Membedah Hegemoni Keuangan Amerika Serikat dan Arus De-dolarisasi

Rabu, 25 Maret 2026 - 08:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Mata uang sebagai alat pemaksa. Teori Stabilitas Hegemonik menjelaskan cara Amerika Serikat menggunakan dominasi dolar untuk mengatur ketertiban dunia, sementara blok BRICS mulai membangun benteng finansial tandingan di tahun 2026. Dok: Istimewa.

Mata uang sebagai alat pemaksa. Teori Stabilitas Hegemonik menjelaskan cara Amerika Serikat menggunakan dominasi dolar untuk mengatur ketertiban dunia, sementara blok BRICS mulai membangun benteng finansial tandingan di tahun 2026. Dok: Istimewa.

NEW YORK, POSNEWS.CO.ID – Dunia keuangan internasional pada tahun 2026 sedang berada di persimpangan jalan yang sangat krusial. Dolar Amerika Serikat, yang selama delapan dekade menjadi pilar utama perdagangan global, kini menghadapi tantangan kredibilitas yang serius. Dalam konteks ini, perspektif Teori Stabilitas Hegemonik menawarkan penjelasan mendalam mengenai cara mata uang digunakan sebagai senjata politik.

Negara-negara menyadari bahwa ketergantungan pada satu mata uang tunggal menciptakan kerentanan yang ekstrem. Oleh karena itu, arus de-dolarisasi bukan lagi sekadar retorika politik, melainkan strategi bertahan hidup ekonomi bagi banyak bangsa di luar blok Barat.

Dolar sebagai Penopang Ketertiban Dunia Pasca-Bretton Woods

Setelah sistem Bretton Woods berakhir pada 1971, dolar tetap mempertahankan posisinya melalui kesepakatan “petrodollar”. Amerika Serikat bertindak sebagai penyedia barang publik global berupa pasar modal yang likuid dan mata uang yang stabil. Sebagai hasilnya, sebagian besar perdagangan energi dan komoditas dunia wajib menggunakan dolar.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hegemoni ini memberikan keuntungan luar biasa bagi Washington, yang sering disebut sebagai “privilese selangit” (exorbitant privilege). Lebih lanjut, AS dapat membiayai defisit anggarannya dengan mencetak uang yang dunia gunakan sebagai cadangan devisa. Dengan demikian, stabilitas ekonomi global secara inheren terikat pada kebijakan moneter Federal Reserve.

Baca Juga :  Hakim AS Batalkan Pemotongan Hibah $100 Juta oleh Trump

Persenjataan Finansial: SWIFT sebagai Instrumen Politik

Washington kini semakin agresif menggunakan hegemoni ini untuk menghukum lawan-lawan politiknya. Pemanfaatan jaringan SWIFT sebagai senjata sanksi telah melumpuhkan ekonomi negara-negara seperti Iran dan Rusia secara instan. Oleh sebab itu, sistem keuangan global tidak lagi dipandang sebagai ruang yang netral bagi semua negara.

Dalam hal ini, sanksi finansial bertindak sebagai instrumen pemaksaan luar negeri yang sangat mematikan tanpa perlu melibatkan kekuatan militer fisik. Namun, kebijakan “persenjataan dolar” ini memicu efek bumerang. Negara-negara lain mulai merasa bahwa memegang dolar adalah risiko keamanan, karena aset mereka dapat dibekukan kapan saja oleh otoritas Amerika Serikat.

Respons BRICS dan Munculnya Sistem Pembayaran Alternatif

Menanggapi ketidakpastian tersebut, blok ekonomi BRICS (Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, dan anggota baru) mempercepat penciptaan infrastruktur keuangan mandiri. Secara simultan, mereka mulai mempromosikan perdagangan menggunakan mata uang lokal guna mengurangi keterpaparan terhadap sistem perbankan AS.

Baca Juga :  Mengapa Litium Menjadi Minyak Baru dalam Geopolitik?

