SAMOS, POSNEWS.CO.ID – Di tengah dunia yang terobsesi dengan akumulasi harta dan status sosial, suara dari masa lalu kembali bergema. Epicurus, filsuf dari Samos, menawarkan jalan alternatif menuju kebahagiaan yang jauh lebih tenang. Dalam konteks ini, Epicureanisme bukan tentang pesta pora, melainkan tentang pencarian kedamaian batin di tengah ketidakpastian dunia tahun 2026.
Langkah pertama dalam memahami Epicurus adalah meluruskan definisi “kesenangan”. Oleh karena itu, kita harus membedah mengapa kesenangan yang bijak justru membutuhkan kesederhanaan, bukan kemewahan yang berlebihan.
Meluruskan Miskonsepsi: Ataraxia vs Hura-hura
Banyak orang secara keliru menganggap penganut Epicureanisme sebagai pemuja kenikmatan indrawi yang liar. Namun, Epicurus justru mendefinisikan kesenangan sebagai kondisi tiadanya penderitaan dalam tubuh (Aponia) dan gangguan dalam jiwa (Ataraxia). Bahkan, ia berpendapat bahwa makan roti dan air putih sudah cukup memberikan kesenangan maksimal jika tubuh tidak lagi merasa lapar.
Dalam hal ini, Epicurus membagi keinginan menjadi tiga kategori:
- Alami dan Perlu: Seperti makanan, tempat berteduh, dan persahabatan.
- Alami tapi Tidak Perlu: Seperti makanan mewah atau seks.
- Sia-sia dan Kosong: Seperti ambisi kekuasaan, kekayaan tanpa batas, atau keabadian nama.
Sebagai hasilnya, kebahagiaan sejati dapat kita capai dengan memuaskan kategori pertama dan meminimalkan ketergantungan pada kategori lainnya. Dengan cara ini, kita tidak akan pernah kecewa oleh fluktuasi nasib.
Peran Persahabatan dan Pengetahuan
Epicurus mendirikan “The Garden” (Kebun), sebuah komunitas inklusif di mana budak dan perempuan diperbolehkan belajar filsafat secara setara. Terlebih lagi, ia menegaskan bahwa persahabatan adalah kontribusi terbesar yang pernah filsafat berikan untuk kehidupan yang bahagia. Sahabat memberikan rasa aman emosional yang tidak dapat uang beli.
Selain itu, peran pengetahuan sangat vital untuk menghalau ketakutan. Epicurus mendorong pengikutnya untuk mempelajari sains dan hukum alam. Secara simultan, dengan memahami bahwa alam semesta bekerja berdasarkan mekanisme atom, manusia dapat membebaskan diri dari ketakutan akan campur tangan dewa-dewa yang tidak logis. Pengetahuan berfungsi sebagai alat terapi untuk membersihkan pikiran dari takhayul yang merusak ketenangan batin di tahun 2026.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menghapus Ketakutan akan Kematian
Hambatan terbesar bagi kebahagiaan manusia, menurut Epicurus, adalah ketakutan akan kematian. Oleh sebab itu, ia merumuskan argumen logika yang sangat terkenal: “Maut tidak ada artinya bagi kita.” Logikanya sederhana: selama kita ada, kematian belum datang; dan ketika kematian datang, kita sudah tidak ada lagi.
Bahkan, ia menegaskan bahwa kematian hanyalah kondisi tidak sadar yang sama seperti sebelum kita lahir. Akibatnya, tidak ada alasan rasional untuk takut pada kondisi setelah mati. Dengan menanggalkan beban ketakutan ini, manusia dapat lebih fokus untuk menikmati momen saat ini (carpe diem). Pada akhirnya, pembebasan mental ini membuat seseorang mampu hidup dengan penuh martabat tanpa harus terus-menerus cemas akan akhir hayatnya.
Kebahagiaan dalam Kesederhanaan
Masa depan kesejahteraan psikologis kita sangat bergantung pada kemampuan untuk mengerem keinginan yang tak terbatas. Pada akhirnya, Epicureanisme mengajarkan bahwa “sedikit sudah cukup bagi mereka yang merasa cukup”.
Dengan demikian, dunia memerlukan lebih banyak individu yang memprioritaskan kualitas hubungan manusia dan kejernihan berpikir di atas kemegahan materi. Di tahun 2026, kembali ke “The Garden” berarti merangkul kehidupan yang lambat, intim, dan bebas dari ambisi beracun. Kesenangan sejati adalah saat kita bisa duduk tenang bersama kawan lama, menghirup udara segar, dan menyadari bahwa kita tidak membutuhkan apa-apa lagi untuk merasa utuh.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia



















