200 Pasukan dan Drone MQ-9 Reaper Dikerahkan Lawan Militan

Minggu, 22 Maret 2026 - 07:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Tragedi di zona medis. Serangan drone menghantam Rumah Sakit Pendidikan El-Daein di Darfur Timur, menewaskan puluhan pasien dan anak-anak di tengah krisis kemanusiaan Sudan yang kian memburuk. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Tragedi di zona medis. Serangan drone menghantam Rumah Sakit Pendidikan El-Daein di Darfur Timur, menewaskan puluhan pasien dan anak-anak di tengah krisis kemanusiaan Sudan yang kian memburuk. Dok: Istimewa.

ABUJA, POSNEWS.CO.ID – Militer Amerika Serikat kini mengoperasikan beberapa drone MQ-9 Reaper di wilayah Nigeria. Operasi ini berjalan berdampingan dengan penempatan 200 tentara AS untuk memberikan dukungan pelatihan dan intelijen bagi militer Nigeria.

Dalam konteks ini, pasukan tersebut tidak bergabung dengan unit tempur di garis depan. Drone-drone tersebut bertugas mengumpulkan data intelijen dan tidak melakukan serangan udara secara langsung. Oleh karena itu, kehadiran militer AS bertujuan murni untuk memperkuat operasional otoritas lokal dalam menumpas militan Islamis.

Re-Engagement AS di Afrika Barat

Pengerahan ini menunjukkan upaya Washington untuk kembali aktif menangani pemberontakan kelompok terkait ISIS dan Al-Qaeda. Kelompok-kelompok ini kini menyebar luas di berbagai wilayah Afrika Barat. Sebelumnya, militer AS terpaksa menutup pangkalan drone senilai $100 juta di Niger pada tahun 2024 atas permintaan junta militer setempat.

Penempatan aset di Bauchi, Nigeria timur laut, menjadi jawaban strategis atas hilangnya akses di kawasan Sahel. Lebih lanjut, langkah ini menyusul serangan udara AS di Nigeria barat laut pada akhir 2025 yang menargetkan kelompok militan. Amerika Serikat kini memandang terorisme di Nigeria sebagai ancaman keamanan bersama yang memerlukan kolaborasi teknis tingkat tinggi.

Baca Juga :  Negosiasi Damai Ukraina di Abu Dhabi Terancam Mundur

Ancaman Militan dan Krisis Keamanan Domestik

Eskalasi serangan militan tetap menjadi tantangan berat bagi pemerintah Nigeria. Serangan bom bunuh diri di kota garnisun timur laut pekan ini membuktikan bahwa pemberontakan berusia 17 tahun itu masih mampu memukul pusat kota. Bahkan, kelompok militan mulai meningkatkan aktivitas mereka di wilayah barat laut yang berbatasan dengan Benin dan Niger.

Selain itu, krisis bandit yang berkepanjangan di wilayah tersebut berisiko bermutasi menjadi zona operasional baru bagi kelompok radikal. Mayor Jenderal Samaila Uba, Direktur Informasi Pertahanan Nigeria, mengonfirmasi pembentukan sel fusi intelijen gabungan dengan mitra AS. “Dukungan ini memungkinkan komandan lapangan kami menerima informasi yang dapat segera ditindaklanjuti,” ujar Uba kepada Reuters.

Baca Juga :  Tragedi di Abyei: Drone Hantam Markas PBB, 6 Penjaga Perdamaian Bangladesh Tewas

Peran Drone Reaper dan Kerangka Kerja Operasional

Drone MQ-9 Reaper memiliki kemampuan terbang tinggi selama lebih dari 27 jam. Teknologi ini sangat efektif untuk mengidentifikasi, melacak, dan merespon ancaman teroris secara presisi. Meskipun demikian, pihak Nigeria menekankan bahwa peran mitra AS tetaplah sebagai pendukung non-kombatan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Secara simultan, pemerintah Nigeria menolak klaim bahwa konflik di wilayah tersebut murni merupakan kampanye anti-Kristen. Para pakar menilai krisis ini jauh lebih kompleks dan tidak boleh disederhanakan sebagai masalah agama semata. Dengan demikian, masa depan pengerahan pasukan AS akan sangat bergantung pada evaluasi keamanan berkala antara kedua negara guna memastikan stabilitas di kawasan yang volatil ini.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pemkab Tangerang Siapkan WFH ASN, Hemat Energi Jadi Prioritas
KPK Ungkap 96 Ribu Pejabat Belum Lapor Harta, Kepatuhan LHKPN Baru 67,98 Persen
Mette Frederiksen Cari Koalisi Baru di Tengah Kekalahan Telak
Donbas Jadi Syarat: Trump Desak Ukraina Serahkan Wilayah
Donald Trump Dijadwalkan Temui Xi Jinping di Beijing
Andrie Yunus Korban Air Keras Jalani Operasi Berat, Mata Terancam Rusak
Ramai Hoax Beredar, Menteri Hak Asasi Manusia Pertimbangkan Lapor Polisi
Kebuntuan di Timur Tengah: Iran Tolak Proposal Gencatan Senjata AS

Berita Terkait

Kamis, 26 Maret 2026 - 15:32 WIB

Pemkab Tangerang Siapkan WFH ASN, Hemat Energi Jadi Prioritas

Kamis, 26 Maret 2026 - 15:17 WIB

KPK Ungkap 96 Ribu Pejabat Belum Lapor Harta, Kepatuhan LHKPN Baru 67,98 Persen

Kamis, 26 Maret 2026 - 14:49 WIB

Mette Frederiksen Cari Koalisi Baru di Tengah Kekalahan Telak

Kamis, 26 Maret 2026 - 13:46 WIB

Donbas Jadi Syarat: Trump Desak Ukraina Serahkan Wilayah

Kamis, 26 Maret 2026 - 12:43 WIB

Donald Trump Dijadwalkan Temui Xi Jinping di Beijing

Berita Terbaru

Pemberontakan pemilih di Kopenhagen. Perdana Menteri Mette Frederiksen menderita kekalahan pemilu terburuk dalam satu abad, namun ia tetap menjadi kandidat terkuat untuk memimpin pemerintahan koalisi baru Denmark. Dok: Wikipedia.

INTERNASIONAL

Mette Frederiksen Cari Koalisi Baru di Tengah Kekalahan Telak

Kamis, 26 Mar 2026 - 14:49 WIB

Pilihan sulit bagi Kyiv. Presiden Donald Trump memberikan tawaran jaminan keamanan bagi Ukraina dengan syarat penyerahan seluruh wilayah Donbas kepada Rusia, saat fokus Washington kini terbelah ke konflik Iran. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Donbas Jadi Syarat: Trump Desak Ukraina Serahkan Wilayah

Kamis, 26 Mar 2026 - 13:46 WIB

Mencari titik temu. Presiden Donald Trump akan melakukan kunjungan pertamanya ke Tiongkok dalam delapan tahun guna mengelola persaingan ekonomi dan menggalang dukungan terkait krisis energi di Selat Hormuz. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Donald Trump Dijadwalkan Temui Xi Jinping di Beijing

Kamis, 26 Mar 2026 - 12:43 WIB