Terlebih lagi, pengembangan “BRICS Pay” dan mata uang digital bank sentral (CBDC) menjadi ancaman nyata bagi dominasi jaringan SWIFT. China, misalnya, telah berhasil mengintegrasikan banyak mitra dagangnya ke dalam sistem CIPS miliknya. Sebagai hasilnya, peta kekuatan ekonomi dunia kini terbagi menjadi beberapa zona moneter yang saling bersaing, yang secara perlahan menggerus otoritas tunggal Washington di tahun 2026.

Menuju Dunia Finansial Multipolar

Masa depan tatanan dunia bergantung pada seberapa lama Amerika Serikat mampu mempertahankan kepercayaan terhadap dolarnya. Pada akhirnya, de-dolarisasi membuktikan bahwa stabilitas yang dipaksakan melalui ancaman sanksi tidak akan bertahan lama.

Dengan demikian, dunia sedang bergerak menuju era multipolaritas finansial yang lebih kompleks. Meskipun dolar mungkin tetap menjadi mata uang utama, kehadirannya tidak lagi bersifat absolut. Keberhasilan sistem pembayaran alternatif akan menentukan apakah transisi kekuasaan ekonomi ini akan berlangsung secara damai atau justru memicu guncangan hebat pada pasar global di masa depan.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Serangan Balik: Ukraina Gempur Terminal Minyak Rusia
Sempat Ditangkap Israel, 9 WNI Relawan Gaza Akhirnya Tiba di Indonesia
Marco Rubio Lawat India guna Pulihkan Hubungan Dagang
Bareskrim Selidiki Blackout Sumatera, Kabel SUTET Putus di Jambi Diuji Forensik
Prancis Larang Masuk Menteri Keamanan Israel
WHO Nyatakan Wabah Strain Bundibugyo sebagai Ancaman Global
Trump Klaim Kesepakatan Damai dengan Iran Hampir Tuntas
Brimob Polda Metro Gagalkan Tawuran dan Balap Liar, Celurit hingga Narkoba Disita

Berita Terkait

Minggu, 24 Mei 2026 - 18:17 WIB

Serangan Balik: Ukraina Gempur Terminal Minyak Rusia

Minggu, 24 Mei 2026 - 17:24 WIB

Sempat Ditangkap Israel, 9 WNI Relawan Gaza Akhirnya Tiba di Indonesia

Minggu, 24 Mei 2026 - 17:14 WIB

Marco Rubio Lawat India guna Pulihkan Hubungan Dagang

Minggu, 24 Mei 2026 - 17:00 WIB

Bareskrim Selidiki Blackout Sumatera, Kabel SUTET Putus di Jambi Diuji Forensik

Minggu, 24 Mei 2026 - 16:11 WIB

Prancis Larang Masuk Menteri Keamanan Israel

Berita Terbaru

Bara di garis depan. Pasukan Ukraina meluncurkan serangan drone masif terhadap terminal minyak utama Rusia di Novorossiysk, sementara jumlah korban tewas akibat serangan di asrama mahasiswa Starobilsk mencapai 18 jiwa. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Serangan Balik: Ukraina Gempur Terminal Minyak Rusia

Minggu, 24 Mei 2026 - 18:17 WIB

Misi merajut kembali aliansi. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengunjungi India untuk memulihkan hubungan yang sempat retak akibat sengketa tarif dan perbedaan pandangan strategis terkait kawasan Asia Selatan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Marco Rubio Lawat India guna Pulihkan Hubungan Dagang

Minggu, 24 Mei 2026 - 17:14 WIB

Sanksi diplomatik Paris. Pemerintah Prancis resmi melarang Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, memasuki wilayahnya sebagai respons atas sikap kontroversialnya terhadap aktivis bantuan Gaza. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Prancis Larang Masuk Menteri Keamanan Israel

Minggu, 24 Mei 2026 - 16:11 WIB