Benteng di Bawah Ballroom: Proyek East Wing White House Senilai $400 Juta

Kamis, 2 April 2026 - 09:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pusat komando baru di Pennsylvania Avenue. Pemerintah Amerika Serikat mengonfirmasi peningkatan fasilitas militer besar-besaran. Pembangunan ballroom baru Gedung Putih ini bertujuan menghadapi ancaman drone dan serangan modern. Dok: Istimewa.

Pusat komando baru di Pennsylvania Avenue. Pemerintah Amerika Serikat mengonfirmasi peningkatan fasilitas militer besar-besaran. Pembangunan ballroom baru Gedung Putih ini bertujuan menghadapi ancaman drone dan serangan modern. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Gedung Putih kini bertransformasi menjadi salah satu struktur paling terfortifikasi di dunia. Pemerintah AS mengonfirmasi peningkatan fasilitas militer pada hari Senin. Militer membangun kompleks bawah tanah raksasa di bawah East Wing baru.

Pengumuman ini muncul setelah Presiden Donald Trump memberi informasi terbaru. Ia membahas proyek pembangunan ballroom senilai $400 juta. Pemerintah mendirikan gedung baru ini di atas lahan bekas East Wing yang mereka hancurkan sebelumnya.

Ballroom Mewah Sebagai “Perisai” Kompleks Militer

Presiden Trump memamerkan desain bangunan baru kepada wartawan. Ia menunjukkan desain tersebut di atas pesawat Air Force One pada hari Minggu. Bangunan seluas 8.360 meter persegi tersebut mengusung fitur keamanan mutakhir. Fasilitas ini mencakup kaca antipeluru dan atap tahan serangan drone.

Trump menyebut struktur ballroom berfungsi sebagai penutup fasilitas militer. Fasilitas di bawah tanah itu jauh lebih penting. “Militer sedang membangun kompleks besar di bawah ballroom tersebut,” tegas Trump. Gugatan hukum mengungkap pembangunan bawah tanah ini ke publik. Trump menyebut gugatan tersebut sebagai “tindakan bodoh”.

Baca Juga :  Jejak Kuno Sepak Bola: Evolusi dari Tradisi Tiongkok Tsu’chu Menuju Kelahiran Football Association

Penghancuran Struktur Bersejarah dan Bunker PEOC

Proyek ambisius ini bukan tanpa kontroversi. Presiden memerintahkan penghancuran East Wing yang asli pada Oktober lalu. Di bawah bangunan lama terdapat Presidential Emergency Operations Center (PEOC). Bunker bersejarah ini melindungi para presiden AS dalam krisis nasional.

Langkah penghancuran ini menuai kecaman keras dari berbagai pihak. Anggota parlemen, sejarawan, dan aktivis pelestarian budaya melontarkan protes. Kritikus keberatan atas keputusan pemerintah. Mereka menyayangkan ketiadaan tinjauan federal atau komentar publik yang memadai. Mereka juga mengkritik estetika fasilitas baru. Desain tersebut dianggap merusak nilai historis Pennsylvania Avenue 1600.

Kebutuhan Kapasitas dan Pertimbangan Keamanan Modern

Pemerintah berargumen bahwa peningkatan fasilitas ini sangat mendesak. Pejabat menganggap ruang resepsi saat ini terlalu sempit. Fasilitas tersebut sudah ketinggalan zaman untuk tamu kenegaraan. Arsitek merancang ballroom baru tersebut untuk menampung hingga 1.000 orang.

Baca Juga :  Perang Iran Lumpuhkan Penerbangan Global dan Picu Rekor Harga Avtur

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Faktor keamanan modern menjadi pendorong utama militer dalam merancang kompleks tersebut. Ancaman teknologi drone global terus meningkat. Washington memprioritaskan perlindungan pusat komando dari serangan udara dan fisik. Struktur ini akan menjadi standar baru bagi keamanan kepala negara.

Menanti Keputusan Final Kamis

Masa depan proyek ini bergantung pada keputusan Komisi Perencanaan Ibu Kota Nasional (NCPC). Lembaga tersebut merupakan satu dari dua badan federal untuk persetujuan akhir. Pemungutan suara hari Kamis akan menentukan kelanjutan proyek. Rencana ini bisa berlanjut atau justru menghadapi rintangan hukum.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tatanan Barat Terguncang: Trump Pertimbangkan Keluar dari NATO
Gempa M7,6 Bitung Picu Ancaman Tsunami 3 Meter, Warga Diminta Menjauh dari Pantai
Bareskrim Bongkar Transaksi Sabu Hampir 1 Kg di Morowali, Pelaku Dibekuk Turun dari Bus
Trump Janjikan Perang Iran Berakhir Segera di Tengah Merosotnya Dukungan Publik
Kebakaran Hebat SPBE Cimuning Bekasi, 12 Orang Luka Bakar Parah hingga 70 Persen
Polda Metro Jaya Tak Gentar Digugat Purnawirawan TNI, Siapkan Tim Hadapi Citizen Lawsuit
Sadis! Anak Bunuh dan Mutilasi Ayah di Bulukumba, Motif Sakit Hati Tak Diakui
Detik-detik Gempa Dahsyat di Bitung, Manado Ikut Diguncang, Warga Panik Berlarian

Berita Terkait

Kamis, 2 April 2026 - 10:10 WIB

Tatanan Barat Terguncang: Trump Pertimbangkan Keluar dari NATO

Kamis, 2 April 2026 - 09:51 WIB

Gempa M7,6 Bitung Picu Ancaman Tsunami 3 Meter, Warga Diminta Menjauh dari Pantai

Kamis, 2 April 2026 - 09:35 WIB

Bareskrim Bongkar Transaksi Sabu Hampir 1 Kg di Morowali, Pelaku Dibekuk Turun dari Bus

Kamis, 2 April 2026 - 09:30 WIB

Benteng di Bawah Ballroom: Proyek East Wing White House Senilai $400 Juta

Kamis, 2 April 2026 - 08:59 WIB

Trump Janjikan Perang Iran Berakhir Segera di Tengah Merosotnya Dukungan Publik

Berita Terbaru

Ilustrasi, Aliansi di ambang kehancuran. Presiden Donald Trump secara terbuka mengancam akan menarik Amerika Serikat keluar dari NATO setelah sekutu Eropa menolak pengerahan militer ke Selat Hormuz, memicu krisis keamanan terbesar sejak 1949. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Tatanan Barat Terguncang: Trump Pertimbangkan Keluar dari NATO

Kamis, 2 Apr 2026 - 10:10 WIB