Polisi Ringkus 2 Pelaku Penjual Phishing Tools, Kerugian Tembus Rp350 Miliar

Rabu, 22 April 2026 - 19:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Petugas Bareskrim Polri menunjukkan barang bukti kasus jaringan phishing internasional berupa perangkat komputer dan aset miliaran rupiah.(Posnews/Ist)

Petugas Bareskrim Polri menunjukkan barang bukti kasus jaringan phishing internasional berupa perangkat komputer dan aset miliaran rupiah.(Posnews/Ist)

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri membongkar jaringan internasional penjualan phishing tools yang selama ini jadi “senjata” kejahatan siber global.

Dua tersangka, GWL dan FYT, langsung diringkus. Polisi juga menyita aset hasil kejahatan senilai Rp4,5 miliar.

Kasus ini meledak setelah patroli siber menemukan situs mencurigakan bernama wellstore yang menjual perangkat lunak untuk membobol data korban.

Dari sana, penyidik bergerak cepat, menyusup, dan membongkar jaringan gelap lintas negara.

Jual Alat Bobol Data Sejak 2018

Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Brigjen Pol. Himawan Bayu Aji, mengungkapkan pelaku sudah lama beroperasi.

GWL bahkan mulai merancang phishing tools sejak 2017 sebelum menjualnya secara luas pada 2018.

Pelaku mengemas bisnis ilegal ini lewat sejumlah situs seperti wellstore, wellsoft, dan platform lain.

Baca Juga :  Prabowo Perintahkan Polri Ungkap Pelaku Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selanjutnya, mereka memanfaatkan Telegram sebagai jalur transaksi, komunikasi, hingga pengiriman script ke pembeli.

“Pelaku memproduksi dan menyempurnakan tools ini, lalu menjualnya ke berbagai pihak untuk melakukan akses ilegal,” tegas Himawan.

Polisi Menyamar, Transaksi Pakai Kripto

Wakabareskrim Polri Irjen Pol. Nunung Syaifuddin menegaskan, pengungkapan ini berawal dari operasi senyap.

Penyidik melakukan undercover buy menggunakan aset kripto untuk memastikan fungsi alat tersebut.

Hasilnya mencengangkan. Polisi menemukan ribuan transaksi dan korban tersebar di berbagai negara.

“Penyidik mengidentifikasi 2.440 pembeli sejak 2019 hingga 2024, dengan total korban mencapai 34.000 orang di seluruh dunia,” ungkap Nunung.

Kerugian Tembus Rp350 Miliar

Dampak kejahatan ini tak main-main. Polisi memperkirakan kerugian global mencapai 20 juta dolar AS atau sekitar Rp350 miliar.

Baca Juga :  Sindikat Bobol Dana BOS Rp942 Juta Dibongkar, Polda Sumsel Tangkap 4 Pelaku

Setelah mengantongi bukti kuat, tim langsung bergerak dan menangkap GWL serta FYT di Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Keduanya kini mendekam di Rutan Bareskrim Polri sejak 9 April 2026.

Polri memastikan kasus ini bukan akhir. Penyidik terus mengembangkan jaringan untuk memburu pelaku lain yang terlibat dalam ekosistem kejahatan digital ini.

“Ini komitmen kami memutus rantai kejahatan siber dan melindungi masyarakat di ruang digital,” tegas Nunung.

Polisi juga menggandeng lembaga internasional, termasuk FBI, untuk membongkar jaringan lintas negara yang lebih luas.

Dengan pengungkapan ini, Polri mengirim pesan keras: pelaku kejahatan siber tak lagi aman—di mana pun mereka bersembunyi, akan diburu hingga tuntas. (red)

Editor : Hadwan

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tim Cook di Antara Retorika dan Realitas Geopolitik
9,1 Juta Warga Benggala Barat Kehilangan Hak Pilih Jelang Pemilu
Modus Tanya Alamat Berujung Pembacokan, Pelaku Begal Dibekuk
Buronan Narkoba 2 Wanita Diburu, Polisi Ungkap Peran Licin di Balik Layar
Tekanan Tiongkok Paksa Presiden Taiwan Batalkan Kunjungan ke Afrika
Aliansi Seoul-Washington: Komandan Militer AS Protes Dugaan Kebocoran Data Nuklir Korut
Kepentingan Bisnis di Atas Segalanya: Ceko Tolak Fasilitas Negara untuk Misi ke Taiwan
Gas Bocor Berujung Petaka, Ledakan Dahsyat Lukai Satu Keluarga di Pandeglang

Berita Terkait

Rabu, 22 April 2026 - 21:59 WIB

Tim Cook di Antara Retorika dan Realitas Geopolitik

Rabu, 22 April 2026 - 19:53 WIB

9,1 Juta Warga Benggala Barat Kehilangan Hak Pilih Jelang Pemilu

Rabu, 22 April 2026 - 19:45 WIB

Modus Tanya Alamat Berujung Pembacokan, Pelaku Begal Dibekuk

Rabu, 22 April 2026 - 19:28 WIB

Polisi Ringkus 2 Pelaku Penjual Phishing Tools, Kerugian Tembus Rp350 Miliar

Rabu, 22 April 2026 - 19:10 WIB

Buronan Narkoba 2 Wanita Diburu, Polisi Ungkap Peran Licin di Balik Layar

Berita Terbaru

Melampaui bayang-bayang Steve Jobs. Tim Cook mentransformasi Apple dari raksasa perangkat keras menjadi kekuatan layanan digital bernilai $4 triliun, sembari menavigasi sengketa dagang global dan transisi teknologi AI di tahun 2026. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Tim Cook di Antara Retorika dan Realitas Geopolitik

Rabu, 22 Apr 2026 - 21:59 WIB

Ilustrasi, Demokrasi di bawah ancaman. Revisi daftar pemilih yang kontroversial di Benggala Barat mengakibatkan penghapusan masif hak pilih minoritas, memicu tuduhan manipulasi sistemik dan kegagalan algoritma AI dalam mengenali identitas warga tahun 2026. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

9,1 Juta Warga Benggala Barat Kehilangan Hak Pilih Jelang Pemilu

Rabu, 22 Apr 2026 - 19:53 WIB