SANA’A, POSNEWS.CO.ID – Kelompok Houthi di Yaman mengumumkan kesiapan mereka untuk melancarkan serangan di jalur pelayaran internasional Laut Merah. Langkah strategis ini bertujuan untuk memperkuat posisi Iran dalam perang regional yang kian meluas.
Dalam konteks ini, target utama Houthi adalah Selat Bab al-Mandab yang terletak di lepas pantai Yaman. Jalur sempit tersebut merupakan urat nadi utama yang mengendalikan lalu lintas laut menuju Terusan Suez.
Ancaman di Balik Penutupan Selat Hormuz
Kesiapan Houthi muncul saat ketergantungan dunia terhadap Laut Merah meningkat drastis. Hal ini terjadi setelah Iran secara efektif menutup Selat Hormuz bagi ekspor hidrokarbon negara-negara Arab Teluk. Akibatnya, Selat Bab al-Mandab kini menjadi jalur alternatif tunggal yang tersisa bagi pasokan komoditas global.
Seorang pemimpin Houthi menegaskan bahwa pasukannya berada dalam status siaga militer penuh dengan semua opsi terbuka. “Kami sedang memantau perkembangan situasi dan akan menentukan waktu yang tepat untuk bergerak,” ujarnya kepada Reuters. Oleh karena itu, stabilitas ekonomi dunia kini berada dalam ancaman ganda dari dua titik sumbat maritim yang berbeda.
Koordinasi Strategis dengan Teheran
Para diplomat menilai bahwa Houthi sedang menunggu momen yang paling menguntungkan untuk mengintervensi konflik. Dalam hal ini, koordinasi dengan Iran bertujuan untuk memberikan tekanan maksimal terhadap blok Amerika Serikat-Israel. Iran sendiri telah memberikan sinyal akan membuka front baru di Bab al-Mandab jika wilayah teritorialnya terus diserang.
Lebih lanjut, kelompok Houthi mengeklaim bahwa saat ini militer Iran masih mampu mendominasi pertempuran. Namun demikian, jika situasi berbalik merugikan Teheran, Houthi bersumpah akan segera meluncurkan serangan balasan secara masif. “Saat Iran paling membutuhkan kami, saat itulah kami akan bergerak,” tegas salah satu petinggi dewan transisi Yaman di Jenewa.
Bab al-Mandab: “Gerbang Air Mata” yang Mematikan
Selat Bab al-Mandab memiliki lebar hanya 29 kilometer pada titik tersempitnya. Kondisi geografis ini membatasi lalu lintas kapal hanya pada dua saluran navigasi yang sangat rentan. Jalur ini sangat vital bagi pengiriman minyak mentah dari Teluk menuju pasar Mediterania dan Asia, termasuk minyak Rusia.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Terlebih lagi, Houthi memiliki rekam jejak dalam melumpuhkan perdagangan maritim global. Selama perang Gaza tahun 2023-2025, serangan mereka memaksa perusahaan pelayaran besar menghindari Laut Merah. Sebagai hasilnya, biaya logistik dunia melonjak dan memicu inflasi global yang berkepanjangan sebelum akhirnya gencatan senjata tercapai pada Oktober 2025.
Menuju Kelumpuhan Ekonomi Total
Dunia kini menghadapi risiko penghentian arus energi secara total jika front Bab al-Mandab benar-benar pecah. Pada akhirnya, kombinasi blokade Hormuz dan serangan di Laut Merah akan memutus jalur logistik antara Timur dan Barat sepenuhnya. Dengan demikian, keberhasilan diplomasi internasional dalam beberapa hari ke depan akan menentukan apakah ekonomi global mampu bertahan dari kiamat energi di tahun 2026.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia



















