AS Umumkan Blokade Total Pelabuhan Iran Pasca-Kegagalan Dialog

Selasa, 14 April 2026 - 09:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Peluang damai dari Buergenstock. Delegasi Amerika Serikat dan Iran menyepakati peta jalan transisi 60 hari guna mengakhiri perang dan memulihkan pasokan energi dunia. Dok: Istimewa.

Peluang damai dari Buergenstock. Delegasi Amerika Serikat dan Iran menyepakati peta jalan transisi 60 hari guna mengakhiri perang dan memulihkan pasokan energi dunia. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Ketegangan di Timur Tengah memasuki babak konfrontasi baru yang lebih agresif. Pemerintah Amerika Serikat secara resmi memerintahkan blokade total terhadap arus keluar-masuk kapal di seluruh pelabuhan dan wilayah pesisir Iran.

Dalam konteks ini, pengumuman Komando Pusat AS (CENTCOM) terbit hanya beberapa jam setelah Presiden Donald Trump memberikan instruksi militer tersebut. Langkah ini merupakan respon atas kegagalan negosiasi tingkat tinggi di Pakistan yang bertujuan mengakhiri perang yang pecah sejak akhir Februari lalu.

Kegagalan Diplomasi 21 Jam di Islamabad

Delegasi Amerika Serikat yang dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance meninggalkan Islamabad tanpa kesepakatan nyata. Meskipun demikian, Vance menegaskan bahwa Washington telah memberikan tawaran terbaik dan terakhir bagi Teheran guna mengakhiri konflik.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kami pergi dengan sebuah proposal sederhana yang merupakan penawaran final kami. Kita akan melihat apakah Iran bersedia menerimanya,” ujar Vance kepada wartawan. Namun, di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melontarkan kritik tajam melalui media sosial X. Ia menuduh Washington menerapkan kebijakan “maksimalisme” dan secara sepihak mengubah target kesepakatan (shifting goalposts) saat kedua pihak sebenarnya sudah sangat dekat dengan perdamaian.

Baca Juga :  Cuaca Jabodetabek Selasa 23 Juni 2026, Sejumlah Wilayah Diprediksi Hujan Ringan

Instruksi Interdisi: Larangan “Tol” Ilegal Iran

Presiden Donald Trump meluapkan kekesalannya terhadap sikap Iran yang dianggap bersikeras mempertahankan ambisi nuklirnya. Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan menoleransi praktik penarikan biaya lintas di perairan internasional oleh Garda Revolusi Iran.

Secara khusus, Trump memerintahkan Angkatan Laut AS untuk mencari dan mencegat setiap kapal yang terbukti membayar upeti kepada Iran. “Tidak ada satu pun kapal yang membayar tol ilegal akan mendapatkan jalur aman di laut lepas,” tegas Trump. Selain itu, militer AS akan segera memulai operasi pembersihan ranjau laut yang ditanam Iran di sepanjang jalur sempit Selat Hormuz guna memulihkan navigasi dunia di tahun 2026 ini.

Dampak Ekonomi: 20 Persen Pasokan Minyak Terancam

Kelumpuhan Selat Hormuz telah menjungkirbalikkan pasar global dan menghancurkan rantai pasok internasional. Arteri maritim ini secara normal mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dunia. Bahkan, jalur ini sangat vital bagi distribusi gas alam cair (LNG), pupuk, dan sumber daya alam strategis lainnya.

Baca Juga :  PM Takaichi Desak Presiden Iran Jamin Keamanan Pelayaran Global di Selat Hormuz

Oleh karena itu, blokade total terhadap pelabuhan Iran diprediksi akan semakin memperkeruh volatilitas harga energi global. Meskipun demikian, CENTCOM memberikan klarifikasi bahwa blokade ini tidak akan menghambat kebebasan navigasi bagi kapal-kapal yang menuju atau berasal dari pelabuhan non-Iran. Langkah selektif ini bertujuan untuk melumpuhkan ekonomi Teheran tanpa mematikan sepenuhnya perdagangan negara-negara tetangga di kawasan Teluk.

Menanti Kepastian di Meja Perundingan

Masa depan stabilitas kawasan kini bergantung pada keberanian Iran untuk kembali ke meja perundingan. Pada akhirnya, Presiden Trump tetap menyatakan keyakinannya bahwa Teheran akan menyerah pada tekanan ekonomi ini karena mereka “tidak memiliki kartu tawar” yang kuat.

Dengan demikian, masyarakat internasional memantau dengan cemas apakah blokade ini akan memicu pertempuran laut terbuka dalam beberapa jam ke depan. Perang energi tahun 2026 ini telah bertransformasi menjadi ujian kedaulatan yang paling berat bagi hukum laut internasional dan ketahanan ekonomi dunia pasca-krisis.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Arab Saudi dan UEA Kompak Tegaskan Persaudaraan
Hakim AS Tunda Penyatuan Raksasa Paramount dan Warner Bros
Andy Burnham Resmi Mengambil Alih Kepemimpinan Inggris
Parlemen Jepang Gagal Sepakati Pemotongan Pajak Makanan
Menlu ASEAN Kumpul Bahas Tensi Hormuz dan South China Sea
9 Warga Sipil Gaza Tewas Akibat Gempuran Udara
Tensi Hormuz Membara: Gempuran Udara dan Rudal Iran
6 Warga Meninggal dan Puluhan Rumah Hancur di Chupaca

Berita Terkait

Rabu, 22 Juli 2026 - 10:00 WIB

Arab Saudi dan UEA Kompak Tegaskan Persaudaraan

Selasa, 21 Juli 2026 - 11:29 WIB

Hakim AS Tunda Penyatuan Raksasa Paramount dan Warner Bros

Selasa, 21 Juli 2026 - 08:30 WIB

Andy Burnham Resmi Mengambil Alih Kepemimpinan Inggris

Senin, 20 Juli 2026 - 22:25 WIB

Parlemen Jepang Gagal Sepakati Pemotongan Pajak Makanan

Senin, 20 Juli 2026 - 21:17 WIB

Menlu ASEAN Kumpul Bahas Tensi Hormuz dan South China Sea

Berita Terbaru

Langkah taktis pereda ketegangan kawasan. Arab Saudi dan UEA meluncurkan pesan persaudaraan serentak di media sosial guna mengakhiri perselisihan geopolitik beberapa bulan terakhir. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Arab Saudi dan UEA Kompak Tegaskan Persaudaraan

Rabu, 22 Jul 2026 - 10:00 WIB