LONDON/WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Hubungan diplomatik antara London dan Washington berada di titik didih. Pada hari Jumat (23/1), Perdana Menteri Inggris Keir Starmer melancarkan serangan verbal yang langka dan tajam terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Pemicunya adalah komentar Trump dalam wawancara dengan Fox News. Presiden AS itu mengklaim bahwa pasukan Inggris dan NATO yang bertugas di Afghanistan “berada sedikit di belakang” dan “menghindari garis depan”.
Starmer tidak tinggal diam. Ia menyebut pernyataan tersebut “menghina dan sejujurnya mengerikan (frankly appalling)”.
“Saya tidak akan pernah melupakan keberanian, kegagahan, dan pengorbanan yang mereka buat untuk negara mereka,” tegas Starmer. Ia mengingatkan bahwa 457 personel militer Inggris gugur dalam konflik tersebut.
Ketika wartawan bertanya apakah Trump harus meminta maaf, Starmer menjawab diplomatis namun menohok. “Jika saya salah bicara dengan cara itu atau mengucapkan kata-kata itu, saya pasti akan meminta maaf.”
Satu Suara Melawan Trump
Komentar Trump berhasil menyatukan spektrum politik Inggris yang biasanya terpecah. Dari Partai Konservatif hingga Reform UK, semua mengecam penghinaan tersebut.
Pemimpin Konservatif Kemi Badenoch menuduh Trump “merendahkan” pasukan Inggris. Nigel Farage, pemimpin Reform UK yang dikenal dekat dengan Trump, bahkan berani membantah sekutunya itu.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Donald Trump salah. Selama 20 tahun angkatan bersenjata kita bertempur dengan berani bersama Amerika di Afghanistan,” tulis Farage di X.
Pangeran Harry, yang pernah bertugas dua kali di garis depan Afghanistan, turut angkat bicara. Ia menegaskan bahwa pengorbanan tentara Inggris “layak dibicarakan dengan kebenaran dan rasa hormat”.
“Saya bertugas di sana… Ribuan nyawa berubah selamanya,” ujar Duke of Sussex.
Luka Hati Keluarga Veteran
Bagi keluarga korban, kata-kata Trump membuka kembali luka lama. Diane Dernie, ibu dari Ben Parkinson—prajurit yang mengalami cedera mengerikan akibat ranjau darat pada 2006—menyebut komentar presiden AS itu “di luar nalar”.
“Mendengar pria ini berkata: ‘Oh, yah, kalian hanya main-main di belakang garis depan’… Itu adalah penghinaan pamungkas,” kata Diane dengan emosional.
Ben Parkinson menderita cedera yang mengubah hidupnya demi bertugas di garis depan yang Trump sepelekan.
Gedung Putih Menolak Mundur
Meskipun kemarahan global memuncak, Gedung Putih justru memperkeras posisinya pada Jumat malam. Juru bicara Taylor Rogers menolak kritik Inggris.
“Presiden Trump benar sekali – Amerika Serikat telah melakukan lebih banyak untuk NATO daripada gabungan negara lain mana pun dalam aliansi tersebut,” klaim Rogers.
Ketegangan ini memperburuk hubungan yang sudah retak seminggu terakhir. Sebelumnya, Trump mengkritik keputusan Inggris menyerahkan Kepulauan Chagos ke Mauritius sebagai “tindakan kebodohan besar”. Kini, dengan isu Afghanistan, aliansi transatlantik menghadapi ujian terberatnya di era Trump 2.0.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia
Sumber Berita: Xinhua News Agency

















