Mendorong Ecocide ke Dalam Statuta Roma dan Memburu Korporasi Perusak Alam

Senin, 23 Maret 2026 - 15:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Hukum untuk bumi. Komunitas internasional berupaya menjadikan Ecocide sebagai kejahatan internasional guna menjerat individu dan pemimpin korporasi yang bertanggung jawab atas kerusakan alam skala besar di tahun 2026. Dok: Istimewa.

Hukum untuk bumi. Komunitas internasional berupaya menjadikan Ecocide sebagai kejahatan internasional guna menjerat individu dan pemimpin korporasi yang bertanggung jawab atas kerusakan alam skala besar di tahun 2026. Dok: Istimewa.

DEN HAAG, POSNEWS.CO.ID – Agenda hukum internasional pada tahun 2026 mencapai titik balik yang bersejarah. Komunitas global kini bergerak maju untuk meresmikan Ecocide atau perusakan lingkungan skala besar sebagai kejahatan internasional yang berdiri sendiri.

Dalam konteks ini, para ahli hukum berupaya melakukan amandemen terhadap Statuta Roma. Mereka ingin menempatkan kerusakan ekosistem yang parah dan meluas sebagai “kejahatan terhadap kemanusiaan” versi baru. Oleh karena itu, ICC diharapkan mampu menjadi benteng terakhir dalam mengadili para perusak bumi.

Amandemen Statuta Roma: Menuju Kejahatan Kelima

Institusionalisme hukum menekankan pentingnya aturan formal dalam mengelola perilaku global. Saat ini, Statuta Roma hanya mengenal empat jenis kejahatan: genosida, kejahatan kemanusiaan, kejahatan perang, dan agresi. Namun, krisis iklim tahun 2026 memaksa dunia untuk mengakui bahwa penghancuran alam secara masif mengancam kelangsungan hidup umat manusia secara keseluruhan.

Lebih lanjut, proses amandemen ini memerlukan dukungan dari mayoritas negara anggota. Negara-negara kepulauan dan Afrika berada di baris terdepan dalam mendukung inisiatif ini. Sebagai hasilnya, hukum internasional mulai bergeser dari sekadar mengatur konflik antarnegara menjadi instrumen penyelamatan biosfer bumi secara aktif.

Tantangan Menjerat Korporasi Lintas Batas

Hambatan terbesar dalam penegakan hukum Ecocide adalah struktur hukum ICC yang saat ini hanya fokus pada individu. Perusahaan multinasional sering kali melakukan perusakan alam di negara berkembang namun berlindung di balik entitas hukum yang rumit. Oleh sebab itu, dunia internasional kini mendesak adanya perluasan definisi tanggung jawab pidana.

Dalam hal ini, jaksa penuntut ICC mulai membidik para eksekutif senior korporasi secara personal. Jika terbukti secara sadar mengambil keputusan yang mengakibatkan kehancuran ekologis, pemimpin perusahaan tersebut dapat menghadapi hukuman penjara internasional. Dengan demikian, tidak ada lagi tempat persembunyian bagi para aktor ekonomi yang mengutamakan keuntungan di atas kelestarian alam lintas batas.

Baca Juga :  Kyiv Membeku di Bawah Hujan 500 Drone: Zelenskyy Terbang ke Florida

Peran LSM sebagai Motor Penggerak Norma

Keberhasilan diplomasi Ecocide tidak terlepas dari peran aktif aktor non-negara. LSM internasional seperti Stop Ecocide International berfungsi sebagai “pengusaha norma” yang sangat efektif. Mereka menyediakan draf hukum, menggalang opini publik, dan melobi parlemen negara-negara besar.

Terlebih lagi, kelompok masyarakat sipil ini menggunakan kekuatan data satelit untuk membuktikan tingkat kerusakan alam secara real-time. Secara simultan, mereka memaksa pemerintah untuk tidak lagi menganggap isu lingkungan sebagai masalah domestik semata. Pada akhirnya, koalisi global ini membuktikan bahwa desakan moral dari masyarakat sipil mampu meruntuhkan kaku-nya kedaulatan negara dalam isu lingkungan hidup di tahun 2026.

Keadilan Ekologis Global

Langkah menjadikan Ecocide sebagai kejahatan internasional adalah investasi bagi masa depan peradaban. Meskipun demikian, kepatuhan terhadap aturan baru ini akan sangat bergantung pada konsistensi penegakan hukum di Den Haag. Dengan demikian, tatanan dunia yang baru harus mampu membuktikan bahwa hukum tetap berdaulat, bahkan di hadapan kekuatan ekonomi korporasi raksasa sekalipun.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mandat B50 Indonesia dan Tensi Geopolitik Tahan Harga CPO
Afrika Selatan Hentikan Sementara Pemakzulan Presiden
Perusahaan Pelayaran Hentikan Operasi ke Ukraina
Pakistan Minta Bantuan Finansial 10 Miliar Dolar AS
Dua Kobaran Api Raksasa Bersiap Menyatu di Barat Madrid
Jepang Kembangkan Sistem SHIELD dan Reorganisasi Industri
Mantan PM Hungaria Tuduh Pemerintah Hancurkan Demokrasi
Ribuan Pemuda Bentrok dengan Polisi di New Delhi Desak Menteri

Berita Terkait

Sabtu, 25 Juli 2026 - 10:19 WIB

Mandat B50 Indonesia dan Tensi Geopolitik Tahan Harga CPO

Sabtu, 25 Juli 2026 - 09:21 WIB

Afrika Selatan Hentikan Sementara Pemakzulan Presiden

Sabtu, 25 Juli 2026 - 09:11 WIB

Perusahaan Pelayaran Hentikan Operasi ke Ukraina

Sabtu, 25 Juli 2026 - 07:32 WIB

Pakistan Minta Bantuan Finansial 10 Miliar Dolar AS

Sabtu, 25 Juli 2026 - 06:01 WIB

Jepang Kembangkan Sistem SHIELD dan Reorganisasi Industri

Berita Terbaru

Peluang dan tantangan industri sawit. MPOC memproyeksikan harga CPO Agustus bertahan stabil berkat mandat B50 Indonesia serta dinamika pasar energi global. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Mandat B50 Indonesia dan Tensi Geopolitik Tahan Harga CPO

Sabtu, 25 Jul 2026 - 10:19 WIB

Langkah hukum selamatkan posisi presiden. Pengadilan Tinggi Afrika Selatan membekukan sementara proses pemakzulan Presiden Cyril Ramaphosa terkait skandal uang di sofa peternakan Phala Phala. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Afrika Selatan Hentikan Sementara Pemakzulan Presiden

Sabtu, 25 Jul 2026 - 09:21 WIB

Krisis pasokan pangan dunia. Raksasa pelayaran Maersk dan Hapag-Lloyd menghentikan operasional ke pelabuhan Ukraina akibat gempuran rudal Rusia. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Perusahaan Pelayaran Hentikan Operasi ke Ukraina

Sabtu, 25 Jul 2026 - 09:11 WIB

Manuver diplomasi ekonomi Pakistan. Islamabad mengajukan fasilitas dana stabilitas 10 miliar dolar AS kepada Washington di tengah keraguan para ekonom. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Pakistan Minta Bantuan Finansial 10 Miliar Dolar AS

Sabtu, 25 Jul 2026 - 07:32 WIB