TEL AVIV, POSNEWS.CO.ID – Pemerintah Israel mulai membuka pintu diplomasi formal guna mengakhiri konfrontasi berdarah di perbatasan utara. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu secara resmi memberikan instruksi untuk memulai perundingan damai dengan Lebanon sesegera mungkin.
Dalam konteks ini, perubahan sikap Netanyahu terjadi setelah serangan udara terdahsyat pada hari Rabu yang merenggut lebih dari 300 nyawa di Lebanon. Tragedi tersebut memicu kecaman global dan ancaman Iran untuk menarik diri dari kesepakatan damai dengan Amerika Serikat.
Tekanan Donald Trump dan Sikap Tegas Sekutu Barat
Presiden Donald Trump mulai menekan Israel agar menurunkan intensitas serangan militernya. Trump menginginkan stabilitas kawasan guna menjamin keberhasilan gencatan senjata yang ia umumkan baru-baru ini. “Saya sudah berbicara dengan ‘Bibi’ dan dia akan bersikap lebih tenang,” ujar Trump dalam wawancara dengan NBC News.
Selain itu, kecaman keras datang dari Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan PM Spanyol Pedro Sanchez. Starmer menegaskan bahwa penghentian agresi terhadap warga sipil adalah masalah prinsip yang tidak bisa Washington abaikan. Sebagai hasilnya, Israel kini bersiap melakukan de-eskalasi militer di tengah pengawasan ketat masyarakat internasional di tahun 2026 ini.
Agenda Perundingan: Pelucutan Senjata Hezbollah
Meskipun bersedia berdialog, Netanyahu menetapkan syarat keamanan yang kaku. Fokus utama negosiasi di Washington pekan depan adalah pelucutan senjata total kelompok Hezbollah. Israel merujuk pada perjanjian tahun 2024 yang menetapkan hanya pasukan resmi Lebanon yang boleh memiliki senjata di wilayah selatan.
Meskipun demikian, pihak Hezbollah secara tegas menolak ide negosiasi langsung tersebut. Anggota parlemen Hezbollah, Ali Fayyad, menuntut gencatan senjata permanen sebagai syarat mutlak sebelum pembicaraan lanjutan dapat terlaksana. Oleh karena itu, efektivitas otoritas pemerintah Lebanon di bawah Presiden Joseph Aoun akan menjadi kunci utama kesuksesan misi diplomatik ini.
Iran dan Kelumpuhan Energi di Selat Hormuz
Di sisi lain, Teheran tetap memperkeras posisinya terhadap Washington dan Tel Aviv. Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, bersumpah untuk membalas kematian ayahnya melalui kontrol ketat di Selat Hormuz. Bahkan, Iran menuntut kompensasi finansial yang masif atas seluruh kerusakan infrastruktur selama perang berlangsung.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Akibatnya, arus logistik energi dunia masih berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Data pelacakan maritim menunjukkan hanya satu kapal tanker yang berani melintasi selat tersebut dalam 24 jam terakhir. Oleh sebab itu, kedaulatan energi global kini menjadi sandera dalam kemelut politik yang kian buntu antara blok AS-Israel melawan poros perlawanan Iran.
Menanti Hasil Pertemuan Washington
Dunia kini menaruh harapan besar pada pertemuan tingkat tinggi di Washington pekan depan. Pada akhirnya, kemampuan Amerika Serikat dalam memoderasi tuntutan Israel dan aspirasi Lebanon akan menentukan peta perdamaian baru.
Dengan demikian, masyarakat internasional memantau apakah Benjamin Netanyahu benar-benar berkomitmen pada jalan damai atau hanya sekadar melakukan manuver politik sesaat. Tanpa adanya kesepakatan yang adil bagi kedaulatan Lebanon, api peperangan di tahun 2026 berisiko berkobar kembali dan menghancurkan setiap upaya diplomasi yang telah pemerintah bangun dengan susah payah.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia



















