Tatanan Barat Terguncang: Trump Pertimbangkan Keluar dari NATO

Kamis, 2 April 2026 - 10:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Redakan kecemasan sekutu. Presiden Donald Trump terkonfirmasi akan menghadiri KTT NATO di Turki pada bulan Juli, meskipun ketegangan terkait perang Iran masih membayangi aliansi. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Redakan kecemasan sekutu. Presiden Donald Trump terkonfirmasi akan menghadiri KTT NATO di Turki pada bulan Juli, meskipun ketegangan terkait perang Iran masih membayangi aliansi. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Fondasi keamanan Barat yang telah bertahan selama 77 tahun kini berada di ujung tanduk. Presiden Donald Trump mengonfirmasi bahwa ia sedang mempertimbangkan penarikan Amerika Serikat dari keanggotaan NATO pada hari Rabu.

Dalam konteks ini, Trump mengungkapkan rasa muaknya terhadap sekutu Eropa yang ia anggap tidak berkontribusi dalam krisis energi global. “Saya akan membahas rasa muak saya terhadap NATO dalam pidato nasional nanti,” tegas Trump kepada Reuters. Pernyataan ini segera memicu gelombang kekhawatiran di ibu kota negara-negara anggota aliansi tersebut.

Selat Hormuz: Titik Pecah Hubungan Transatlantik

Pangkal perselisihan ini bermula dari penolakan massal negara-negara Eropa untuk terlibat dalam kampanye militer AS terhadap Iran. Trump mendesak sekutu mengirim armada kapal perang guna membuka kembali Selat Hormuz yang terblokade. Namun, negara-negara utama NATO justru mengambil jarak dari konflik tersebut.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menteri Junior Angkatan Darat Prancis, Alice Rufo, mengingatkan bahwa NATO adalah aliansi pertahanan wilayah Euro-Atlantik. “NATO tidak memiliki mandat untuk melakukan operasi di Selat Hormuz. Hal tersebut tidak sejalan dengan hukum internasional,” ujar Rufo. Akibatnya, Trump melabeli NATO sebagai “macan kertas” yang hanya membebani anggaran pertahanan Amerika Serikat.

Baca Juga :  Sikat Sindikat Penipuan Online, Rekening Penipu Kini Bisa Diblokir 15 Menit

Ancaman Pasal 5 dan Masa Depan Ukraina

Situasi semakin genting saat Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menolak untuk menegaskan kembali komitmen Washington terhadap Pasal 5 NATO. Prinsip “serangan terhadap satu anggota adalah serangan terhadap semua” merupakan jantung dari aliansi tersebut. “Anda tidak memiliki aliansi yang kuat jika anggota lain tidak bersedia berdiri di samping Anda saat dibutuhkan,” kata Hegseth.

Lebih lanjut, Trump menggunakan pasokan senjata Ukraina sebagai instrumen tekanan baru. Laporan menyebutkan bahwa Gedung Putih mengancam akan menghentikan pengiriman alutsista ke Kyiv jika sekutu Eropa tidak bergabung dalam koalisi maritim di Teluk. Langkah ini menempatkan keamanan Eropa Timur dalam risiko besar di tengah perang yang masih berkecamuk dengan Rusia.

Boikot Ruang Udara dan Penolakan Pangkalan

Perlawanan Eropa terhadap kebijakan perang Trump di Iran juga merambah ke aspek logistik tempur. Spanyol secara resmi menutup seluruh ruang udaranya bagi pesawat militer AS yang terlibat serangan ke Iran. Bahkan, Italia menolak izin pendaratan pesawat angkut militer AS di pangkalan udara Sigonella, Sisilia.

Baca Juga :  Sejarah Panjang Opium dan Perang Melawan Adiksi

Prancis juga mengambil langkah serupa dengan melarang Israel menggunakan ruang udaranya untuk pengiriman senjata Amerika. Oleh karena itu, militer Amerika Serikat kini menghadapi kendala operasional yang signifikan dalam memobilisasi logistik menuju Timur Tengah. Ketegangan ini mempertegas bahwa sekutu Eropa tidak ingin terseret ke dalam perang yang mereka anggap bersifat unilateral.

Seruan Ketenangan di Tengah Ketidakpastian

Meskipun situasi memanas, sejumlah pemimpin tetap berupaya meredam gejolak. Menteri Pertahanan Polandia, Wladyslaw Kosiniak-Kamysz, mendesak semua pihak untuk tetap tenang. “Tidak ada NATO tanpa Amerika Serikat, tapi tidak ada pula kekuatan Amerika tanpa dukungan NATO,” tegasnya.

Di sisi lain, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer memberikan sinyal pergeseran kebijakan. Starmer menyatakan Inggris akan lebih fokus mempererat hubungan ekonomi dan pertahanan dengan Eropa guna menghadapi ketidakstabilan global ini. Dengan demikian, tahun 2026 menjadi saksi bisu kemungkinan berakhirnya kepemimpinan tunggal Amerika Serikat dalam arsitektur keamanan dunia jika ancaman keluar dari NATO ini benar-benar terwujud.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Perayaan Meriah Festival Sembilan Dewa Kaisar
Fenomena Fesyen Gothic Lolita Jepang Kembali Memikat Hati
Lonceng Perdamaian Cenderamata Jepang Ditemukan Kembali
Hiu Viral Bukang-i Kembali Menerobos Masuk ke Kanal Kota Busan
Pembangunan Kota Vietnam Mengancam Keberadaan Hutan
Tiongkok Tampil Sebagai Pemasok Utama Teknologi Air Global
Ancaman Ruyung dan Tabrakan Mobil Memicu Kekhawatiran
Pelajar dan Guru Turun ke Jalanan Athena Menuntut Hunian Murah

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 09:19 WIB

Perayaan Meriah Festival Sembilan Dewa Kaisar

Selasa, 27 Oktober 2026 - 08:00 WIB

Fenomena Fesyen Gothic Lolita Jepang Kembali Memikat Hati

Selasa, 27 Oktober 2026 - 07:14 WIB

Lonceng Perdamaian Cenderamata Jepang Ditemukan Kembali

Senin, 26 Oktober 2026 - 06:00 WIB

Hiu Viral Bukang-i Kembali Menerobos Masuk ke Kanal Kota Busan

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 14:36 WIB

Pembangunan Kota Vietnam Mengancam Keberadaan Hutan

Berita Terbaru