TEL AVIV, POSNEWS.CO.ID – Militer Israel bersiap melakukan pendudukan permanen di wilayah selatan Lebanon. Menteri Pertahanan Israel Katz mengonfirmasi bahwa pasukan pertahanan akan menguasai seluruh area hingga Sungai Litani, yang terletak sekitar 30 kilometer di utara perbatasan.
Dalam konteks ini, pengumuman tersebut menandai pertama kalinya Israel secara terbuka mengeklaim niat untuk menyita wilayah yang mencakup hampir sepuluh persen luas negara Lebanon. Israel Katz menegaskan bahwa tentara akan mengendalikan seluruh jembatan yang tersisa dan menetapkan “zona keamanan” murni di wilayah tersebut.
Hezbollah: Ancaman Eksistensial bagi Negara
Hezbollah merespons pengumuman tersebut dengan ancaman perlawanan sengit. Kelompok yang mendapat dukungan Iran ini menyebut rencana pendudukan Israel sebagai ancaman eksistensial bagi kedaulatan negara Lebanon. Oleh karena itu, faksi bersenjata tersebut bersumpah akan terus bertempur guna mencegah tentara Israel menetap di selatan.
“Kami tidak memiliki pilihan selain menghadapi agresi ini dan mempertahankan tanah kami,” tegas perwakilan senior Hezbollah, Hassan Fadlallah. Konflik ini bermula sejak 2 Maret lalu, saat serangan lintas batas menyeret Lebanon ke dalam pusaran perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran.
Peringatan PBB dan Dampak Infrastruktur Sipil
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan keprihatinan mendalam atas retorika pendudukan tersebut. Juru bicara PBB, Stephane Dujarric, menyebut langkah ini sebagai hal terakhir yang ingin masyarakat dunia lihat. Bahkan, PBB memperingatkan bahwa penghancuran infrastruktur sipil secara sistematis melanggar hukum internasional.
Sejak 13 Maret, militer Israel telah menghancurkan lima jembatan utama di Sungai Litani. Mereka juga meratakan bangunan di desa-desa perbatasan dengan alasan menciptakan penyangga pertahanan. Akibatnya, akses logistik dan evakuasi bagi warga sipil di wilayah selatan kini hampir terputus sepenuhnya.
Tragedi Kemanusiaan: 1.070 Nyawa Melayang
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan angka kematian yang terus membengkak. Serangan udara Israel telah menewaskan sedikitnya 1.070 orang. Data tersebut mencakup lebih dari 120 anak-anak, 80 wanita, dan 40 petugas medis. Selain itu, lebih dari satu juta orang kini terpaksa mengungsi dari rumah mereka.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di sisi lain, seorang wanita di Israel utara tewas akibat tembakan rudal dari arah Lebanon pada hari Selasa. Serangan udara Israel juga menghantam sebuah apartemen di tenggara Beirut, menewaskan seorang bocah perempuan berusia tiga tahun. Kehancuran ini memicu kemarahan warga sipil yang merasa terjepit di antara kepentingan militer dan keselamatan keluarga mereka.
Kejutan Diplomatik: Lebanon Usir Duta Besar Iran
Situasi politik di Beirut mengalami perubahan radikal pada Selasa sore. Pemerintah Lebanon secara resmi menyatakan Duta Besar Iran sebagai persona non grata. Otoritas memberikan tenggat waktu hingga hari Minggu bagi utusan Teheran tersebut untuk meninggalkan negara.
Langkah ini menyusul perintah pemulangan puluhan warga negara Iran lainnya, termasuk staf diplomatik, sepanjang bulan ini. Meskipun demikian, Beirut menegaskan bahwa tindakan ini bukan merupakan pemutusan hubungan diplomatik total. Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, memuji keputusan tersebut sebagai langkah berani. Sebaliknya, Hezbollah mengecam keras kebijakan pemerintah Lebanon yang dianggap memojokkan sekutu utama mereka di tengah agresi asing.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia



















