ketahanan energi domestik secara langsung.

Namun, Jepang menghadapi hambatan besar dalam pengerahan aset militer ke luar negeri. Konstitusi Jepang yang bersifat pasifis sangat membatasi peran Pasukan Bela Diri (SDF) dalam konflik bersenjata di wilayah internasional. Walaupun demikian, pemerintah memiliki wewenang untuk memerintahkan kapal SDF mendampingi kapal-kapal yang terkait dengan kepentingan Jepang. Operasi keamanan maritim ini memungkinkan penggunaan senjata dalam batas yang sangat terbatas untuk perlindungan.

Koordinasi dengan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab

Selain menghubungi Washington, Motegi juga berbicara secara terpisah dengan Pangeran Faisal bin Farhan Al-Saud dari Arab Saudi dan Syekh Abdullah bin Zayed Al Nahyan dari UEA. Dalam hal ini, Jepang berupaya membangun konsensus regional untuk de-eskalasi situasi. Ketiga pihak sepakat bahwa stabilitas pasokan minyak mentah harus menjadi prioritas utama.

Lebih lanjut, mereka juga membahas perlindungan terhadap warga negara Jepang yang tinggal di kawasan konflik. Sebagai hasilnya, Jepang memposisikan dirinya sebagai mediator yang netral namun aktif dalam menjaga kepentingan ekonomi internasional. Tokyo menyadari bahwa solusi militer sepihak tanpa dukungan negara-negara Teluk justru dapat memperburuk krisis energi.

Baca Juga :  Pemerintah Siapkan Perpres Ojol, Tarif dan Perlindungan Mitra Jadi Fokus

Pembicaraan telepon ini juga berfungsi sebagai persiapan bagi pertemuan tingkat tinggi antara Perdana Menteri Sanae Takaichi dan Donald Trump. KTT yang dijadwalkan pada hari Kamis tersebut diperkirakan akan fokus pada detail teknis pengamanan jalur maritim. Oleh sebab itu, Motegi dan Rubio berkomitmen untuk menjaga komunikasi yang intensif hingga pertemuan puncak berlangsung.

Pada akhirnya, Jepang harus menyeimbangkan aliansi keamanannya dengan Amerika Serikat sembari menghormati batasan hukum domestiknya. Keberhasilan diplomasi Jepang di Selat Hormuz akan menentukan seberapa cepat pasokan LNG dan minyak global dapat kembali normal. Dengan demikian, pergerakan diplomatik Tokyo minggu ini menjadi sangat krusial bagi stabilitas ekonomi dunia di tahun 2026.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dewan Kennedy Center Setujui Penutupan Gedung
Senat AS Gagal Meloloskan RUU Kripto Clarity Act
PM Kanada Mark Carney Pangkas Pajak Investasi
Putera Mahkota Arab Saudi Temui Presiden Mesir
Biaya Perang AS Lawan Iran Tembus 38 Miliar Dolar AS
Donald Trump Kecam Mahkamah Agung AS
Serangan Udara Israel di Lebanon Selatan Tewaskan 13 Orang
Ribuan Korban Hilang Banjir Bandang Perbatasan Nepal-Tiongkok

Berita Terkait

Kamis, 17 September 2026 - 09:17 WIB

Dewan Kennedy Center Setujui Penutupan Gedung

Kamis, 17 September 2026 - 08:10 WIB

Senat AS Gagal Meloloskan RUU Kripto Clarity Act

Kamis, 17 September 2026 - 07:03 WIB

PM Kanada Mark Carney Pangkas Pajak Investasi

Kamis, 17 September 2026 - 06:00 WIB

Putera Mahkota Arab Saudi Temui Presiden Mesir

Rabu, 16 September 2026 - 17:39 WIB

Biaya Perang AS Lawan Iran Tembus 38 Miliar Dolar AS

Berita Terbaru

Dewan Kennedy Center menyetujui penutupan gedung untuk perbaikan usai hakim memblokir penambahan nama Donald Trump. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Dewan Kennedy Center Setujui Penutupan Gedung

Kamis, 17 Sep 2026 - 09:17 WIB

Senat AS gagal meloloskan RUU Kripto Clarity Act dukungan Donald Trump. Simak rincian pemungutan suara dan dampaknya pada harga Bitcoin. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Senat AS Gagal Meloloskan RUU Kripto Clarity Act

Kamis, 17 Sep 2026 - 08:10 WIB